Skema dan Gagalnya Globalisasi ala Yahudi

0
394

Nusantara.news – Pada tahun 1930 Bung Karno ketika menulis gugatan-gugatan sidang pengadilan sudah mengingatkan kita akan bahayanya imperialisme baru.  Kehadiran komunisme sebagai pengimbang saat itu juga tidak lepas dari campur tangan Yahudi conspiracy sebagai strategi Yahudi menguasai dunia. Kedigdayaan Inggris dan Amerika Serikat (AS) pasca perang dunia kedua menjadi Soko Guru penguasaan ekonomi dunia. Mulai dari gerakan illuminati (1776), menghapus kerajaan, privatisasi, dan sekularisasi. Mempopulerkan HAM, mensponsori revolusi Perancis 1709, revolusi sosial di Rusia, dan pertentangan kelas dengan peniptaan komunisme sebagai sparing partner Yahudi. Lalu isu kesetaraan agar hirarki agama, sosial, dan feodalisme digerus oleh paham equality dalam politik bernegara dan berbangsa, di Indonesia dikenal dengan kebhinnekaan. Lalu kelompok dan paham Yahudi yang dominan adalah Protokol Zion (1842). Gagasan besar Israel menguasai dunia sebagai negara bangsa kaum Yahudi, sehingga dimulai konflik dengan Palestina karena Yahudi dengan Israel sebagai bangsa dan negara tidak punya tanah air.

Pada era Protokol Zion lah dimulainya era Aristocracy of Money. Uang menjadi Tuhan dalam sekularisme. One global government, Soros mempopulerkan dengan One State One Society. Untuk itu menguasai dunia dengan kekerasan diperbolehkan, sehingga pecah perang dunia I dan II. Kelaparan dijadikan alat politik di suatu negara untuk mendom

inasi pengaruh , dan dijadikan sekutu jika “manut” terhadap ideologi pragmatisme sekular. Kekuasaan uang disosialisasikan melalui kapitalisme global. Bisa dikatakan hanya Uni Sovyet, Cina, Kuba, Korea Utara, dan beberapa negara sosialis saja (2 miliar) dari 5 miliar penduduk dunia saat itu (tahun 1990-an) yang tidak menganut paham kapitalisme. Namun setelah Lehman Brothers rontok (2008) dan Inggris (Brexit), serta kehancuran Deutsche Bank (Jerman), pamor Yahudi hancur seiring dengan rezim finansial dunia. Seluruh negara seakan perlu menata ekonomi dan protektif dalam setiap kebijakannya (deglobalisasi).

Pasca Perang Dunia II, ditata ekonomi dunia dengan motor Amerika Serikat (AS), dikenal dengan The Federal Reserve (The FED) Bank Sentral AS menjadi polisi dan penentu ekonomi dunia (rezim neolib). The FED dimiliki oleh 12 pemegang saham dari penguasa ekonomi dunia saat itu, dan menjadikan USD sebagai mata uang dunia. Untuk menguasai ekonomi negara berkembang yang kaya sumber daya alamnya (termasuk Indonesia) didirikan lembaga donor; IMF, World Bank, dan Bank Pembangunan Asia. Fokus ekonomi pada Food and Energy Security sehingga tidak heran adanya konflik di Timur Tengah sebagai negara pengekspor minya dan negara-negara Agraris untuk bahan baku makanan untuk diproduksi dan sekaligus target menjadi konsumen negara-negara Barat. Ini yang ditentang Bung Karno sejak tahun 1930.

Untuk lebih mendominasi dunia tahun 1976 dideklarasikan CFR oleh AS sebagai garis politik luar negerinya. Dikenal dengan Declaration of Independence (1976), menguasai dunia dengan kekacauan (konflik). Maka konflik regional di Amerika Latin, Timur Tengah, Balkan (pasca runtuhnya Uni Sovyet), dan hadirnya terorisme adalah bagian dari CFR. Proxy War (adu domba) dimulai dari kapitalisme dengan komunisme, Islam Suni denga Syiah, dan benih konflik regional lainnya dalam konteks Proxy War. Lalu yang lebih ekstrim adalah merevolusi mata uang dan saham, serta obligasi sebagai ekonomi prot folio sehingga dengan mudah AS mengubah suatu rezim di suatu negara, kartena sudah tidak sesuai dengan garis politiknya. Akumulasi uang kebelahan dunia dikenal dengan kapitalisme global, berbagai negara terjebak menjadi budak dari kertas berharga dengan skema spekulasi Financial Games. Lalu negara terjebak utang melalui IMF dan World Bank, atau bilateral sehingga dipaksa mengoptimalkan pajaknya.

Indonesia dalam Orde Baru terjebak oleh skema ini, ketika Soeharto tidak lagi sejalan dengan misi mereka, lalu ditendang. Hal ini sama terjadi juga pada Marcos, Mahathir Muhammad, Fidel Castro, dicoba tapi tidak berhasil. Namun berhasil menggulingkan pemimpin negara-negara Amerika Latin dengan revolusi Latin dipimpin oleh Chaves di Kolumbia, diikuti oleh Argentina, Brazilia, Meksiko, dan negara-negara sekitar. Amerika Serikat tetap perkasa.

Namun dengan hadirnya nasionalis populis sebagai gerakan politik seolah-olah ada pengakuan kapitalisme global gagal. Inggris dengan Brexit, Trump dengan pidatonya tentang apa yang AS dapatkan 20 tahun ini sebagai koreksi total gagasan-gagasannya, kapitalisme, dengan AS bubarkan TPI tren dunia ke deglobalisasi.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here