Ekspansi Ekonomi Cina di Afrika (3)

0
723

Nusantara.news, Dalam jangka panjang Cina sudah memikirkan dengan matang investasinya di Afrika. Afrika setelah ditinggalkan Perancis dan setelah kesepakatan dengan AS, agar Cina investasi di lembaga donor dunia : IMF, World Bank, dan ADB, Cina menfaatkan peluang ini dengan meminta agar lembaga donor berinvestasi ke Afrika dan sebagian negara-negara di Asia. Hal ini disepakati pemegang saham dan Cina sangat akseleratif membangun Afrika.

Tahapan strategi yang dilakukan Cina, adalah :

  1. Cina menawarkan kebijakan pinjaman kepada negara-negara Afrika dengan berbagai modal. Pemerintah negara-negara Afrika mendukung skema Cina karena tidak ada persyaratan khusus tentang investasi dan kebijakan politik
  2. Cina mengaitkan pinjaman itu dengan kebijakan pembangunan infrastruktur; jalan raya, listrik, air bersih, kereta api, rumah sakit, sekolah dan sektor kebutuhan dasar lainnya.

Dengan kedua tahap diatas, Cina memperoleh kepercayaan pemerintah di negara-negara Afrika, lalu mulai memasukan produk-produk Cina di negara-negara tersebut. Dengan skema 1 paket TURNKEY Project, diantaranya bahan baku dari Cina yang dinegaranya over capacity seperti : baja, kayu, energi, dll.

Tahap ketiga adalah tentang energi (migas) agar dijual ke Cina sehingga mengurangi ketergantungan Cina pada Timur Tengah yg dikuasai Seven Sister (negera barat) didominasi AS.

Pada tahap keempat, mempengaruhi kekuatan militer dengan sentuhan senjata dan pelatihan. Selain membuat militer Afrika sebagai pembeli produk-produk militer Cina  juga sekaligus mengamankan investasi dari risiko nasionalisasi dikemudian hari, jika ada perlawanan dari rakyatnya. Hasil penjualan dan keuntungan perusahaan-perusahaan minyak Cina di Afrika, sebagian untuk melobi, petinggi militer dan pemerintahan di negara Afrika yang menjadi targetnya.

Secara jangka panjang tahapan strategi diatas memenuhi kebutuhan strategi Cina di Afrika, menjadikannya daerah pasar yang berkelanjutan dan secara geopolitik memperkuat pengaruhnya dikawasan tersebut. Secara historikal Cina ada jalur sutra, politik kawasan Asia Afrika, ekonominya Cina mempertegas dengan istilah OBOR (One Belt One Road), untuk jalur-jalur ekonominya.

Namun, ternyata yang direncanakan tidak semulus rencana Cina, ekses investasi yang sekaligus dengan paket tenaga kerja Cina, terjadi gesekan dengan tenaga kerja kasar di Afrika yang sangat membutuhkan lapangan kerja.

Konflik yang meluas sebagai kerusuhan sosial antar tenaga kerja Cina dengan penduduk lokal juga antara masyarakat lokal melawan polisi dan militer yang mengamankan kebijakan pemerintah. Misalnya di Kabinda (Angola) satu area kaya minyak, ketika front pembebasan didaerah Kabinda (FLEC) bertempur melawan perusahaan pemerintah menewaskan 40 orang dari kedua belah pihak. FLEC menuntut pemerintah Cina menarik semua warga negaranya di Kabinda karena dianggap memprovokasi penduduk lokal.

Secara kulturpun tenaga kerja Cina menimbulkan gesekan khususnya diarea proyek investasi Cina. Gaya hidup yang eksklusif dan sering melanggar budaya dan kedaulatan penduduk lokal. Contohnya memaksakan penggunaan bahasa dengan huruf Cina dalam operasional bekerja. Secara mencolok mereka mencontohkan Cina sebagai “Tuan di Afrika”.

Melihat apa yang terjadi di Afrika, akhirnya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Cina bukanlah mitra strategis. Diawal dipandang sebagai mitra membangun infrastruktur pada akhirnya adalah sebagai imprealisme baru dibumi Afrika.

Cina sebagai No.1 di perdagangan dunia (WTO) saat ini dan pemilik GDP terbesar menjadi kekuatan penyeimbang AS, kedua negara terjadi perang dingin. Perang dingin sebelumnya antara Uni Soviet (1989) yang berubah menjadi Rusia (1991) setelah beberapa negara Uni Soviet memerdekakan diri. Proxy war antara Cina dengan AS, setelah 20 Januari 2017 Presiden Trump terpilih dilantik, tentu perseteruan semakin memanas khususnya dibidang ekonomi. American Great Again (American First) adalah slogan yang membuat Trump keluar sebagai pemenang dalam pilpres 2016 dengan seteru dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Sikap anti estabilishment dari Trump akan berekses ke Cina, karena dia bertekad memenangkan perang dingin dengan Cina. Dalam sistem kapitalisme global FDI (Foreign Direct Investment) bukan lagi satu-satunya medium investasi.

Rekayasa finansial denga surat-surat berharga; SUN, BOND, Saham, obligasi,saham dan valas, Cina belum punya pengalaman panjang soal ini. Cina baru dua dasawarsa terlibat dalam sistem keuangan global.

Cina akan menghadapi persoalan besar dalam perang dingin dengan AS, setelah Trump dilantik secara resmi menjadi Presiden, 20 Januari 2017 mendatang

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here