Soal Pemakzulan Trump: Rusia “No Comment”, Warga Korsel Menyarankan

0
36

Nusantara.news, Moskow/Seoul – Wacana pemakzulan atau impeachment Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin menguat. Lebih-lebih setelah terkuak laporan bahwa Trump meminta mantan Direktur FBI James Comey agar menutup penyelidikan terhadap mantan penasihat keamanan nasionalnya, Michael Flynn, terkait skandal komunikasi ilegal dengan Rusia, sebelum Trump memecat Comey. Tidak saja di Amerika, wacana pemakzulan Trump juga diangkat di sejumlah negara.

Di Rusia, negara yang dituding komunitas intelijen AS telah ikut campur mempengaruhi Pemilu AS, wacana pemakzulan Donald Trump sebagai presiden AS juga mengemuka. Wajar, karena isu pemakzulan Trump di AS salah satunya karena tudingan adanya kerja sama ilegal antara tim pemenangan Trump dengan pihak Rusia.

Terakhir, Trump diduga melakukan kesalahan fatal dengan membocorkan informasi intelijen kepada pihak Rusia dalam pertemuan di Gedung Putih beberapa waktu lalu.

Sebagaimana dilaporkan Newsweek, Jumat (19/5) saat dimintai komentar tentang prospek hubungan Rusia dan AS jika Presiden Donald Trump dimakzulkan, juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut bahwa pertanyaan yang diajukan wartawan itu “tidak benar”.

Rusia memang menjadi masalah inti dalam kontroversi pemerintahan Trump yang tengah dalam penyelidikan badan intelijen AS. Namun Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali membantah bahwa Rusia sama sekali tidak mempunyai peran dalam masalah tersebut.

“Saya menganggap pertanyaan itu tidak benar,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Kamis (18/5), sebagaimana dilansir kantor berita negara Rusia, Tass.

“Kami tidak ikut campur dan tidak mau mencampuri urusan dalam negeri (negara) mana pun,” tegas Peskov.

Setelah dituduh oleh komunitas intelijen dan media AS menghalang-halangi penyelidikan terhadap Flynn dalam skandal kolusi dengan Rusia. Pekan ini Rusia kembali dituding terkait dengan pembocoran informasi rahasia oleh Donald Trump melalui Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan duta besar Rusia untuk AS Sergey Kislyak saat mereka bertemu di Gedung Putih pekan lalu.

Menurut sejumlah media di Rusia, sehari setelah berita itu tersebar, Putin menertawakan kejadian tersebut.

“Dia (Trump) belum berbagi rahasia apa pun dengan kami,” kata Putin.

Bahkan, untuk membuktikan hal tersebut, Putin menawarkan kepada Trump untuk memberikan catatan tertulis tentang percakapan antara Menlu Lavrov dan Trump.

“Jika pemerintah AS menganggapnya mungkin, kami siap menyampaikan rekaman pertemuan Lavrov dan Trump kepada Senat dan Kongres AS,” katanya.

Rusia pada awalnya berharap dapat mengatur ulang hubungan antara Moskow dan Washington setelah kemenangan Trump dalam pemilu pada November tahun lalu. Namun, harapan tersebut tampaknya semakin memudar di tengah sorotan media yang sangat intens tentang skandal campur tangan AS terhadap kemenangan Trump dalam Pemilu AS.

Hari Rabu lalu, mantan Direktur FBI Robert Mueller ditunjuk sebagai Penasihat Khusus untuk menyelidiki hubungan antara kampanye Donald Trump dan gangguan siber yang dilakukan Rusia untuk mengarahkan pemilih AS dalam pemilu 2016 lalu.

Warga Korea Selatan Sarankan Pemakzulan

Pemakzulan Presiden AS juga mendapat tanggapan luas dari warga Korea Selatan, negara yang sebetulnya merupakan sekutu AS di kawasan itu. Namun Korea Selatan baru saja mempunyai pengalaman memakzulkan presiden dengan cara yang damai, karena presiden mereka, Park Geun-Hye tersandung skandal korupsi.

Warga Korea Selatan tahu bagaimana cara menurunkan seorang presiden. Mereka selama tujuh belas minggu melakukan demonstrasi damai, dan yang penting dikombinasi dengan pemungutan suara dari parlemen dan keputusan pengadilan, menyebabkan pemakzulan Presiden Park Geun-hye pada Maret lalu berjalan mulus. Mantan presiden Park sekarang berada di balik balik jeruji besi dan diadili atas 18 tuduhan, termasuk masalah penyuapan dan pemerasan.

Moon Jae-in, seorang politisi liberal yang berbeda dengan Park yang konservatif, akhirnya berhasil menggantikan kekuasaan presiden yang dimakzulkan itu setelah melewati proses pemilihan umum. Moon Jae-in telah berkuasa di Korea Selatan mulai awal bulan ini.

Merasa telah berhasil menjalankan pemakzulan presiden di negaranya, warga Korea Selatan kini terobsesi agar rakyat AS melakukan hal yang sama di Washington.

“Kami perlu mengekspor pengetahuan Korea Selatan tentang bagaimana memperlakukan presiden dan memakzulkan presiden secara damai tanpa menumpahkan satu tetes darah pun,” tulis Kang, salah seorang warga Korea Selatan di blog miliknya.

Demonstrasi pemakzuan mantan presiden Park di Korea Selatan diawali dengan demonstrasi menyalakan lilin secara besar-besaran di sebuah plaza tengah di kota Seoul, yang kemudian berlangsung dalam 17 minggu.

Saat ini, partai oposisi pemerintah, Partai Demokrat sudah mulai membahas tantang prospek pemakzulan, termasuk yang digagas Al Green anggota senat Demokrat dari wilayah Texas, meskipun Green harus berjuang lebih keras karena untuk memakzulkan Trump butuh dukungan dari mayoritas anggota parlemen dan persetujuan dari dua pertiga anggota Kongres AS. Bukan hal yang mudah, mengingat Demokrat saat ini minoritas di parlemen maupun Kongres.

Jajak pendapat terakhir oleh Morning Consult dan Politico menunjukkan bahwa 53% orang Amerika tidak setuju dengan kinerja yang dilakukan Trump sebagai presiden. Hanya 41% yang setuju dengan kinerjanya, 6% sisanya tidak memberikan pendapat.

Sementara itu, lebih dari setengah (58%) warga AS berpendapat keputusan Trump berbagi informasi sangat sensitif dengan diplomat Rusia tidak tepat, hanya dengan 22% yang mendukung presiden.

Terkait pemecatan James Comey 50% responden menjawab itu tidak patut. Hanya 28% yang mengatakan itu adalah keputusan yang tepat.

Dengan hasil survei tersebut apakah warga AS akan tergerak menyuarakan pemakzulan presiden Trump, sebagaimana dilakukan warga di Korea Selatan?

Tentu saja situasi dan sistem politik Korsel dan AS tidak bisa disamakan, tapi jika rakyat AS berkehendak, dalam negara demokrasi, pemakzulan terhadap seorang presiden sangat mungkin bisa terjadi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here