Bursa Cawapres Prabowo (3-habis)

Simulasi Enam Cawapres Prabowo

0
199

Nusantara.news, Jakarta – Partai politik koalisi Prabowo yaitu Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN saat ini sedang menggodok figur bakal cawapres yang akan mendampingi Prabowo. Sejumlah nama yang masuk bursa cawapres Prabowo di antaranya: Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anies Baswedan, Salim Segaf Al-Jufri, Ustad Abdul Somad (UAS), dan Ahmad Heryawan (Aher). Bagaimana peluang keenam bakal cawapres Prabowo tersebut? Berikut simulasinya:

Pabowo-Gatot

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo memang memiliki daya pikat tersendiri, sementara Prabowo dianggap sangat perlu mencari calon pendamping yang punya popularitas bagus untuk menyaingi Jokowi. Saat ini, Gatot adalah salah satu tokoh yang cukup populer. Bagi Prabowo, keuntungan terbesar memilih Gatot adalah dari sisi popularitas, penerimaan masyarakat sipil terhadap sosoknya, kedekatannya dengan kelompok Islam, dan tentu saja karena punya elektabilitas yang lumayan.

Selain itu, rekam jejaknya di bidang militer sangat membantu tokoh politik menjaga situasi nasional. Selama dua periode kekuasaan SBY misalnya, tidak ada guncangan politik yang besar. Sebagai jenderal, SBY sangat baik dalam menciptakan situasi politik yang kondusif. Bandingkan dengan 2 tahun awal pemerintahan Presiden Joko Widodo yang penuh guncangan, baik di DPR maupun dari masyarakat.

Namun, pembahasan tentang cawapres Gatot sampai pada sebuah pertanyaan besar: mungkinkah pasangan militer-militer berkuasa di Indonesia? Why not, begitu kata pakar komunikasi politik Profesor Tjipta Lesmana. Sebab, di beberapa kali Pilpres dan Pilkada, kecenderungan preferensi pilihan publik terhadap kandidat lebih pada ketokohannya, tanpa melihat latar belakang dan partai mana yang mendukung.

Di negara Demokrasi seperti Amerika Serikat misalnya pernah punya pasangan presiden dan wakil presiden dari bekas militer. Presiden Ronald Reagan dan Wakil Presiden George H. W. Bush (Bush senior) merupakan salah satu pasangan militer-militer yang pernah memimpin Amerika Serikat antara tahun 1981 sampai 1989. Reagan pernah mengabdi untuk Angkatan Udara, sementara Bush merupakan seorang Letnan Angkatan Laut Amerika Serikat. Walaupun sama-sama berasal dari militer, keduanya cukup berhasil menjalankan kekuasaan sipil.

Batu sandungan Gatot terletak masih tertanamnya memori traumatik dari sebagian publik terhadap kepemimpinan militer seperti di era Orde Baru: kembalinya dwifungsi ABRI (TNI) dan mengancam supremasi sipil. Gatot-Prabowo juga terimbas kesan negatif akibat kedekatannya dengan pengusaha Tomy Winata.

Prabowo-AHY

Jika Prabowo menggandeng Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sang putera mahkota Cikeas, pasangan ini mendapat dukungan total dari Partai Demokrat yang notabene memiliki suara lebih besar dari PKS dan PAN. Sehingga pasangan Prabowo-AHY akan menampilkan kekuatan besar karena mendapat dukungan langsung dari SBY. Sebagai putera mahkota, SBY dipastikan akan kembali turun gunung untuk total memenangkan Prabowo-AHY.

Opsi duet Prabowo-AHY kemungkinan besar juga akan didukung PKS mengingat Demokrat dan PKS di masa pemerintahan SBY adalah teman koalisi. Begitpun dengan PAN. Jika siap bergabung, bukan tak mungkin PKB akan berpaling ke kubu Prabowo karena sama-sama pernah berkoalisi di pemerintahan SBY.

Poster Prabowo-AHY yang beredar di sosial media

Dengan menggandeng AHY, Prabowo berpeluang mendapatkan dukungan dari kelompok yang tidak pro-kebijakan Jokowi dan tidak pro-Prabowo, serta bisa menggaet pemilih kaum muda. Sebab, selama ini Prabowo dicitrakan mewakili generasi tua, sementara AHY dianggap representasi generasi muda, termasuk barangkali generasi milenial. Juga jangan lupa, elektabilitas AHY sebagai cawapres Prabowo menurut beberapa survei selalu di posisi teratas.

Kelemahannya, birokrasi keduanya lemah sebab sama-sama tak punya pengalaman di pemerintahan. Selain itu, AHY dinilai masih terlalu muda untuk maju menjadi RI-2. AHY belum teruji jejak rekam pengabdiannya di masyarakat, dan masih butuh penempaan tingkat lanjut baik dalam wacana-wacana keindonesiaan maupun karier politiknya. Terlebih, elektabilitas AHY juga belum cukup kuat, terbukti AHY tersisih di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu.

Prabowo-Anies

Nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencuat dalam beberapa survei elektabilitas pemilihan presiden 2019. Anies digadang-gadang akan digandeng Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai pendampingnya di Pilpres 2019. Bahkan, jika Prabowo memutuskan untuk menjadi King Maker alias tidak akan maju lagi menjadi calon presiden, Anies disebut-sebut sebagai calon kuat yang akan dimajukan Prabowo.

Anies disinyalir bisa jadi cawapres yang manis bagi Prabowo, dan sumbangan penting bagi pelejitan elektabilitas. Pasangan ini berpotensi besar mampu mengalahkan Jokowi. Sebab, Anies Baswedan memiliki insentif elektoral yang signifikan karena popularitasnya, modal sosialnya, dan pengalaman di eksekutif yang mumpuni sebagai Mendikbud dan Gubernur.

Sosok Anies juga akan menambal kekurangan Prabowo dari sisi pemilih muda dan jaringan intelektual nusantara, mengingat Anies adalah penggagas ” Indonesia Mengajar” yang sebagian besar pegiatnya para pengajar muda dan tersebar di seluruh pelosok tanah air. Tentunya jaringan ini akan dapat dihidupkan kembali oleh Anies apabila nanti ia akan bertarung pada 2019.

Lebih dari itu, Anies bisa membantu Prabowo untuk “memukul” titik lemah Jokowi. Sebagaimana kita maklumi, pada pilpres 2014, Anies sangat dekat dengan Jokowi dan karenanya pada masa itu ia diangkat sebagai sebagai Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK. Artinya pada masa itu Anies sudah berada pada “dapur” pemikir Jokowi-JK. Karenanya tentu ia sangat paham jurus-jurus yang dimainkan Jokowi dan timnya pada pilpres nanti.

Pun begitu, peluang Anies sebagai cawapres masih fifty-fifty karena beberapa sebab. Pertama, Anies tersandera dengan janji politiknya yang berkomitmen akan menuntaskan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jika ia tetap ngotot” maju sebagai capres, maka publik akan menilai bahwa Anies tak ubahnya politisi kebanyakan yang berwatak pragmatis dan gampang melanggar janji politik. “Ketika melaksanakan tugas menjadi cagub, ini amanat untuk dituntaskan, amanat Pak Prabowo, Sohibul, tuntas lima tahun,” kata Anies saat itu.

Kedua, Anies tidak memiliki kendaraan politik. Sejumlah partai politik yang dekat dengan Anies sejauh ini adalah Gerindra dan PKS. Namun kedua partai tersebut hingga sekarang masih setia mengusung Prabowo Subianto sebagai capres 2019. Ini artinya, jika Anies hendak maju, maka ia mesti mencari perahu lain. Tentu ini tidak mudah dan sangat beresiko karena dapat melukai elite politik di Gerinda dan PKS, dua partai yang secara ikhlas mengusungnya dalam kompetisi elektoral di DKI Jakarta 2017 lalu.

Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri

Pasangan ini merupakan gambaran dari representasi nasionalis dan agamis, tipe representasi bersatunya kelompok politik dari dua aliran politik di Indonesia. Selain itu, Salim Segaf Aljuffri jika sebagai cawapres Prabowo juga bisa memiliki daya insentif elektoral yang signifikan karena ketokohanya sebagai ulama politisi, keluarga Habaib, memiliki modal sosial yang luas, juga sekaligus punya kapasitas pengalaman sebagai eksekutif (mantan Menteri Sosial yang sukses) dan mantan Duta Besar Indonesia di Arab Saudi yang berhasil).

Dengan menggandeng Salim Segaf, selain diuntungkan karena kualifikasi personalnya, Prabowo juga bakal memiliki mesin politik seperti PKS yang gigih sampai ke akar rumput. Sebagai pemimpin tertinggi di PKS (ketua majelis syuro), Salim tentu akan diperjuangkan all out oleh partai kader tersebut.

Hanya saja, jika menjadi cawapres Prabowo, Salim Segaf memiliki sejumlah titik lemah. Pertama, elektabilitas dan akseptablitasnya belum diketahui, sebagian pengamat menyebut angkanya kecil. Kedua, tak punya logistik memadai yang selama ini jadi kerisauan Gerindra. Ketiga, bisa memunculkan kecemburuan dan ketidakpuasan dari partai koalisi lainnya yaitu PAN dan Demokrat jika tak sepakat dengan Salim sebagai cawapres Prabowo. Hal ini bisa berdampak pada kerja setengah hati dalam menyukseskan pasangan ini.

Keempat, Salim Segaf bukan sosok yang bisa mencuri suara pemilih muda (khusunya generasi milenial) yang jumlahnya signifikan. Kelima, karakteristik dan basis pemilih pasangan ini sama sehingg sulit mendongkrak suara lewat limpahan suara dari basis pemilih lawan.

Prabowo-Ustad Abdul Somad (UAS)

Munculnya nama UAS dalam usulan cawapres versi ijtima ulama tak terduga. Ini bisa jadi efek kejut yang tak terbaca oleh lawan politik. Dan Prabowo nampaknya kesemsem didampingi UAS: ustaz muda, populer, makin diminati, terutama ketika banyak menerima aksi persekusi. Sosoknya bisa dijadikan ikon perlawanan terhadap Jokowi.

Mengambil UAS sebagai cawapres bisa jadi akan menguntungkan Prabowo lantaran UAS sangat disenangi oleh umat, tidak hanya umat Islam, non muslim pun banyak yang menyenangi sosok UAS. Selain itu, UAS tidak berasal dari partai politik sehingga koalisi partai pendukung tidak merasa kecewa karena tidak diambil sebagai cawapres. Pasangan  Prabowo-UAS juga mencerminkan pola kombinasi: nasionalis-religius, Jawa-luar Jawa, tentara-sipil, dan parpol-nonparpol.

Relawan deklarasikan Sahabat Prabowo-Ustad Abdul Somad (Puas)

Menurut Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) ini, ustad yang populer disapa UAS tersebut merupakan seorang public figure saat ini. “UAS itu publik figur, Beliau sudah dikenal dunia tidak hanya Indonesia, tentu ini modal dan perlu diperhitungkan oleh calon manapun,” ungkapnya.

Disamping merupakan sosok publik figur dengan massa yang sangat banyak dibelakangnya, secara intelektualitas dan kredibilitas UAS juga sangat diperhitungkan saat ini. “Apa yang dia sampaikan itu sangat didengar dan juga mudah dicerna, sehingga banyak akan mendengarkan beliau,” imbuhnya.

Namun, UAS memiliki kelemahan, yakni pada pengalaman organisatoris di partai politik dan tak punya rekam jejak di pemerintahan. Tentu saja ini menjadi PR bagi mereka dan timnya.

Prabowo-Aher

Jika Mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dipasangkan dengan Prabowo, jejak kepemimpinannya yang gemilang di Jabar akan menjadi modal kuat yang melengkapi Prabowo. Sebab selama ini, Prabowo belum teruji duduk di birokrasi pemerintahan. Aher juga dinilai mampu memberi sumbangsih besar untuk memenangi Pilpres 2014 di Jabar. Dengan menyandingkan Aher-Prabowo, basis suara di Jabar diprediksi akan kembali dikuassi poros Prabowo.

Selain di Jabar, peluang Aher menggaet suara di daerah lain cukup terbuka. Hal ini mengingat Aher dekat dengan simpul-simpul ormas dan ulama di seluruh tanah air. Apalagi, Aher dikenal jago meracik siasat pemenangan. Terbukti, Pilpres 2014 suara jabar tumpah ruah ke capres Prabowo, dan pada Pilgub Jabar 2008 Aher yang tak diunggulkan tapi secara mengejutkan mampu mengalahkan para lawan raksasanya. Ia bahkan menang mudah di periode keduanya.

Bukan tak mungkin, Aher akan menerapkan pola siasat yang sama di pilpres mendatang guna “memanen suara” di daerah-daerah yang selama ini paceklik bagi Prabowo. Tentu saja, faktor mesin politik PKS yang militan menjadi nilai tambah bagi kemenangan pasangan ini.

Aher juga relatif muda (51 tahun) sehingga punya magnet tersendiri bagi kalangan generasi milenial. Gayanya yang low profile, tenang, bersahaja, serta komunikasi politiknya yang santun berpeluang menarik simpati pemilih, utamanya dari ceruk massa mengambang. Pun, sekaligus melengkapi kekurangan Prabowo yang cenderung meledak-ledak, kurang familiar di generasi milienial, tergolong tua, dan mudah “ditelikung” kawan-lawan politiknya. Sebaliknya, Prabowo yang militer, nasionalis tulen, tegas, dan kuat secara finansial, bisa menjadi komplementer Aher.

Rasanya tak berlebihan jika duet Prabowo-Aher diserupakan dengan kombinasi dwitunggal Soekarno-Hatta. Soekarno yang tipe solidarity maker dan Hatta seorang administrator maker tak jauh beda dengan Prabowo (solidarity maker) dan Aher (administrator). kombinasi dua tipikal kepemimpinan ini dianggap ideal bagi Indonesia.

Tipe solidarity maker lebih mengedepankan strategi retorik guna mengumbar gelora dan penyatuan solidaritas dengan memainkan simbol-simbol identitas. Sedangkan administrator lebih mengedepankan kecakapan administratif guna kelancaran implementasi visi dalam jejaring aparatus negara.

Persoalannya, duet pasangan Aher dengan Prabowo menurut sebagian pengamat tampaknya tidak akan signifikan mendongkrak suara di Pilpres 2019. Alasannya, karakteristik pemilih kedua calon yang didukung kelompok Islam politik tersebut cenderung tidak berbeda. Problem yang sama manakala Prabowo disandingkan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmanyto, ataupun Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri. Hambatannya karena suara mereka dari ceruk yang sama. Kolam suaranya sama.

Dari keenam simulasi tersebut, Prabowo tinggal menentukan opsi mana yang lebih berpeluang mengantarkannya ke singgasana Istana. Tentu ada kekurangan dan keunggulannya dari masing-masing sosok cawapres itu. Yang terpenting, tim Prabowo harus jeli mengkalkulasi cawapres terbaiknya. Termasuk jika harus mencari sosok lain di luar nama-nama yang saat ini berhembus.

Akhirnya, siapa pun cawapres yang akan menjadi pendampingnya, tentu akan berpengaruh besar terhadap kemenangan dirinya. Dua kali kekalahan tentu bisa menjadi pelajaran bagi Prabowo. Bisa jadi, kesalahan strategi dalam memilih pendamping juga bisa menjadi beban elektoral ke depannya. Terlebih, lawan tanding Prabowo di Pilpres 2019 mendatang bukanlah Jokowi seperti pada Pilpres 2014, kini ia serupa raksasa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here