Siklon Tropis Cempaka Terjang 28 Daerah, 19 Orang Meninggal

0
439
Pemandangan saat banjir merendam sejumlah desa dan kelurahan termasuk pusat Kota Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/ama/17

Nusantara.news, Jakarta – Siklon tropis cempaka yang menyebabkan hujan lebat dan angin kencang menerjang sedikitnya 28 Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tercatat 19 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Mengutip keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di antara ke-28 Kabupaten/Kota itu masing-masing Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo, Sleman, Yogyakarta, Kudus, Semarang, Wonosobo, Boyolali, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Magelang, Purworejo, Cilacap, Sukabumi, Serang, Situbondo, Sidoarjo, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Magetan, Malang dan Klungkung.

Ada pun daerah yang parah diterjang banjir, tanah longsor dan angin puting beliung adalah seluruh wilayah Provinsi DIY, Wonogiri, Pacitan, dan Ponorogo. Daerah-daerah itu berjarak paling dekat dengan Siklon Tropis Cempaka. Pada Selasa (28/11), siklon ini hanya berjarak 32 km sebelah selatan-tenggara Pacitan, Jawa Timur.

Di antara korban meninggal dunia, ungkap Sutopo, terbanyak dari Pacitan 11 orang, Yogyakarta 3 orang, Wonogiri 2 orang dan 1 orang masing-masing dari Gunungkidul, Bantul dan Wonosobo. Mereka adalah korban banjir 4 orang dan tanah longsor 15 orang.

Sejumlah daerah seperti Pacitan, Magetan, Wonogiri, Klaten dan Gunungkidul terendam banjir. Ribuan rumah, ribuan hektar lahan pertanian, dan fasilitas publik terendam banjir. Selain itu,  begitu pun dengan ribuan rumah dan lahan pertanian. AKtivitas warga sepanjang jalur Selatan sejak Gunungkidul, Wonogiri, Ponorogo dan Pacitan lumpuh total akibat tanah longsor.

“Kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan trilyunan rupiah. Pendataan dampak bencana masih dilakukan BPBD,” terang Sutopo.

Dampak paling parah terjadi di Pacitan. Sejumlah kawasan masih terisolasi oleh banjir dan tanah longsor. Bupati Pacitan Indartarto juga sudah menetapkan tanggap banjir dan longsor di daerahnya. Hingga berita ditulis, pencarian atas korban masih terus dilakukan. “Kami membutuhkan perahu karet, alat berat, makanan siap saji, peralatan tidur, peralatan kebersihan lingkungan dan sebagainya,” ujar Indartarto.

Di Pacitan banjir menggenang 13 desa di 3 Kecamatan meliputi Desa Sirnoboyo, Desa Sukoharjo, Desa Kayen, desa Kembang, Desa Ploso, Desa Arjowinangun, Desa Sidoharjo di Kecamatan Pacitan, selanjutnya Desa Purworejo, Desa Banjarjo, Desa Kebonagung di Kecamatan Kebonagung, dan Desa Pagutan, Desa Jatimalang, Desa Arjosari di Kecamatan Ariosari.

Ada pun di Wonogiri banjir menerjang 18 Kecamatan. Tercatat 68 lokasi tergenang banjir dan tanah longsor. Dua korban tanah longsor ditemukan meninggal dunia, yaitu Sri Wati (40) dan Suyati (60) yang keduanya warga Dusun Bengle Rt 2 Rw 5 Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo.

Di seluruh Provinsi DIY, beber Sutopo, banjir menerjang 84 titik, longsor menimbun 93 titik, dan puting beliung terjadi di 116 titik. Longsor menimbun rumah di Jl. Jlagran RT 01 RW 01 Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Akibatnya, tiga orang dikabarkan tewas, masing-masing Barjono (30), Dani (4) dan Aurora Tanti (3 bulan).

Atas terjadinya cuaca ekstrim di wilayahnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menetapkan daerahnya berstatus siaga darurat bencana. “Karena hujan ekstrem menurut BMKG berlangsung tiga hari, ya kita daruratnya satu minggu,” ucap Sultan usai rapat koordinasi dengan BPBD DIY, di Kantor Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (29/11).

Petugas Kepolisian mengevakuasi korban banjir di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Rabu (29/11). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ama/17.

Dengan diumumkannya status darurat, ujar Sultan, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten dapat menggunakan dana cadangan masing-masing untuk melakukan perbaikan maupun untuk membantu kebutuhan warga terdampak bencana. Dana tak terduga yang disiapkan untuk bencana, ungkap Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset (DPPKA) DIY Bambang Wisnu Handoyo, mencapai Rp 14 miliar.

Mengutip sumber dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY, pada Rabu (29/11), Kota Yogyakarta memiliki lokasi bencana angin kencang di 9 titik, tanah longsor di sembilan titik, dengan jumlah warga terdampak mencapai 151 orang dan tiga meninggal dunia.

Di Kabupaten Bantul, angin kencang mengancam 67 titik, banjir menggenang di 31 titik dan tanah longsor mengintai di 45 titik. Warga yang terdampak mencapai 4.756 orang dan 1 orang meninggal dunia. Di Kabupaten tetangganya, Kulonprogo, angin kencang ada di 20 titik, tanah longsor 27 titik dan banjir 6 titik. Warga yang terdampak 58 orang dan 3 orang luka-luka.

Di Kabupaten Gunungkidul, angin kencang menyapu di 9 titik, tanah longsor 9 titik dan banjir merendam 44 titik. Warga yang terdampak mencapai 3.276 orang dan tercatat 2 luka-luka dan 1 orang meninggal dunia. Cuaca ekstrim juga menerjang Sleman dengan angin kencang mencapai 17 titik, tanah longsor 15 titik, dan banjir 28 titik, dengan jumlah warga terdampak mencapai 214 orang. Tidak dilaporkan adanya korban luka maupun korban meninggal dunia di daerah ini.

Secara keseluruhan, di DIY tercatat 106 pohon tumbang, masing-masing di Kota Yogyakarta 2 pohon, Kabupaten Bantul 67 pohon, Kabupaten Kulon Progo 12 pohon, Kabupaten Gunungkidul 8 pohon, dan Kabupaten Sleman 17 pohon. Tumbangnya 106 pohon itu menimpa atap rumah, kendaraan, jaringan listrik dan menutup akses jalan di sejumlah ruas.

Karena cuaca ekstrim masih mengintai keselamatan warga, Bupati Gunungkidul Hj. Badingah mengumumkan libur sekolah pada Rabu (29/11) ini. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Sutaryono mengungkap ada ratusan warga mengungsi, terbanyak dari Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, yang mencapai 110 jiwa.

Tercatat pula ratusan warga Dusun Bojing, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, hingga kini masih terisolasi,. “Di Dusun Bojing, kami belum bisa masuk. Satu-satunya akses jembatannya rusak diterjang banjir. Ada 400 jiwa yang mengungsi ke lokasi lebih tinggi,” papar Sutaryono..

Siklon tropis cempaka yang memicu angin kencang dan pembentukan awan. Terang Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) R. Mulyono Rahadi Prabowo mengungkapkan, masih akan bertahan dalam dua hingga tiga hari ke depan, terhitung sejak Selasa (28/11) kemarin.

Keberadaan siklon tropis cempaka, imbuh Mulyono, keberadaannya terdeteksi sejak Senin (27/11) pukul 19.00 WIB di sekitar pesisir selatan Pulau Jawa. Maka hujan lebat akan mengguyur wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Jadi, hati-hatilah sebelum memutuskan beraktivitas di luar rumah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here