Sisi Lain Koalisi SBY-Prabowo

0
131

KEPUTUSAN Susilo Bambang Yudhoyono untuk mendukung Prabowo Subianto adalah titik puncak dari “pengembaraan” politiknya selama setahun terakhir. Pertemuannya dengan Prabowo misalnya sudah diawali sejak setahun lalu. Menurut keterangan resmi dari kedua belah pihak, kedua tokoh itu membicarakan mengenai berbagai isu aktual. Tetapi, siapa pun pasti tahu, agenda utama mereka adalah pembicaraan soal tiket pada Pemilu Presiden 2019.

Kini pembicaraan panjang itu sudah selesai: SBY mendukung Prabowo menjadi calon presiden.

Selama setahun ini, SBY juga beberapa kali bertemu dengan Joko Widodo. Tetapi, dia rupanya tak berjodoh para pemimpin partai pendukung Jokowi. Hambatan bagi SBY terlalu besar, terutama dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Jadi, tak ada pilihan lain, kecuali merapat ke Prabowo.

Sebetulnya, bagi SBY bergabung dengan Prabowo juga tak mudah. Sebab keduanya mempunyai riwayat “rivalitas” yang panjang, sejak mereka sama-sama “rising star” di TNI dulu. Ketika pensiun dan masuk gelanggang politik, persaingan mereka berlanjut. Pada Pemilu 2009, Prabowo mendampingi Megawati berhadapan dengan SBY-Boediono.

Ketika Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2014, Demokrat “abstain”. Di Pilkada Jakarta kemarin pun, setelah Agus Harimurty  kalah di putaran pertama, SBY yang sudah pasti tak akan mendukung Ahok, toh tidak mau juga secara terbuka mendukung Anies Baswedan yang dijagokan Prabowo.

Riwayat persaingan itulah yang membuat banyak orang menyangka kedua tentara tua ini tak akan pernah berada di satu pasukan. Sejarah rivalitas, dan tentu saja gengsi keduanya, membuat benteng pemisah semakin tinggi.

Jika kini mereka bertemu tentunya perlu “perjuangan besar” untuk sejenak melupakan rivalitas dan gengsi politik itu.  Perjuangan besar itu seyogianya untuk sesuatu yang besar pula.

Namun, sungguh menyedihkan kalau pertemuan ini hanya sekadar menyatukan langkah mendapat peluang kekuasaan pada pemilu mendatang.

Semestinya, pertemuan ini lebih dari sekadar membincang kekuasaan. Kalau mereka memang negarawan, masa depan negaralah yang seyogianya dibicarakan. Kita berharap, tidak hanya SBY dan Prabowo yang bertemu.  SBY dan Megawati, Prabowo-Megawati, atau ketiganya sekaligus, ada baiknya jika bertemu.

Jika tidak,  hanya meneguhkan bahwa politik Indonesia saat ini memang dikuasai tiga “war lord” yang tak pernah sejalan, yakni SBY, Prabowo dan Megawati. Ketiganya mempunyai daya tarik emosional di mata pendukung masing-masing.

Daya tarik emosional itulah yang harus digeser menjadi daya tarik rasional. Ini sebenarnya tugas pemimpin politik. Mereka harus mendahulukan pendidikan politik massanya. Sebab, keberhasilan mencerahkan rasionalitas pendukung adalah kemenangan yang jauh lebih berharga, ketimbang meraih kuasa.

Masalahnya, sukar mencari pemimpin seperti itu. Mereka seakan sengaja membiarkan rakyat terjebak dalam romantisme politik emosional, karena dari situ mereka menangguk keuntungan, tanpa harus mempertanggungjawabkan kepada massanya.

Sekarang terpulang kepada kita sebagai rakyat.  Perilaku para war lord ini mestinya jadi preferensi bagi rakyat untuk menentukan pilihan. Mahkamah kekuasaan itu ada di tangan rakyat.

Jika rakyat menilainya memenuhi persyaratan sebagai pemimpin politik yang sehat, mumpuni, berkomitmen pada pendewasaan dan kecerdasan politik pendukungnya, maka dia layak diserahi kepercayaan. Tetapi, jika jauh dari itu, amat berbahaya memberi mereka kekuasaan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here