Skenario Pembunuhan Harus Dibongkar

0
84

DEMO berdarah dan merenggut nyawa 22-23 Mei kemarin, rupanya menyimpan target yang lebih berbahaya. Setidaknya demikianlah menurut polisi. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, ada upaya merancang pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei.

Tito membeberkan empat nama tokoh yang diancam dibunuh oleh massa perusuh pada 21 Mei hingga 22 Mei 2019. Keempat tokoh tersebut yakni Menteri Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Badan Intilijen Negara Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intilijen dan Keamanan Gories Mere.

Sebelumnya Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal menyebutkan sudah enam tersangka yang dijerat terkait kasus tersebut. Keenamnya dikatakan Iqbal adalah orang yang sudah berpengalaman untuk melakukan pembunuhan.

Siapa yang memberi perintah pembunuhan dengan imbalan uang tersebut? Menurut Iqbal, identitasnya sudah diketahui, tetapi belum diungkapkan ke publik.

Rencana pembunuhan, menurut polisi, adalah bagian dari tiga kelompok yang disebutnya “penumpang gelap”dari aksi unjuk rasa menolak hasil Pemilu Presiden di depan Bawaslu pada 21- 22 Mei. Kelompok pertama adalah mereka yang berusaha menyelundupkan senjata api ilegal dari Aceh. Senjata ilegal tersebut antara lain jenis M4 Carbine berikut dua buah magasin, peredam suara, tali sandang, dan tas senjata. Ada pula senjata api berjenis Revolver dan Glock beserta 50 butir peluru.  Kelompok ini melibatkan mantan Danjen Kopassus Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko. 

Kelompok kedua adalah kelompok teroris yang memiliki afiliasi dengan ISIS. Kelompok ketiga, ya, para perencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional di atas.

Kalau temuan polisi ini benar, berarti negara kita menghadapi sesuatu yang serius. Sebab, jia kontestasi politik dalam pemilu disisipi, atau dimanfaatkan kelompok tertentu, untuk melakukan pembunuhan, jelas bukan gejala kriminalitas biasa. Politik Indonesia telah menunjukkan sisi wajahnya yang beringas. Selama ini sisi buruk wajah politik Indonesia yang terlihat baru sudut yang korup dan egoistik. Tapi kini –sekali lagi jika apa yang dikatakan polisi itu memang terbukti— ternyata ada wajah lain yang berbahaya.

Itu sebabnya, kita sangat mengharapkan, Polri membongkar tuntas kasus ini. Semua ini harus dibuktikan. Kita menghormati peran polisi sebagai penegak hukum. Tetapi penegakan hukum itu tentu saja harus berakhir tuntas hingga ke hilir. Polisi harus bisa menjamin agar perkara ini, yang sudah masuk ke tahap penyidikan, berlanjut hingga ke pelimpahan ke kejaksaan dengan prosedur dan sistem pembuktian yang kuat. Dengan demikian kejaksaan bisa memprosesnya hingga ke tahap penuntutan di pengadilan. Sejauh didukung bukti-bukti yang kuat, pengadilan pun pun tentu akan memutus secara adil.

Pengungkapan tuntas ini bukan saja tentang siapa eksekutor di lapangan, tetapi yang lebih penting mengungkap siapa sebenarnya auctor intellectualis, atau orang yang menjadi otak perencanaan itu. Agar dapat diketahui apa motifnya dalam merencanakan pembunuhan itu.

Pengungkapan yang tuntas  ini sangat penting. Dalam kepentingan penegakan hukum, harus ada yang bertanggungjawab atas setiap perbuatan. Tindakan jahat tidak boleh dibiarkan tanpa ada hukuman. Tentu saja sekali lagi pengungkapannya harus memenuhi prinsip-prinsip pembuktian yang sahih secara hukum, baik formil maupun materiil.

Repotnya kasus ini terjadi bersamaan dengan pertikaian tentang hasil Pemilu Presiden 2019. Sehingga terkesan kasus rencana pembunuhan ini seolah berhimpitan, atau terkait dengan, pertikaian politik itu. Padahal, menurut polisi, para pelaku itu bukan para pengunjuk rasa melainkan penumpang gelap yang memanfaatkan momentum saja.

Jika pengungkapannya tidak tuntas sampai ke pengadilan, bisa menimbulkan kesan bahwa ini semacam pengalihan perhatian publik dari silang-sengketa soal hasil pemilu. Polri akan dianggap ikut bermain dalam perselisihan itu.

Seperti kita bahas sebelumnya, tragedi Mei 2019 ini jangan bernasib seperti Tragedi Mei 1998 yang tak pernah terselesaikan. Selama 20 tahun kasus 1998 berjalan di “jalan tiada ujung”, sampai akhirnya tak mungkin lagi mencari pembuktian secara formil dan materiil. Senyampang kasus Mei 2019 ini masih hangat, tersangkanya masih ditahan, tanah kuburan para korban belum mengering, segeralah tuntaskan. Kalau tidak beban sejarah akan makin berat menghimpit bangsa ini di kemudian hari.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here