Pilpres Prancis

Skandal Capres dan Bayang-bayang Campur Tangan Rusia

0
153
Foto: Reuters

Nusantara.news, Jakarta – Pemilihan calon presiden Prancis tahun 2017 yang akan berlangsung beberapa bulan lagi sudah mulai menunjukkan persaingan yang keras. Masing-masing pendukung capres mulai “menelanjangi” lawannya. Sejumlah skandal masing-masing capres dibuka. Di pihak lain, Pilpres Prancis juga dibayang-bayangi kekhawatiran campur tangan Rusia, polanya hampir sama dengan yang terjadi di Amerika.

Capres konservatif Francois Fillon yang paling terkena imbas dari kerasnya persaingan itu. Elektabilitasnya anjlok (dari 60 persen pada Januari lalu menjadi sekitar 22%) setelah skandal ‘pekerjaan fiktif’ yang melibatkan istrinya, Penelope dibuka ke publik dua pekan lalu. Padahal, Fillon sebelumnya digadang-gadang bakal memenangkan Pilpres Prancis.

Fillon diduga menggaji istrinya sekitar 800.000 euro (Rp.11,35 miliar) selama setahun atas pekerjaan palsu sebagai asisten saat dia menjadi anggota parlemen. Pillon menggaji istrinya dari uang pembayaran pajak masyarakat. Selain istri, Fillon juga diduga menggaji kedua anaknya atas pekerjaan palsu.

Atas skandal tersebut, tuntutan publik agar mantan Perdana Menteri era Nicolas Sarkozy ini mundur dari pencalonan bergulir kencang. Tapi Fillon merasa tidak bersalah, dan berjanji tetap akan mengikuti Pilpres.

Bukan hanya Fillon, capres lain dari partai sayap kanan, Front Nasional Prancis Marine Le Pen juga diterpa skandal keuangan dengan Parlemen Eropa yang memintanya membayar uang 300.000 euro atas gaji yang pernah diberikan kepada penasihatnya. Namun skandal ini tidak sempat membuat langkah Le Pen terhalang di pencalonan.

Elektabilitas Le Pen, yang isunya didukung Rusia (Vladimir Putin) melalui operasi rahasia sebagaimana dilakukan pada Donald Trump di AS, makin hari semakin menguat. Le Pen diunggulkan dapat masuk ke Pilpres putaran kedua yang akan dilaksanakan pada 7 Mei 2017. Pilpres putaran pertama digelar 23 April 2017.

Capres Lain, dari independen Emmanual Macron juga tak luput dari skandal, hanya saja bukan sakandal keuangan. Macron jauh-jauh hari diterpa isu pribadi tentang perselingkuhannya dengan seorang pria gay. Tapi tuduhan itu telah dibantah Macron. Jajak pendapat terakhir, Macron akan bersaing dengan Le Pen pada putaran kedua, dan sejauh ini elektabilitasnya masih unggul dibanding Le Pen.

Menurut jajak pendapat Opinionway, Capres Independen Emmanual Macron diprediksi bakal memenangi Pemilu Prancis dengan perolehan mencapai 66%, sedangkan Le Pen hanya 34%. Pada jajak pendapat Pemilu putaran pertama, Le Pen meraih 25%, Macron 22%, dan Fillon hanya 20%.

Bayang-bayang Rusia

Sebagai negara adikuasa, Rusia punya kepentingan di sejumlah negara apalagi di Eropa. Di Amerika Serikat otoritas intelijen menemukan sejumlah fakta bahwa Rusia campur tangan dalam Pemilu AS. Bahkan, presiden AS terpilih Donald Trump sempat mengakui temuan intelijen tersebut, meskipun ia berkilah bahwa kemenangannya dalam Pilpres AS bukan karena Rusia.

Di Prancis, Rusia diduga menjagokan Le Pen dan agaknya akan menggunakan pola yang sama dengan di AS. Sinyalemen ini pernah diungkap oleh taipan keuangan global George Soros beberapa pekan lalu saat temuan soal campur tangan Rusia pada Pilpres AS mencuat ke publik.

Dugaan semakin kuat setelah beberapa hari lalu, komunitas intelijen AS bekerja sama dengan pemerintah di seluruh Eropa, termasuk Prancis untuk memastikan mereka tidak menjadi korban peretasan pada saat kampanye seperti yang dialami AS.

Badan intelijen AS berbagi informasi dengan intelijen Eropa soal temuan yang mereka percaya sebagai campur tangan Rusia untuk melemahkan Hillary Clinton dan mengarahkan pemilih kepada Donald Trump pada Pilpres AS beberapa waktu lalu.

Pasalnya, Jerman, Perancis, Norwegia dan Belanda—sekutu utama AS di badan-badan internasional seperti PBB dan NATO—yang dijadwalkan mengadakan pemilu tahun ini, telah secara terbuka menyuarakan kekhawatiran ancaman digital Rusia pada Pemilu mereka.

“Ini secara luas dipahami bahwa Moskow ingin memperluas ‘pengaruh politik Rusia di Eropa, bahwa mereka ingin mendorong sosok populis,” kata seorang pejabat intelijen senior sebagaimana dilansir Politico.

“Tujuan mereka melakukan apa yang mereka bisa untuk melemahkan NATO, aliansi NATO dan memperkuat pengaruh mereka,” tambah pejabat itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here