Ancaman Populisme Bagi China

Sikap Jepang Terhadap Gejala Dominasi China di Indonesia

0
618

Presiden Soeharto menjadikan pembangunan sebagai ideologi, dikenal dengan Trilogi Pembangunan: stabilitas nasional, pertumbuhan, dan pemerataan pembangunan. Asumsinya, dengan keamanan nasional yang kondusif akan diperoleh iklim investasi yang mampu membangun Indonesia di segala sektor.

Oleh karena itu di tahun awal pemerintahan Orde Baru, dilahirkan UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang menjadi pintu masuk investasi asing di Indonesia.

Pasca-reformasi dominasi Jepang surut, dan di pemerintahan Joko Widodo investasi asing terkesan akan didominasi oleh China. Walaupun dari segi rangking sampai tahun 2016 investasi China baru berada di urutan ke-4 setelah Singapura, Jepang dan Hong Kong.

Gejala yang terjadi adalah persaingan Jepang (dibantu Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump) dengan China di Asia, tentu tidak akan seperti membalik telapak tangan, sebagaimana terjadi di Afrika. Saat itu, China mengambil alih keberadaan Perancis karena negara-negara Eropa terimbas ekses American Bubble (subprime-mortgage) tahun 2008.

China di Afrika saat ini sangat perkasa dengan skema investasi “turnkey project”, dimana China melakukan investasi satu paket sehingga pengendalian investasinya aman dan menguntungkan China. Saat ini Zimbabwe dan Angola yang menerima bantuan dari China tidak berhasil membangun kedua negara tersebut secara win-win solution, sehingga tidak sanggup membayar utang dan dipaksa menggunakan Yuan/RMB sebagai mata uang di kedua negara tersebut.

Perlu diantisipasi oleh Indonesia, ruang kosong yang kemungkinan akan ditinggalkan oleh Amerika Serikat di Asia sebagai polisi dunia dan stabilisator moneter dunia yang memberi peluang kepada China untuk mendominasi pembangunan Asia.

Jepang dan Korea Selatan adalah saingan utama dalam memperebutkan pasar di Asia, sehingga setelah Donald Trump dilantik pada 20 Januari 2017 lalu, perubahan geopolitik dan geoekonomi di Asia semestinya menjadi perhatian khusus pemerintahan Joko Widodo.

Jepang yang semenjak awal Orde Baru setia mendampingi dalam membangun Indonesia, terkesan ‘diabaikan’ perannya oleh Pemerintahan Joko Widodo. Kasus kereta cepat Jakarta – Bandung yang dimulai dari era pemerintahan SBY, kesannya seolah-olah diambil alih begitu saja oleh China sebagai investornya.

Investasi lain seperti Blok Masela yang dikuasai oleh INPEX (Jepang) awalnya berproses ke arah offshore justru diputuskan secara onshore lewat keputusan Presiden Joko Widodo.

Pemerintah Indonesia berpaling ke China karena Jepang melakukan konsolidasi internal sebagai ekses dari American Buble (subprime mortgage) tahun 2008 dengan melakukan berbagai strategi, salah satunya relokasi industri.

Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang belum pulih ekonominya sejak krisis mata uang tahun 1997. Jepang—khususnya industri otomotif dan elektroniknya—di Indonesia kembali menjadi pemegang saham terbesar dan mengendalikan perusahaannya, berbasis konsolidasi kepentingan perekonomian nasional Jepang.

Setelah itu, industri otomotif Indonesia direlokasi ke Thailand dan industri elektronik sebagian ke negara-negara Asean lainnya. Pemerintah Jepang merasa pemerintah Joko Widodo tidak “bersahabat” terkait kebijakan investasi negeri sakura di Indonesia.

Setelah sempat sedikit merenggang, karena Donald Trump menuduh Jepang melakukan devaluasi mata uang untuk meningkatkan daya saing di sektor perdagangan, dan Amerika menarik diri dari Trans Pasific Partnership (TPP), hubungan Presiden Trump dan PM Jepang Shinzo Abe kembali hangat. Terutama setelah kedua pemimpin negara bertemu dan melakukan pembicaraan soal kerja sama. Keduanya tampak akrab, dan pertemuan dinilai positif.

China, yang baru saja meredakan ketegangan dengan Amerika di bawah Presiden Trump, setelah Trump beberapa kali membuat China marah dengan sejumlah pernyataan, tentu terus mengawasi secara ketat setiap perkembangan kerja sama Amerika-Jepang, karena akan mempengaruhi strategi persaingan China di tingkat dunia maupun Asia, termasuk di Indonesia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here