Sisi Tragis Pertemuan Cikeas

0
279

PERTEMUAN Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Cikeas kemarin menjadi perbincangan khalayak. Menurut keterangan resmi Partai Demokrat, kedua tokoh itu membicarakan perkembangan politik mutakhir, terutama terkait dengan UU Pemilu. Seperti diketahui, kedua partai ini bersama PAN dan PKS, menolak penggunaan presidential threshold pada Pilpres 2019.

Penerapan ambang batas pemilu presiden sebesar 20 persen, di atas kertas, memang sangat menguntungkan kubu pendukung pemerintah. Sebab, mereka sudah mempunyai jaminan mencalonkan kandidat presiden dalam pemilu mendatang. Sementara, kubu Partai Demokrat dan Partai Gerindra, relatif berada di ujung tanduk. Mereka harus memilih mitrakoalisi agar tercapai ambang batas minimal.

Partai Demokrat dan Gerindra  pasti berambisi mengusung sendiri calon presiden. Tapi, untuk maju sendiri, jumlah kursi tak cukup. Jika berpatokan pada jumlah kursi DPR, diperlukan 110 kursi.  Gerindra hanya punya 73 kursi, dan Demokrat 61 kursi. Jika salah satu di antara mereka berhasil merangkul PAN dan PKS, memang otomatis tiket sudah di tangan. Tetapi, akan ada satu partai yang tertinggal, entah Gerindra atau Demokrat, tergantung pada siapa yang lebih dulu memagari PAN dan PKS.

“Kegentingan yang memaksa” itulah yang mendasari pertemuan SBY-Prabowo. Jika kedua partai mereka bisa bersatu, tiket pilpres sudah di tangan. Sebab, jika ditambah kursi PAN (49) dan PKS (40), koalisi mereka sudah melampaui ambang batas, dengan 223 kursi DPR. Tinggal menyepakati siapa mendapat apa.

Namun, kalau hanya itu yang mendasari pertemuan, alangkah menyedihkan. SBY dan Prabowo mempunyai riwayat “rivalitas” yang panjang, sejak mereka sama-sama “rising star” di TNI dulu. Ketika pensiun dan masuk gelanggang politik, persaingan mereka berlanjut. Pada Pemilu 2009, Prabowo mendampingi Megawati berhadapan dengan SBY-Boediono.

Ketika Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2014, Demokrat “abstain”. Di Pilkada Jakarta kemarin pun, setelah Agus Harimurty  kalah di putaran pertama, SBY yang sudah pasti tak akan mendukung Ahok, toh tidak mau juga secara terbuka mendukung Anies Baswedan yang dijagokan Prabowo.

Riwayat persaingan itulah yang membuat banyak orang menyangka kedua tentara tua ini tak akan pernah berada di satu pasukan. Sejarah rivalitas, dan tentu saja gengsi keduanya, membuat benteng pemisah semakin tinggi.

Jika kini mereka bertemu tentunya perlu “perjuangan besar” untuk sejenak melupakan rivalitas dan gengsi politik itu.  Perjuangan besar itu seyogianya untuk sesuatu yang besar pula. Itu sebabnya kita sebut “menyedihkan” kalau pertemuan ini hanya sekadar menyatukan langkah mendapat peluang kekuasaan pada pemilu mendatang.

Semestinya, pertemuan ini lebih dari sekadar membincang kekuasaan. Kalau mereka memang negarawan, masa depan negaralah yang seyogianya dibicarakan. Kita berharap setelah ini akan ada pertemuan SBY-Megawati, Prabowo-Megawati, atau ketiganya sekaligus.

Jika tidak, pertemuan hanya meneguhkan bahwa politik Indonesia saat ini memang dikuasai tiga “war lord” yang tak pernah sejalan, yakni SBY, Prabowo dan Megawati. Ketiganya mempunyai daya tarik emosional di mata pendukung masing-masing.

Daya tarik emosional itulah yang harus digeser menjadi daya tarik rasional. Ini sebenarnya tugas pemimpin politik. Mereka harus mendahulukan pendidikan politik massanya. Sebab, keberhasilan mencerahkan rasionalitas pendukung adalah kemenangan yang jauh lebih berharga, ketimbang meraih kuasa.

Masalahnya, sukar mencari pemimpin seperti itu. Mereka seakan sengaja membiarkan rakyat terjebak dalam romantisme politik emosional, karena dari situ mereka menangguk keuntungan, tanpa harus mempertanggungjawabkan kepada massanya.

Sekarang terpulang kepada kita sebagai rakyat.  Perilaku para war lord ini mestinya jadi preferensi bagi rakyat untuk menentukan pilihan. Mahkamah kekuasaan itu ada di tangan rakyat.

Jika rakyat menilainya memenuhi persyaratan sebagai pemimpin politik yang sehat, mumpuni, berkomitmen pada pendewasaan dan kecerdasan politik pendukungnya, maka dia layak diserahi kepercayaan. Tetapi, jika jauh dari itu, amat berbahaya memberi mereka kekuasaan.

Penilaian inilah yang harus jadi pedoman. Kalau tidak, dalam pemilu nanti, rakyat hanya akan disajikan sekian nama yang sungguh besar nafsunya bertahta di singasana. Secara substansial, rakyat akan sangat tersiksa menentukan pilihan. Sebab, mereka selama ini telah menyaksikan bagaimana para calon presiden itu telanjang di depan mereka. Dan, orang-orang seperti itu harus mereka pilih salah satu untuk memikul nasib bangsa ini ke depan.

Nah, kalau benar pertemuan dua tokoh besar di Cikeas hanya membincang cara meraih kuasa, terus terang, tiada kata lain untuk menyebutnya selain tragis![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here