Konflik Laut China Selatan

Siapkah Cina Hadapi Konflik dengan AS?

0
102
Foto: Reuters

Nusantara.news, Jakarta – Cina boleh lega, setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang baru, James Mattis meredakan ‘perang retorika’ soal Laut Cina Selatan dengan pernyataan akan lebih mengedepankan diplomasi ketimbang aksi militer.

Mattis mengungkapkan pernyataannya dalam lawatan pertamanya sebagai Menhan AS ke wilayah Asia di Tokyo, Jepang pekan lalu.

Sebelumnya, perang retorika soal konflik Laut Cina Selatan antara AS-Cina sempat memanas selepas pelantikan Presiden Donald Trump. Dimana saat itu calon Menlu AS Rex Tillerson kembali menyatakan di depan Kongres bahwa aktivitas Cina di atas sejumlah wilayah kepulauan di Laut Cina Selatan adalah ilegal. Tillerson mengacu keputusan Mahkamah Internasional Den Haag yang memutuskan Cina tidak berhak atas klaim kepulauan yang disengketakan dengan Filipina itu.

Menlu Cina Lu Kang bereaksi atas pernyataan Tillerson dan meminta agar AS tidak ikut campur dengan masalah sengketa Laut Cina Selatan. Namun, Gedung Putih menanggapi dengan pernyataan bahwa AS akan menjaga kepentingannya di jalur-jalur internasional, termasuk di jalur Laut Cina Selatan sebagai perlintasan perdagangan internasional strategis.

Menyusul kunjungan Mattis ke Jepang, Cina menyambut usulan Menhan AS itu. Menlu Cina Lu Kang menyatakan bahwa diplomasi mesti menjadi prioritas utama dalam penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan.

Namun demikian, Mattis saat berbicara di Tokyo pada Sabtu (4/2) bernada menyalahkan Cina karena negara itu ‘memecah-belah’ rasa saling percaya antarnegara di kawasan tersebut.

Pernyataan Mattis dibuat setelah sejumlah pengamat memperkirakan kemungkinan kegiatan militer, bahkan blokade dari angkatan laut AS di wilayah Laut Cina Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Menurut Mattis, kegiatan militer AS di Laut Cina Selatan juga sebaiknya tidak dianggap sebagai upaya mengganggu keberadaan Cina di perairan tersebut.

Meski ketegangan Cina-AS agak mereda, tapi tidak menutup kemungkinan akan memanas kembali di lain waktu, mengingat kepentingan kedua negara (AS-Cina) di kawasan Laut Cina Selatan sama-sama besarnya.

Desember 2016 lalu, setelah Presiden Trump bertelepon dengan Presiden Taiwan yang memicu kemarahan Cina, Cina mengirimkan kembali kapal induk Liaoning disertai dengan 5 kapal perang lainnya ke kawasan Laut Cina Selatan.

Tapi siapkah Cina untuk head to head secara militer dengan AS jika konflik Laut Cina Selatan memanas lagi? Seberapa besar kekuatan militer Cina dibanding AS?

Sejumlah pengamat militer AS belum mampu mengukur secara pasti kemampuan militer Cina saat ini. Sampai retorika keras Beijing terhadap AS soal Laut Cina Selatan kegiatan militer Cina di kawasan tersebut masih berlanjut.

Namun Jeffrey Engstrom, analis kebijakan senior di RAND dapat memperkirakan angkatan laut Cina tidak sekuat dan selengkap AS.

Liaoning adalah satu-satunya kapal induk di armada angkatan laut Cina. Kapal ini pertama kali dibangun untuk AL Soviet dan diluncurkan di Ukraina pada tahun 1988, tetapi tidak pernah sepenuhnya selesai. Kapal tersebut lalu ditingkatkan dan dimodernisasi untuk Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Angkatan Laut, yang diluncurkan pada 2012.

Liaoning lebih kecil dari kapal induk AS dan tidak dapat membawa banyak pesawat. Kapal ini juga masih menggunakan ski jump sebuah sistem untuk meluncurkan pesawat. Sistem ini membatasi ukuran pesawat yang dapat diluncurkan serta berapa banyak senjata yang dapat dimuat ke pesawat.

Menurut kelompok riset berbasis di AS CSIS, Liaoning dapat membawa hingga 24 jet tempur dan sekitar 12 helikopter.

Bandingkan dengan AS, saat ini kapal perang kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS dapat membawa lebih dari 60 pesawat. Salah satunya, adalah USS Ronald Reagan yang ditempatkan di wilayah Jepang.

Denny Roy peneliti senior East-West Center yang berbasis di Hawaii mengatakan, Cina semakin memiliki banyak pengalaman dalam mengoperasikan Liaoning sembari membangun armada kapal barunya sendiri.

“Kami memahami bahwa Liaoning dimaksudkan untuk pelatihan. Belajar  mengoperasikan sebuah kapal induk memakan waktu bertahun-tahun, itu sangat rumit,” jelas Roy sebagaimana dilansir VOA.

Namun Roy juga menduga Cina tengah membuat kapal induk yang lebih maju. “Kami kira, Cina dalam pembangunan armada yang lebih besar dan lebih mampu lagi. Dan ini dimaksudkan agar benar-benar siap untuk melawan (musuhnya),” katanya. Tapi, apapun kata Roy, armada baru yang dibangun Cina tidak akan memiliki kemampuan melebihi armada baru yang sedang dibangun AS.

AS saat ini sedang membangun kapal induk baru kelas Gerald R. Ford senilai USD 13 miliar, lebih besar dari kelas Nimitz. Kapal induk tersebut dapat membawa lebih dari 4.500 orang dan setidaknya 75 pesawat. Kapal induk terbaru tersebut direncakan dapat beroperasi pada 2017 ini.

Tapi bagi Jeffrey Engstrom, meskipun kemampuan Liaoning terbatas, kapal induk itu adalah simbol yang penting dari kemajuan angkatan laut Cina. Simbol bahwa Cina adalah kekuatan besar karena memiliki sebuah kapal induk.

Siapkah Cina berhadapan secara militer dengan AS? Siap atau tidak, tentu bukanlah pertanyaan itu yang diharapkan. Bagaimanapun, upaya diplomatik non-perang adalah yang utama. Sebab kata diplomat kawakan Henry Kissinger, “Jika AS dan Cina berperang satu sama lain, seluruh dunia akan terbagi dengan sendirinya.” Dan, tentu kita tidak ingin itu benar-benar terjadi. [ ] (berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here