Konflik Laut Cina Selatan

Siapa di Balik Rencana Operasi Kapal Perang Jepang di Laut Cina Selatan?

0
120
Kapal Perang Jepang, Izumo. Foto: Reuters

Nusantara.news, Tokyo – Kawasan Laut Cina Selatan (LCS) seolah tak pernah sepi dari isu konflik kepentingan. Setelah sebelumnya, dua kekuatan dunia Cina dan Amerika Serikat (AS) saling “berebut” eksistensi di kawasan perairan perdagangan strategis ini, namun belakangan mulai mereda, kini giliran Jepang berencana unjuk gigi di LCS.

Jepang sebetulnya bukanlah pihak yang terkait dalam sengketa LCS baik dengan Cina maupun dengan negara lain. Jepang tidak memiliki klaim ke perairan LCS, meskipun secara terpisah negeri sakura itu bersengketa dengan Cina di Laut Cina Timur.

Tapi kenapa Jepang pada bulan Mei mendatang berencana mengirim kapal perang terbesarnya untuk sebuah misi operasi selama tiga bulan di LCS?

Izumo yang memiliki panjang 249 meter itu, mampu mengangkut hingga sembilan buah helikopter meskipun deknya tidak digunakan untuk meluncurkan jet tempur atau pesawat jenis lain.

Apa yang diinginkan Jepang dari kawasan ini? Apakah semata karena merasa bertanggung jawab menjaga stabilitas kawasan, akibat Cina mengklaim seluruh kawasan LCS sebagai wilayahnya? Atau Jepang, sekutu AS ini, “disuruh” Paman Sam untuk mengirim sinyal keras ke Cina terkait eksistensi AS di LCS.

Mungkin AS ingin mengatakan, “AS masih ada loh di LCS,  lihat tuh  Jepang kirim kapal perang,” semua tahu, Jepang adalah sekutu abadi AS di kawasan Asia.

Kapal perang Jepang di LCS, nantinya akan bergabung dalam latihan perang laut di Malabar bersama AL India dan AS di Samudera Hindia pada Juli mendatang.

Sebagaimana dilansir Reuters (14/3) kapal perang tersebut akan kembali ke negerinya hingga bulan Agustus mendatang.

“Tujuan dari penugasan ini adalah menguji kemampuan Izumo dalam sebuah misi jangka panjang,” ujar salah satu sumber yang mengetahui rencana ini.

LCS sejak dulu menjadi kawasan konflik yang seksi, setelah Cina mengklaim hampir seluruh kawasan perairan seluas tiga juta kilometer persegi itu. Selain China, beberapa negara lain yaitu Taiwan, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam juga mengklaim sebagian wilayah di lautan itu.

LCS jadi rebutan selain karena merupakan jalur lalu lintas perdagangan internasional strategis (USD 5 triliun per tahun) yang juga menyimpan kandungan minyak dan gas. Belum lagi memiliki kekayaan hayati laut yang kaya.

Menteri Luar Negeri Australia (Australia sekutu AS juga) Julie Bishop, mendukung “hak semua bangsa” untuk berlayar melalui perairan internasional di kawasan LCS.

Menurut dia, langkah Jepang mengirim Izumo ke perairan LCS juga sekaligus secara psikologis untuk meyakinkan negara-negara sekutu AS yang lain, yang selama ini khawatir AS akan “meninggalkan” kawasan ini di tengah ketakutan pengendalian kekuatan strategis Cina di kawasan ini.

“(Ini ingin menunjukkan) Donald Trump masih berkomitmen terhadap Asia,” kata sejumlah pengamat Australia.

Asisten menteri luar negeri AS Susan Thornton, Senin malam mengatakan, pemerintahan Trump akan membuat poros di kawasan tersebut, yang menggambarkan rencana jangka panjang untuk memusatkan perhatian militer, diplomatik dan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.

Ben Schreer, kepala Departemen Studi Keamanan dan Kriminologi Macquarie University, mengatakan, keputusan Jepang mengirim Izumo ke LCS mencerminkan keinginan Jepang sebagai sinyal bahwa Washington akan melakukan kendali militer yang lebih di Asia. Hal ini pada gilirannya bertujuan mendorong AS untuk tetap terlibat di kawasan Asia.

“Izumo, adalah kapal perang Jepang yang paling kuat sehingga dengan begitu mengirimkan pesan ke Amerika bahwa Jepang batas bersedia melakukan lebih, dan mendapatkan kepastian Amerika sebagai imbalannya,” kata Profesor Schreer.

Bishop, dalam sebuah pidato di Singapura Senin lalu mengatakan, bahwa banyak negara di Asia yang berada dalam ‘satu holding strategis’ menunggu apakah AS akan tetap berkomitmen untuk wilayah tersebut. Dia meminta pemerintah Trump untuk memainkan peran yang lebih besar sebagai kekuatan strategis yang sangat diperlukan di Indo-Pasifik.

Euan Graham dari Lowy Institute mengatakan, langkah Jepang ini terlalu berani tapi bagaimanapun kebeberanian Jepang akan tergantung pada AS.

Sementara itu, pemerintah Cina mengatakan, pihaknya menunggu pernyataan resmi dari Tokyo mengapa mereka mengirim kapal perang seberat 24 ribu ton melalui kawasan perairan yang tengah disengketakan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying mengatakan Beijing tidak diberi tahu tujuan perjalanan kapal perang Jepang itu dan mengatakan mereka hanya akan keberatan jika kapal tidak melewati perairan ‘normal’.

“Kami belum mendengar pernyataan Jepang secara resmi,” katanya dalam jumpa pers hari Selasa lalu.

“Jika itu hanya kunjungan biasa, pergi ke beberapa negara, dan melewati jalur biasa di Laut Cina Selatan, maka kita tidak keberatan, dan kami berharap ini semacam kerja sama biasa antara negara-negara yang dapat berperan relevan mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional.”

“Tapi kalau ke Laut Cina Selatan memiliki niat berbeda, maka itu hal yang berbeda.” Katanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here