Siapa yang Bodoh Banget, Bapak Presiden?

0
344

PRESIDEN Jokowi rupanya sedang marah banget, sehingga terlontarlah kata-kata “bodoh banget” dalam pidatonya. Ini berkaitan dengan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia. Kalimat itu terucap ketika membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi yang diadakan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 12 Maret 2019.

“Defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan membebani kita berpuluh-puluh tahun tapi tidak diselesaikan. Padahal kuncinya kita tahu, investasi dan ekspor. Kuncinya di situ. Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu. Kok enggak kita selesaikan? Bodoh banget kita kalau seperti itu,” katanya.

Apa yang disampaikan Presiden itu sungguh benar adanya. Bodoh banget, memang. Bagaimana tidak bodoh banget, masalahnya diketahui, kunci penyelesaiannya diketahui, tapi tak diselesaikan. Lebih kebangetan lagi kalau kebodohan itu berlangsung berpuluh-puluh tahun, seperti kata Jokowi.

Seandainya yang berbicara itu seorang pengamat ekonomi independen yang bukan bagian dari pemerintahan, tentu analisis seperti itu akan kita amini sebagai kritik keras. Tapi, kalau Presiden yang bicara, di mana mestinya meletakkan konteks ucapannya? Kalau itu dilihat sebagai kritik, siapa yang dikritik? Wong semua orang tahu banget, bahwa presiden adalah pemimpin tertinggi pemerintahan. Presiden bertanggungjawab atas seluruh pengelolaan negara ini. Menyehatkan transaksi berjalan dan neraca perdagangan hanyalah sebagian kecil dari tanggungjawab presiden.

Atau mungkinkah ini bukan kritik, tapi –seperti kata peribahasa—menepuk air di dulang? Mungkin juga. Sebab, bisa jadi yang terpercik adalah muka Presiden sendiri. Apalagi Presiden Jokowi menyebut kebodohan itu berlangsung berpuluh tahun sampai sekarang –atau hingga bulan-bulan terakhir pemerintahannya. Katakanlah seluruh rezim pemerintahan, mulai dari Sukarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono, melakukan kebodohan abadi itu. Tetapi, mengapa kebodohan itu tetap dipelihara dalam empat tahun lebih pemerintahan Jokowi? Padahal, Jokowi tahu kunci penyelesaiannya?

Salah satu kuncinya Jokowi sudah memerintahkan  semua jajaran pemerintahan di pusat maupun di daerah untuk mempermudah proses izin usaha. Karena ekspor adalah kunci pertumbuhan ekonomi, maka harus dipermudah perizinan seluruh industri yang berorientasi ekspor maupun industri yang melalukan hilirisasi. Atau memberikan insentif tax holiday. Misalnya, untuk industri petrokimia. “Kita sudah sampaikan ke Menkeu, kalau ada industri petrokimia (yang minta izin), tutup mata, beri tax holiday. Dan tak perlu pikir lama-lama, dari pada kita defisit,” ujar Presiden.

Oh, rupanya Presiden sudah memerintahkan menggunakan kuncinya, namun respon jajarannya tidak seperti yang diharapkan. Buktinya,  setelah empat tahun berkuasa Presiden masih marah: Kok enggak kita selesaikan?

Kita tak dapat memastikan, apakah perintah Presiden diabaikan bawahannya. Mungkin juga sih, sebab kalau perintahnya sudah dijalankan, takkan mungkin Presiden semarah itu?

Kalau begitu, ini bukan semata soal “bodoh banget”, tapi juga menyangkut efektivitas perintah. Sebab, kalau disederhanakan, tugas Presiden hanya satu: Jangan lupa memberi perintah. Setelah titah disabdakan, jangan pula lupa melihat apakah perintahnya benar-benar dijalankah. Ini artinya, koordinasi harus mantap. Kalau koordinasi lemah, perintah bisa tinggal perintah. Presiden bisa mengeluarkan seribu perintah setiap saat, tetapi jika tidak dikoordinasi, anak buah akan bertindak sebaliknya.

Mungkin Presiden pernah mendengar istilah stick and carrot, mekanisme pemberian reward and punishment dalam manajemen agar kinerja lembaga bisa dipacu. Terapkan saja rumus itu dalam manajemen pemerintahan. Kekuasaan ada di tangan Presiden. Toh negara kita menganut sistem pemerintahan presidensial. Presiden punya kuasa penuh merombak susunan pembantunya, jika ada yang tak menjalankan perintah.

Gunakan dong, agar tak “bodoh banget kita”…[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here