Skema Ponzi, Investasi Bodong dari Adil Makmur Hingga First Travel

0
398
Pemilik sekaligus Direksi First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan kerap asik jalan-jalan ke Eropa, sementara puluhan ribu jamaahnya keleleran menanti ketidakpastian berangkat ke Tanah Suci Makkah-Madinah.

Nusantara.news, Jakarta – Sepertinya masyarakat kita malas belajar, sehingga harus terjerumus berulangkali pada kasus sejenis. Mulai tertipu oleh bisnis dengan skema Ponzi, money game, arisan berantai hingga pat gulipat atas nama ibadah haji dan umrah.

Semuanya menjanjikan angin surga, nyatanya cuma jebakan neraka. Itulah yang belakangan terjadi pada kasus First Travel.

Awal kasus MLM terjadi pada 1987 oleh Yayasan Keluarga Adil Makmur dengan inisiator Yusuf Ongkowijoyo. Praktiknya semacam arisan berantai berbentuk koperasi. Dengan membayar Rp260 ribu anggota bisa mendapatkan Rp5 juta, pada periode tertentu. Yayasan ini sudah mengumpulkan Rp20 miliar dari 74 ribu orang anggota.

Sistemnya gali lubang tutup lubang, begitu terus, karena tidak mampu membayar penerima arisan kesekian, akhirnya Ongkowijoyo masuk penjara.

Pada 1992 muncul Suti Kelola. Mereka berhasil menghimpun dana Rp35 miliar dari 4.000 nasabah. Suti menawarkan keuntungan 5% setiap bulan dari setiap investasi yang dikumpulkan. Bisnis ini ternyata hanyalah money game dan pemiliknya kabur.

Pada 2002, PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) yang digagas Ramly Arabi berhasil merayu masyarakat lewat investasi agribisnis. QSAR berhasil menghimpun dana Rp478 miliar dari 6.800 investor dan berkantor mewah di Jl Sudirman. Bahkan investor diajak melihat langsung kebun investasi di Sukabumi, yang ternyata kebun tersebut bukan miliknya.

Di Kalimantan Selatan ada Ustad Lihan pada 2009 berhasil mengajak masyarakat untuk berinvestasi berlian. Dengan janji pengembalian 10% tiap bulan, Ustad Lihan berhasil menghimpun dana Rp2 triliun, ia bahkan sempat membeli pesawat charter untuk meyakinkan anggota. Ujung-ujungnya masuk penjara.

Di Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, pada 2011, Jaya Komara berhasil menghimpun dana masyarakat hingga Rp4 triliun. Dengan kendaraan bisnis Koperasi Langit Biru (KLB) dan PT Transindo Jaya Komara, Kang Jaya menipu anggotanya.

Mantan juragan kerupuk ini berhasil menghimpun 62 supplier daging, sehingga kelihatan ada aktivitas bisnis. Pada kondisi tertentu ternyata KLB termehek-mehek membayar hak anggota. Dalam proses hukum, ia pun meninggal dan nasib dana anggota KLB tak jelas juntrungannya.

Akhir 2016 masyarakat Surabaya dikejutkan oleh munculnya penupu dengan kedok ahli penggandaan uang Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Ia meng-uppload kemampuannya menggandakan uang lewat situs Youtube dan direspon oleh para muridnya di seluruh Indonesia.

Berbondong-bondonglah masyarakat yang ingin uangnya digandakan, bahkan Kanjeng Dimas mendapat endorsement dari Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim. Kanjeng Dimas mengaku memiliki aset Rp2.000 triliun, kemudian menyusut menjadi Rp2 triliun, belakangan istrinya sendiri yang mengatakan asetnya hanya Rp2 miliar. Akhirnya ia ditangkap dan divonis penjara 18 tahun.

Kasus investasi bodong berkedok Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group (PMG) muncul di Depok awal Januari 2017. Bos Pandawa, Salman Nuryanto ditangkap pada 20 Februari 2017 setelah masuknya 72 aduan dari anggota koperasi yang merasa tertipu.

Tiap anggota dijanjikan Nuryanto mendapat return 10% perbulan dari setiap investasi yang ditanamkannya. Sampai ditangkap, Nuryanto berhasil mengumpulkan dana anggota hinggar Rp1,1 triliun.

Umrah bodong

Nampaknya penipuan demi penipuan tidak menyadarkan masyarakat. Kasus paling anyar munculnya tawaran menggiurkan dari First Travel. Perusahaan yang melaksanakan perjalanan umrah ini mematok angka sangat murah, sehingga puluhan ribu jamaah mau bergabung. (Baca: https://nusantara.news/kasus-first-travel-bukti-negara-tidak-hadir/ )

Suami istri pemilik First Travel, Andika Surachman dan istrinya Anniesa Hasibuan telah ditangkap polisi. Setelah di-cross check, ternyata jumlah dana dan nasabah yang dihimpun lebih besar dari perkiraan, yakni mencapai sedikitnya Rp1,05 triliun hingga Rp1,82 triliun.

Penyidik Bareskrim Polri meminta bantuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melacak aliran dana calon jemaah umrah yang ditilap. Kerugian calon jemaah yang tertipu First Travel nilainya mencapai Rp848 miliar.

Sebanyak 30 buku tabungan sedang diselidiki, Polri minta kepada PPATK untuk menelusuri aliran dananya tersebut, kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Herry Rudolf Nahak kepada pers.

Rudolf menyebut total jemaah promo yang mendaftar ke First Travel dari Desember 2016-Mei 2017 mencapai 72.682 orang. Sebanyak 14.000 orang sudah diberangkatkan.  Sedangkan kerugiaan jemaah dihitung dari paket promo yang dibayarkan yakni paket Rp14,3 juta dikalikan 58.682 orang yang belum berangkat, yakni Rp839 miliar.

Andika dan Anniesa sebenarnya terbilang orang beruntung, ia sebelumnya hanyalah pedagang seprei, jualan pulsa, bisnis burger, dan nasibnya beruntung ketika memasuki bisnis travel.

Pada 2011 peruntungannya terbukti, puluhan ribu jamaah bergabung berangkat umrah lewat First Travel, bahkan 124 karyawan Bank Indonesia pun mempercayakan kepada Andika dan Anniesa.

Puncaknya pada 2014, First Travel dinobatkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) atas diselenggarakannya Manasik Umrah Akbar yang diikuti oleh 35.000 jamaah pada 1 November 2014.

Kunci dari keberhasilan sejoli ini adalah menawarkan tiga paket umroh. Pertama, umroh berbiaya murah, hanya Rp14,5 juta selama 9 hari. Padahal, Kementerian Agama dan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) telah menetapkan biaya minimal yang sesuai standar untuk pelaksanaan umrah sebesar US$1.700 atau senilai Rp22 juta.

Kedua, First Travel menawarkan penjualan biaya umrah reguler dibanderol dengan harga Rp25 juta. Ketiga, paket VIP seharga Rp54 juta.

Rupanya penggemar terbanyak adalah paket pertama, namun karena kewalahan akhirnya belakangan Andika dan Anniesa kedodoran. Gagal berangkat dan gagal bayar tagihan hotel maupun pesawat, bahkan gagal dalam pembuatan visa ribuan jamaah.

Setidaknya ada enam keanehan bisnis First Travel sehingga dia sempat booming dan akhirnya bangkrut. Pertama, konsep Ponzi dengan gali lubang tutup lubang lewat anggota baru yang direkrutnya untuk menutup kewajibannya kepada anggota terdahulu. Sekarang lah titik jenusnya.

Skema Ponzi adalah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini. Skema ini dicetuskan oleh Charles Ponzi, yang kemudian menjadi terkenal pada tahun 1920.

Kedua, First Travel melakukan pencucian uang, sudah 30 rekening di-tracking alirannya. Bahkan terakhir Andika mengaku rekeningnya hanya tinggal Rp1,3 juta. Kemungkinan sebagian besar dananya telah dicuci di luar negeri.

Ketiga, bisnis berbungkus perjalanan umrah ini sejatinya adalah penipuan. Tersangka tidak mampu memenuhi janji-janji surganya kepada jamaah sehingga akan dikenakan pasal pidana.

Keempat, aduan 13 agen menguak kejahatan First Travel, karena mereka merasa dirugikan akibat calon jamaahnya tidak kunjung berangkat meski sudah melunasi setoran uang tunai.

Kelima, pasangan Andika dan Anniesa ini termasuk berdarah dingin. Sementara puluhan ribu jamaah menangis, sakit, bahkan ada yang masuk rumah sakit, mereka berdua malah jalan-jalan ke Paris, Amerika, bahkan keliling dunia.

Keenam, janji investasi berbalas umrah murah hanyalah janji-janji manis pemilik. Dengan memberangkatkan para pendahulu, kemudian pendahulu ditunjuk sebagai agen, pada akhirnya agen-agen inilah yang berfungsi merekrut sebanyak mungkin jamaah.

Akhirnya, kembali kepada masyarakat, berhentilah berbisnis dengan janji-janji surga. Pengembalian yang tidak rasional, terlalu murah, dan pat gulipat lainnya. Hiduplah secara wajar dan sederhana agar hati tenang jadinya. Jangan pernah bermimpi hidup mewah tanpa langkah nyata.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here