Soal Freeport, Deal Apa yang Ditandatangani Jokowi dan Mike Pence?

0
244
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael R. Pence (kiri) di halaman Istana Kepresidenan saat kunjungan kehormatan, Jakarta, Kamis (20/4). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.

Nusantara.news, Jakarta – Michael Richard “Mike” Pence tidak secara gamblang menyebutkan, agenda kedatangannya ke Indonesia untuk membicarakan masalah tambang Freeport di Papua. Kepada media, Pence hanya menyebut agenda kunjungannya ke Pemerintah Indonesia sebagai upaya mendapatkan hubungan dagang yang “bebas dan adil” untuk menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan kedua negara.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia masuk dalam daftar perdagangan utama AS, dan saat ini perusahaan AS Freeport-McMoran Inc., yang mengoperasikan tambang emas terbesar dunia serta tembaga terbesar kedua dunia di provinsi Papua, tengah dalam perselisihan yang berkepanjangan dengan pemerintah Indonesia.

Apa iya, kedatangan Wapres AS untuk sekadar, misalnya, membahas masalah produk alas kaki dan tekstil Indonesia yang memang banyak diekspor ke AS? Atau produk impor otomotif AS yang tak begitu laku di Indonesia?

Sejumlah pejabat pembantu presiden seperti Menko Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kompak menjawab bahwa masalah Freeport hanya sedikit disinggung dalam pembicaraan Presiden Joko Widodo dan Wapres AS Mike Pence. Selebihnya, kedua pemimpin itu membicarakan masalah hubungan ekonomi kedua negara.

“Tadi Presiden bicara sama Pence bagus tadi. Pence sangat puas dengan penjelasan Presiden. ‘Masa rakyat kita minta saham lebih banyak enggak boleh?’” kata Luhut di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Kamis (20/4).

“Freeport is done, sudah ditandatangani,” demikian kata Menlu Retno, seakan enggan mengulas lebih jauh polemik Freeport.

Begitu juga dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga menjamu Wapres AS  di kantornya. Kalla mengaku tidak mau menyinggung pembicaraan soal Freeport dengan mitranya. Menurut Kalla Pence sempat bertanya soal Freeport, tapi Kalla menjawab bahwa perselisihan sudah selesai, dan sedang berjalanan proses G to B (Government to Bussines).

Kalla mengatakan kepada Pence, masalah yang tersisa adalah terkait perbaikan kontrak. “Dia (Pence) tidak menanggapi, dan dia tidak membicarakannya,” kata Kalla.

Apakah benar masalah perselisihan Freeport dan pemerintah Indonesia telah usai?

The Sydney Morning Herald melaporkan pada Kamis (20/4) bahwa perusahaan asal Inggris Rio Tinto yang merupakan mitra Freeport McMoran di tambang tembaga Grasberg, Papua, berharap adanya hasil positif terhadap masa depan Freeport setelah pertemuan Wapres AS dengan pemerintah Indonesia. Selama ini, Rio Tinto berhak atas 40 persen produksi tembaga yang dihasilkan tambang Grasberg.

Rio Tinto, yang produksi tembaganya mengalami pukulan berat karena masalah perselisihan Freeport dan pemerintah RI, ikut menunggu hasil lobi kunjungan Wapres AS ke Indonesia.

Mitra mayoritas FreeportMcMoran di tambang Grasberg ini mengatakan bahwa awal bulan ini telah kehilangan pendapatan sekitar USD 1 miliar setelah ekspor konsentrat tembaga dihentikan pada 12 Januari karena peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.

“Sebagai konsekuensi dari larangan ekspor tersebut, Rio Tinto melaporkan pangsa logamnya untuk kuartal pertama dengan angka nol,” kata Rio Tinto dalam sebuah laporan yang dirilis ke bursa pada Kamis (20/4) pagi.

Saham Rio Tinto turun 0,39 persen menjadi USD 58,67 pada Kamis (20/4).

“Diskusi yang berlanjut antara Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mencapai kesepakatan jangka panjang yang saling memuaskan,” demikian harap Rio Tinto.

Seperti telah diduga sebelumnya, isu Freeport akan kembali mengemuka dalam kunjungan Wapres AS Mike Pence ke Indonesia, kendati sejumlah pejabat pemerintah menyebut masalah Freeport hanya dibahas sepintas lalu. Sesuatu yang, rasanya, tidak mungkin. Terutama, mengingat rezim pemerintah AS sekarang adalah sokoguru dari perusahaan tambang terbesar dunia itu. Penasehat senior Presiden AS,  Carl Icahn, adalah pemegang saham Freeport. Bukan tidak mungkin, Trump yang juga mantan pengusaha, memiliki saham dengan nama orang lain.

Grasberg, yang terletak di Papua adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga terbesar kedua.

Perselisihan antara Freeport dan pemerintah ini disebabkan peraturan baru yang mengharuskan Freeport mengubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Penambangan Khusus (IUPK), membangun smelter, membayar pajak dan royalti baru serta melakukan divestasi 51% saham dalam operasinya.

Freeport mengancam akan mengajukan sengketa ke Arbitrase namun kompromi telah dicapai pada awal bulan ini yang memungkinkan Freeport kembali mengekspor konsentrat tembaganya, sementara negosiasi berlanjut selama enam bulan ke depan.

Bulan lalu, CEO Rio Tinto Group Jean-Sebastien Jacques mengatakan kepada Bloomberg bahwa karena masalah tersebut pihaknya mempertimbangkan kepemilikan sahamnya di tambang Grasberg.

Pengacara pertambangan Bill Sullivan mengatakan kepada The Sydney Morning Herald, Kamis (20/4) bahwa Rio Tinto terus memantau secara seksama soal kunjungan Mike Pence ke Indonesia.

“Mengklarifikasi situasi mengenai Freeport dan mencari kepastian bagaimana Freeport dapat melangkah maju mengembangkan tambang Grasberg secara komersial, sebab kepastian fiskal adalah kunci,” katanya.

Jadi, sekali lagi, apakah mungkin tidak ada lobi-lobi tentang Freeport dalam kunjungan Wapres AS ke Indonesia? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here