Simulasi Alvara Research: Putaran Kedua Anies Sandi 49,3%, Ahok-Djarot 42,2%

0
560

Nusantara.news, Surabaya – Dengan modal 47,85%, Ahok-Djarot gagal memenangi Pilkada DKI satu putaran. Bila berlanjut ke putaran kedua pasangan ini berpeluang kalah.

Mengaca pada hasil pemilu tahun 2014, maka perolehan suara Ahok sekarang ( berdasarkan quick count) turun sekitar 5%. Bila dibandingkan dengan perolehan suara Pemilu 2014 partai koalisi yang mendukung Ahok yang totalnya 47,85%, dengan rincian PDI- P (27,15%), Golkar (8,29%), NasDem (4,54%), Hanura (7,87%).

Ini sinyal bahwa mesin partai koalisi kurang bekerja efektif mempertahankan konstituennya agar tetap di barisan mendukung paslonnya. Ini juga pertanda bahwa Teman Ahok yang digembar-gemborkan suaranya jutaan lebih hanya nol besar. Dengan modal 47,85% tentunya hanya butuh 2,3% saja untuk menang satu putaran.

“Hal ini tidak jauh berbeda dengan angka diprediksi Alvara Research Center(ARC) tanggal 15 Februari 2017 menjelang pemungutan suara bahwa perolehan Agus-Sylvi dalam kisaran 18-22%, Basuki-Djarot 40-44%, dan Anies-Sandi 37-40%, ” ujar Hasanudin Ali CEO Alvara Research Center kepada NUSANTARA.NEWS Jumat (17/2/2017)

Alumni ITS ini menyatakan bahwa pertarungan antara pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi di putaran kedua 19 April nanti akan beraroma sisa-sisa persaingan Pilpres 2014. “Akan sangat terasa dalam putaran kedua ini, ada Gerinda, PKS, dan tentu saja Prabowo di belakang Anies-Sandi dan PDIP, Nasdem, dan mungkin Joko Widodo di belakang Basuki-Djarot,” katanya.

Berkaca pada simulasi putaran kedua yang didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center pada 6-8 Februari 2017, apabila putaran dua mempertemukan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi maka Anies-Sandi akan unggul 49,3%, sementara suara Basuki-Djarot 42,2%, selisih 7,1%.

Lebih jauh peneliti yang berasal dari keluarga NU kental ini menilai bahwa keunggulan Anies-Sandi tersebut didapatkan dari limpahan suara pemilih Agus-Sylvi. Dari survei tersebut, pemilih yang sebelumnya memilih Agus-Sylvi 66,3% mengalihkan pilihannya ke Anies-Sandi.

Sedangkan pemilih Agus-Sylvi yang mengalihkan ke Basuki Djarot hanya 8,6%, yang belum memutuskan 22,7% dan yang menjawab tidak memilih 2,5%.

Berpindahnya mayoritas pemilih Agus-Sylvi ke Anies-Sandi mengindikasikan adanya irisan yang kuat antara pemiliih Agus-Sylvi dengan pemilih Anies-Sandi.

Kondisi ini tentu kurang menguntungkan buat pasangan Basuki-Djarot. Meski di putaran pertama masih unggul dibanding Anies-Sandi, Basuki-Djarot dan timsesnya harus berjuang ekstra keras untuk melakukan penetrasi dan simpati dari pemilih Agus-Sylvi.

Tingginya partisipasi pemilih dalam Pilgub Jakarta ini mengindikasikan potensi suara yang tidak memilih pada putaran pertama relatif kecil. Itu artinya satu-satu cara untuk memenangkan Pilgub Jakarta adalah siapa yang bisa meraih mayoritas pemilih Agus-Sylvi.

“Di atas kertas hari ini peluang Anies-Sandi untuk memenangkan Pilgub Jakarta memang lebih besar dari Basuki-Djarot. Namun politik tentu saja bukanlah hitungan matematis, masih ada dua bulan lagi tersisa sampai 19 April 2017 yang bisa dimanfaatkan oleh dua pasang kandidat untuk berebut potensi suara dengan berbagai strategi dan amunisi yang mereka miliki,” katanya

Lulusan Statistik ITS ini menganalogikan Pilgub DKI putaran II, seperti el clasico antara Barcelona dan Real Madrid di La Liga Spanyol. Pertarungan keduanya layak untuk ditonton dan pastinya sangat menarik dinikmati karena keduanya punya nama besar dan basis pendukung yang kuat dan solid. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here