‘Slip of Tongue’, Politik Saling ‘Goreng Ucapan’ Jokowi Vs Prabowo

0
46

Nusantara.news, Jakarta – Benar kata Yudi Latif, mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan seorang pemikir kebangsaan, bahwa perkembangan politik di Indonesia kian tidak bermutu. Antara persoalan dan jawaban tidak tersambung, antara ucapan dan tindakan bertolak belakang. Bangsa ini dirundung banyak masalah fundamental yang memerlukan jawaban substantif, namun sepak terjang para elite politik kita malah terjebak dalam keriuhan remeh-temeh dan ritual politik lima tahunan dengan daya rusak yang berkelanjutan.

Dalam kampanye Pilpres 2019, misalnya, kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden tak menunjukkan pertukaran ide dan gagasan. Yang terjadi saat ini justru saling serang, saling melemahkan, adu nyinyir, dan saling lapor ke polisi, dengan tabiat politik tak berkelas. Kampanye yang sejatinya menampilkan pertautan komitmen politik antara pemilih dengan capres-cawapres, pun menjadi semakin jauh dari harapan.

“Kampanye Pilpes 2019 sangat dangkal dengan gagasan. Penyampaian tidak substansial, mengada-ngada, superartifisial. Lebih banyak diisi olok-olok daripada menawarkan visi, misi, dan program kerja pasangan calon presiden dan wakil presiden,” kata analis politik Exposit Strategic Arif Susanto.

Saling Menggoreng Ucapan

Tak hanya itu, masing-masing kubu dalam kampanye pilpres kali ini juga gemar memelintir dan ‘menggoreng’ ucapan capres-cawapres. Mereka seolah saling mengintip saat-saat Jokowi-Ma’ruf Amin ataupun Prabowo-Sandiaga Uno ‘keseleo’ berbicara. Jika muncul satu ‘diksi ambigu ataupun kontroversial’ saja, mereka seakan telah menemukan perkakas untuk men-dogwngrade lawan politiknya dengan cara yang murah. Mereka kemudian mengkapitalisasi dan mendramatisasi sedemikian rupa guna meraup berkah elektoral.

Tak heran, beberapa ucapan capres Prabowo saat kampanye, dianggap blunder oleh sejumlah pihak. Misalnya, soal tampang Boyolali. Meski sebenarnya ledekan Prabowo itu bermaksud mencandai sistem perekonomian Indonesia yang menurut kubunya makin bobrok. Gara-gara ujaran itu, Prabowo diprotes oleh kelompok yang menamakan diri Forum Boyolali Bermartabat. Mereka menggelar aksi Save Tampang Boyolali pada Ahad, 4 November 2018.

Selain tampang Boyolali, ada pula ucapan Prabowo yang diprotes yakni soal pengojek. Menurut juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandiaga, Andre Rosiade, Prabowo sebenarnya tengah menjelaskan soal minimnya lapangan kerja hingga membuat masyarakat banting stir menjadi pengojek. Ucapan itu kemudian ditafsirkan merendahkan profesi tukang ojek.

Serupa dengan Prabowo, ucapan cawapres Sandiaga Uno juga jadi sasaran ‘goreng-menggoreng’ oleh kubu Jokowi, misalnya soal tempe setipis ATM.

Di kutub lain, pasangan Jokowi-Ma’ruf pun tak lepas dari ‘gorengan politik’ kubu oposisi. Ucapan Jokowi  yang tak biasa dan berubah ofensif seperti diksi ‘sontoloyo, genderuwo, bahkan tabok’, lantas menuai polemik.

Bagi banyak pihak, konteks ini mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang-orang yang mengikuti garis politik Jokowi, tentu saja timbul pertanyaan terkait perubahan sikap politik yang demikian. Pihak oposisi misalnya menggunakan momentum kata-kata Jokowi itu sebagai jalan untuk mengeritiknya dan menyebutkan bahwa sang presiden sedang “menunjukkan sifat aslinya”. Konteks ini kemudian dijadikan sebagai jalan untuk menjustifikasi bahwa selama ini apa yang ditampilkan oleh Jokowi di hadapan publik adalah “pencitraan”

Belum kering kehobohan soal ‘sontoloyo, genderuwo, dan tabok’, diksi yang dinilai tak pantas muncul lagi. Kali ini dilontarkan oleh cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin, dengan kata ‘budek’ dan ‘buta’ untuk menyindir orang-orang yang kerap mengkritik kinerja Presiden Jokowi. Karuan saja, ucapan Ma’ruf ini pun menjadi ‘bahan bakar’ tambahan untuk ‘melumpuhkan’ pasangan nomor urut 01 ini.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga beserta partai pendukung dalam acara Deklarasi Damai Pilpres 2019 yang diadakan oleh KPU di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Slip of Tongue 

Kedua kubu mungkin menganggap akan diuntungkan dengan menggoreng ucapan lawan politik. Pada titik ini, kedua kubu seolah menanti Jokowi ataupun Prabowo mengalami slip of tongueSlip of tongue adalah keadaan ketika seseorang salah mengucapkan kata-kata. Hal ini mungkin terlihat biasa, tetapi di dalam politik, kesalahan mengucapkan kata bisa berakibat fatal.

Mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron pernah mengalami kesalahan fatal tersebut. Pada saat Pemilu di Inggris tahun 2015, Cameron membuat kesalahan dengan mengatakan bahwa kontestasi politik itu adalah momen untuk “menentukan karier”. Padahal ia sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa Pemilu akan “menentukan negara”. Karena kesalahan itu, Cameron mendapat kritik dari berbagai pihak. Ia dianggap mengedepankan urusan karier pribadi dibandingkan memprioritaskan negara.

Di Indonesia, slip of tongue atau kesalahan dalam berkata-kata pernah dialami oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pada tahun 2016, Ahok bereaksi terhadap isu-isu agama yang dimainkan pada Pilkada DKI.

Sebagai salah satu kandidat dalam Pilkada, Ahok berusaha menjawab isu tersebut dengan mengatakan kalau sekelompok orang telah memanfaatkan surat Al-Maidah untuk mengalahkannya di Pilkada. Ahok pun justru “terpeleset” dengan ucapannya sendiri. Ia didemo berkali-kali oleh puluhan ribu massa dengan tudingan telah menistakan agama Islam. Alhasil, Ahok kalah di Pilkada DKI.

Berkaca pada kasus Ahok dan Cameron, apakah mungkin salah satu paslon di Pilpres 2019 pada akhirnya akan bernasib serupa gara-gara kesalahan berbicara? Entahah.

Yang jelas, manuver saling ‘mempolitisasi atau menggoreng’ ucapan lawan politik oleh kedua kubu, kenyataannya membuat publik tidak respek kepada mereka. Bahkan kondisi tersebut bisa menjadi sebab masyarakat banyak yang ‘golput’ alias tidak memilih di Pilpres mendatang. Di luar itu, ini tentu kemunduran bagi demokrasi kita.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here