Siti Aisyah dan Ribuan TKI Diadili di Malaysia, Ini Dia Penterjemahnya

0
324
Siti Aisyah yang bersama rekannya asal Vietnam dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap Kim Jung-nam

Nusantara,news, Jakarta – Ketika ada warganegara Indonesia terlibat perkara di pengadilan negara asing, tentu saja bahasa yang dipakai di persidangan adalah bahasa nasional setempat. Biasanya, pengadilan menyediakan penerjemah, agar orang yang diperiksa mengerti apa yang ditanyakan dan paham bagaimana menjawabnya.

Begitu juga di Malaysia. Meski bahasanya mirip dengan Bahasa Indonesia, penerjemah tetap dihadirkan.

Penerjemah yang selalu jadi langganan Mahkamah Persekutuan Malaysia (mahkamah tertinggi di Malaysia) adalah Saiful, pria asal Bawean Jawa Timur. Dia sudah menjadi penerjemah pengadilan sejak 1992.  Saiful juga menjabat Ketua DPC Istimewa PKB Malaysia.

Kini dia menjadi penterjemah bagi Siti Aisyah yang kini menjalani persidangan di Malaysia setelah bersama warga negara Vietnam Doan Thi Huong didakwa membunuh warga negara pelarian Korea Utara, Kim Jong-nam. Sebelumnya dia juga menjadi penterjemah bagi ribuan WNI yang berperkara, baik selaku terdakwa, saksi maupun sebagai penggugat atau tergugat di Pengadilan Malaysia.

Pada persidangan di Mahkamah Sepang, Kamis (13/4) mendatang, Saiful secara resmi mendampingi terdakwa Siti Aisyah sebagai penterjemah. “”Tahun ini saya ditunjuk oleh Mahkamah Agung Malaysia sebagai penerjemah kasus Siti Aisyah di Pengadilan Sepang Selangor. Pada persidangan pertama Siti Aisyah saya membacakan surat dakwaan kepada Siti Aisyah dalam Bahasa Indonesia,” aku Saiful di Kuala Lumpur, Kamis (6/4) ini.

Selaku penterjemah tugas Saiful adalah menterjemahkan surat dakwaan hakim, setelah itu memberikan pemahaman kepada yang bersangkutan, selanjutnya memberikan pemahaman kepada terdakwa. Setelah terdakwa memahami isi surat dakwaannya baru Saiful menyampaikannya kepada hakim.

“Saya menjadi penerjemah untuk TKI sejak 1992. Tugas sebagai penerjemah adalah memahamkan kepada setiap terdakwa dan saksi di persidangan. Kalau dihitung-hitung, saya sudah jadi penerjemah bagi ribuan TKI dan TKI ilegal yang terlibat kasus perampokan, narkoba, penyiksaan majikan, pembunuhan, perdagangan manusia hingga perkosaan,” kenang Saiful.

Di antara ribuan kasus yang pernah ditanganinya, paling berkesan bagi Saiful adalah saat menangani kasus Nirmala Bonat. Perempuan asal NTT yang menjadi korban penganiayaan brutal oleh majikannya. Nirmala menjadi korban kekerasan pada 2004 sehingga dia tidak dapat lagi bekerja sejak 17 Mei 2004 hingga tahun 2008.

Setelah melalui proses perjuangan yang panjang, majikan Nirmala, Yim Pek Ha, dinyatakan bersalah dan dihukum 12 tahun penjara di tahun 2014. Nirmala juga memenangkan gugatan perdata atas kekerasan yang dialaminya dan diputuskan oleh Hakim menerima ganti rugi sebesar RM 349.946 atau kurs ketika itu setara Rp1,1 miliar.

“Sebagai penerjemah di pengadilan saya bekerja secara profesional. Tugas sebagai penerjemah harus bisa memahamkan kepada orang yang diterjemahkan karena kalau salah menerjemahkan berakibat fatal,” terang Saiful.

Sebab, lanjut Saiful, meskipun Bahasa Malaysia itu mirip dengan Bahasa Indonesia, namun tidak semua WNI, khususnya TKI, memahami apa yang didakwakan padanya. “Tugas saya memberikan pemahaman sebelum disampaikan kepada hakim di persidangan. Dan saya tidak boleh berpihak ke mana-mana baik ke pengacara atau JPU. Saya harus profesional seperti yang diamanatkan oleh Mahkamah Persekutuan Malaysia,” lanjut Saiful.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Siti Aisyah dan Doan Thu Huong diduga menjadi korban komplotan intelejen Korea Utara saat terekam CCTV bandara mengibaskan cairan ke seseorang bersosok tambun yang berujung kematian. Sosok tambun itu ternyata Kim Jung-nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jung-un yang berdasarkan laporan Intelejen Korea Selatan sudah lama menjadi incaran pembunuhan intelejen Korea Utara.

Sejauh ini, terdakwa Siti Aisyah kepada pejabat KBRI di Kuala Lumpur mengaku dia mengira terlibat dalam reality-show lucu-lucuan yang akan ditayangkan di televisi. Ternyata kegiatan yang dilakukannya itu berujung pembunuhan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here