Siapa pun Calonnya, Sosok Ini Penentu Kemenangan Pilgub Jatim

0
183

Nusantara.news, Surabaya – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan resmi mengusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas sebagai calon gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan kepala daerah Jawa Timur. Tampaknya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sudah sreg dengan pasangan itu. Mereka dipilih PDIP karena rekam jejak yang baik.

Gus Ipul, di mata Mega, sudah dikenal sejak lama. Keponakan almarhum Gus Dur itu dititipkan ke Mega saat usianya masih remaja. Jadi Mega sangat paham dengan karakternya. Sedangkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas disebutnya sosok yang cerdas dan lincah. Tahu bagaimana menjalankan konsep trisakti Bung Karno.

Bagaimana dengan kompetitornya, Khofifah Indar Parawangsa. Dia tidak masuk radar PDIP. Tapi, Khofifah punya kans besar. Sebab dia orangnya Presiden Joko Widodo. Golkar dan Nasdem sudah merapat. Tinggal Partai Demokrat yang masih menimbang. Namun dari perjalanan Khofifah dan Demokrat, sepertinya sudah terjadi deal antar keduanya. Apa itu? Entahlah. Yang jelas pendaftaran Khofifah ke partai tersebut, tentu juga atas arahan Jokowi. Mungkinkah SBY dan Jokowi sudah deal? Bisa jadi.

Seandainya Demokrat mengusung Khofifah, maka ini akan menjadi pertarungan sengit. Bersuanya Demokrat versus PDIP seperti mengulang sejarah. Semua tahu Demokrat dan PDIP tidak pernah berada dalam satu lingkaran. Dua partai ini susah bersatu. Kalaupun bertempur, pasti ada salah satunya ada yang kalah. Itu pasti. Namun dalam Pilgub Jatim, Demokrat tampaknya ingin menghilangkan keegoisannya dengan mendekati Jokowi. Sosok Khofifah mungkin telah memukau partai berlambang mercy tersebut.

Sama halnya dengan PDIP, Demokrat kemungkinan akan rela memilih calon bukan dari kader sendiri, yakni dari Nahdlatul Ulama (NU). Sebab dua sosok ini Gus Ipul dan Khofifah memiliki rekam jejak sepadan dan sangat menguntungkan. Hanya saja, lagi-lagi Demokrat tetap menolak bila disandingkan dengan PDIP. Pilihannya, ya bertarung.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati selama ini belum juga berdamai. Padahal keduanya sangat menentukan peta perpolitikan selepas pemilihan presiden berakhir, bahkan meski tidak akur sekalipun.

Tidak diragukan lagi, Pilgub Jatim adalah pertarungan dua partai. Gengsi pertarungan keduanya membuat yang lain disisihkan. Sumber Nusantara.News menyebut, Demokrat-PDIP akan saling bantai di Pilgub Jatim. Dalam hal apapun, keduanya tidak bisa disatukan.

Ini justru menguntungkan calon lain. Jika Demokrat, Golkar, Nasdem, Hanura, dan PPP mengusung Khofifah, sedang PDIP dan PKB dengan Gus Ipul-Anas, maka akan ada Gerindra, PKS dan PAN yang akan mengusung La Nyalla Mattalitti. Secara empiris, partai besutan Prabowo Subianto itu tidak akan mengusung Khofifah maupun Gus Ipul. Sebab baik Gus Ipul dan Khofifah (siapapun yang menang) tidak punya komitmen memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019.

“Gerindra sampai sekarang menunggu langkah Demokrat. Karena Gerindra pasti akan memilih calon sendiri. Tidak mungkin memilih keduanya (Gus Ipul atau Khofifah) karena tidak punya komitmen memenangkan Prabowo di Pilpres 2019,” ujar sumber.

Pilkada Jatim 2018 sangat kuat kaitannya dengan Pilpres 2019. Karena itu dalam memandang kontestasi Pilkada Jatim juga harus berbanding lurus dengan kepentingan politik nasional, mengingat Jatim merupakan barometer politik nasional.

Adanya kejelasan kompetitor, membuat Gerindra diuntungkan dari pertarungan Demokrat versus PDIP. Sebab, Gerindra hampir pasti mengusung La Nyalla Mattalitti. Ya, partai dengan pemilik 13 kursi di Jatim itu tentu memiliki posisi tawar untuk mencalonkan figur lain. Tapi yang pasti Gerindra tidak akan mengusung pasangan Gus Ipul-Anas, Gerindra juga tidak mengusung Khofifah,

Dijelaskan sumber, jika Gerindra ikut mendukung Gus Ipul-Anas, maka partainya hanya berstatus ikut-ikutan saja. Jika Partai Gerindra hanya ikut-ikutan, maka proses konsolidasi partai tidak berjalan. Alasan lain, selama ini Khofifah capnya loyalis Jokowi, tentu itu akan berpengaruh di kampanye Pilpres 2019 untuk Prabowo. Karena itu Gerindra menginginkan ada calon sendiri. Dalam arti, Gerindra ingin membuka peluang adanya tiga pasang calon dalam Pilgub Jatim. Dan sosok La Nyalla Mattalitti adalah pilihannya.

Di internal Gerindra, peluang mencalonkan La Nyalla saat ini sudah terbilang 90 persen. Partai Gerindra siap untuk mengajukan La Nyalla, namun hal itu juga tergantung komunikasi pihaknya dengan partai lain. Bahkan Prabowo Subianto sudah mengizinkan untuk pasang gambar La Nyalla dengan Prabowo. Hanya saja, Gerindra tidak bisa sendiri. Melainkan, harus berkoalisi untuk memenuhi kursi pencalonan.

Reklame bergambar La Nyalla dan Prabowo di Banyuwangi.

Dalam hal ini, beberapa partai siap untuk diajak berkomunikasi agar bisa mengusung La Nyalla sebagai calon. Seperti Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Bulan Bintang (PBB) masih membuka pintu koalisi dengan calon-calon yang ada. Tiga partai itu diyakini masih membuka peluang untuk ikut mengusung La Nyalla.

 

Politik Balas Budi Soekarwo

Dalam pertarungan Pilgub Jatim, sebenarnya sosok Soekarwo juga layak diperhitungkan. Gubernur Jawa Timur dua periode dinilai memiliki jaringan kuat di birokrasi se-Jawa Timur. Jangan diremehkan, jika di akhir masa jabatannya, dia akan memaksimalkan mesin birokrasi untuk memenangkan calon penggantinya. Jadi, pertarungan Pilgub Jatim ini sebenarnya pertarungan Pakde Karwo untuk mengamankan posisinya setelah tidak lagi menjabat.

“Pilgub Jatim bisa jadi pertarungan dua partai, tapi penentu kemenangan tetap di tangan Soekarwo,” terang sumber.

Ditambahkan sumber, baik Khofifah, Gus Ipul dan La Nyalla, semuanya sudah masuk dalam hitungan Soekarwo. Terutama Khofifah, dia sudah masuk perangkap kendali Soekarwo. Sayangnya, ketua DPD Demokrat Jatim tersebut dinilai masih ragu-ragu dengan komitmen Khofifah seandainya menang nanti.

“Dengan Khofifah (menang), Soekarwo tidak merasa aman. Sebab dia telah dua kali mempecundangi Khofifah. Diprediksi friksi-friksi itu masih tetap ada,” tuturnya.

Masa 10 tahun bukan waktu singkat bagi Khofifah untuk melupakan kekalahan yang dideritanya. Apalagi masih membekas dalam ingatan bagaimana dia merasa dicurangi pada Pilgub Jatim 2013, terutama di wilayah Madura.

Partai Demokrat boleh saja memilih Khofifah, namun tidak bagi Soekarwo. Dia tidak akan mengambil risiko. Sehingga pilihannya, memenangkan Gus Ipul atau La Nyalla.

Untuk Gus Ipul, Pakde Karwo sudah 10 tahun bermesraan. Keduanya tahu seluk beluk masing-masing, termasuk keburukannya. Pertimbangannya, andai suatu hari Soekarwo dipersoal, dia bisa menyeret rekannya tersebut. “Kalau mau aman, Soekarwo akan pilih Gus Ipul karena sudah lama menjadi wakilnya dan sama-sama tahu. Jika Gus Ipul menang, Soekarwo dipastikan aman, dan tidak terusik,” sebut sumber.

Namun bukan berarti Soekarwo akan aman 100 persen. Pasalnya, Gus Ipul tetap dikendalikan partai pengusungnya selama menjabat gubernur nanti.

Justru dia akan aman jika menjatuhkan pilihan ke La Nyalla, imbuh sumber. Secara empiris, hubungan Soekarwo dan La Nyalla sangat kuat. Sebelum menjadi gubernur hingga sekarang, La Nyalla selalu memberi support ke Soekarwo.

Di Pilgub 2008 lalu, La Nyalla memang sempat berada di barisan pendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mujiono (KaJi). Namun di Pilgub 2013, La Nyalla justru memback up penuh pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Menurutnya, lima tahun lalu, ia memang mendukung Khofifah di Pilgub yang berlangsung tiga putaran itu. Namun menjelang putaran ketiga ia diminta tidak muncul karena dianggap akan merusak dukungan untuk ke Khofifah.

Dia nurut, tapi ternyata Khofifah tetap kalah. Kemudian La Nyalla bersama Soekarwo dan Gus Ipul. Hasilnya, menang. Saat itu menurut La Nyalla, kemenangan KarSa adalah kemenangan rakyat Jawa Timur. Masyarakat Jawa Timur telah memilih pasangan yang terbaik.

Nah, di Pilgub 2013 tersebut, La Nyalla memback up penuh dalam branding pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf. Hampir di seluruh pelosok Jawa Timur terdapat alat kampanye KarSa yang diback up oleh Lembaga La Nyalla Academia.

Lembaga ini juga memberikan dukungan kepada KarSa melalui iklan di media cetak dan elektronik. Tak hanya, sejumlah gathering dengan dunia usaha, aktivis pemuda dan pertemuan Soekarwo dengan tokoh informal Madura juga dilakukan oleh lembaga tersebut.

Sekarang kondisinya terbalik. Giliran La Nyalla yang maju. Apakah Soekarwo akan berpaling begitu saja dari rekan sejawatnya tersebut?

“Paling aman Soekarwo pilih La Nyalla. Sebab kemenangan La Nyalla akan menjadi kemenangan Soekarwo. Soal kebijakan, Soekarwo masih bisa saling negosiasi dengan La Nyalla meski tidak menjabat,” ujar sumber.

Politik balas budi tampaknya tidak bisa dilupakan Soekarwo. Selain itu, mencari posisi aman dan mengendalikan roda pemerintahan masih bisa dilakukan asal penggantinya cocok. Dalam pertarungan Demokrat melawan PDIP, posisi La Nyalla sebagai ‘kuda hitam’ paling diuntungkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here