Soekarwo dan Pena Emas di Peringatan HPN

0
65
Soekarwo "Di Jawa Timur media telah menjadi teman diskusi pemerintah"

Nusantara.news, Surabaya – Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke 32, digelar di Muaro Lasak, Danau Cimpago, Padang, Sumatera Barat. Di acara itu Gubenur Jawa Timur Soekarwo menerima penghargaan Pin Pena Emas, yang disematkan oleh Menteri Kominfo RI Rudiantara, dan dilakukan di hadapan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (9/2/2018).

Pakde Karwo -sapaan akrab Soekarwo- sebelum menerima penghargaan tertinggi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebelumnya, saat menyampaikan pidato di Hall Gedung Dewan Pers, Jakarta, beberapa waktu lalu, disebutkan mendapat predikat cumlaude dari 16 panelis yang memberi penilaian.

“Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk masyarakat dan media di Jatim. Karena komunikasi itu tidak sendiri, melainkan ada komunikator dan komunikan,” ungkap Soekarwo.

Menurutnya, keterlibatan media atau pekerja pers dalam pembangunan sangat penting. Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Jatim membuka seluas-luasnya dialog interaktif dengan masyarakat melalui ruang publik yang difasilitasi media.

Baca juga: Nonaktif dari Ketum PWI, Margiono Kerahkan Ribuan Massa

Bisa melalui dialog di televisi, melalui acara cangkrukan, ajang wadul, obrolan issue publik dan dialog-dialog khusus yang menyangkut kepentingan masyarakat. Juga sosialisasi program di radio swasta dan milik pemerintah serta analisis konten media.

“Di Jawa Timur media telah menjadi teman diskusi pemerintah,” terangnya.

Di peringatan itu, Soekarwo menjadi satu-satunya gubernur yang menerima penghargaan penyandang pena emas. Selain Soekarwo, kepala daerah yang juga menerima penghargaan adalah Bupati Tabalong, Kalimantan Selatan, Anang Syakhfiani.

Pers Sebagai Penyampai Kebenaran

Jokowi “Saya terus berharap insan pers di Indonesia menjadi penyalur kebenaran, penyalur fakta, sekaligus penyalur aspirasi masyarakat”

Di acara itu Presiden RI Joko Widodo menyebut, di tengah melimpahnya informasi yang beredar di masyarakat peran pers sangat diperlukan sebagai penegak penyampai kebenaran. Selain itu, pers juga berperan untuk menegakkan fakta-fakta dan penyampai aspirasi masyarakat sehingga bisa membangun narasi kebudayaan baru.

“Media massa dan pers merupakan pilar keempat demokrasi,” kata Joko Widodo.

Kata Joko Widodo, sekitar lima tahun sebelumnya, banyak analisa yang muncul bahwa media massa sebagai media mainstream keberadaannya akan digeser dengan media sosial. Namun, Joko Widodo justru percaya kalau media massa ke depan mampu dan akan membangun narasi peradaban baru, memotret masyarakat yang bergerak cepat dan semakin efisien.

“Saya terus berharap insan pers di Indonesia menjadi penyalur kebenaran, penyalur fakta, sekaligus penyalur aspirasi masyarakat. Selamat Hari Pers Nasional 2018,” ungkap Joko Widodo di depan undangan termasuk sejumlah menteri Kabinet Kerja, para duta besar, juga terlihat Ketua DPD RI Oesman Sapta, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo, Ketua PWI Pusat Margiono, dan sejumlah insan pers dari sejumlah daerah di Indonesia.

Kenapa Jadi Wartawan?

Jadi teringat sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang ibu penjual ikan asin di pasar ikan di Surabaya. Perempuan renta namun masih bersemangat mengais rejeki dengan berjualan ikan asin di emperan lapak (karena tidak mampu beli lapak sendiri), terdengar kalimat lirih, “Kenapa jadi wartawan Mas?,” Jawaban spontan muncul dari lelaki tersebut, “Karena ada yang harus dilawan Buk,” katanya singkat.

“Lawan” kalimat singkat yang memiliki banyak makna. Siapa yang dilawan, apa yang dilawan, perempuan itu pun tak terlihat cerdas melontarkan pertanyaan lanjutan yang seharusnya dilontarkan.

Namun, siapa dan apa yang harus dilawan oleh penulis berita adalah mereka, perorangan, kelompok, korporasi, pejabat, bahkan penguasan yang melakukan kecurangan, kebohongan, menipu dan mengangkangi aturan yang dijalankan dengan tidak benar. Apalagi, dari perbuatan yang dilakukan berakibat orang atau pihak lain dirugikan, bahkan mati terjepit karena tak berdaya. Itu tugas jurnalis atau wartawan untuk melawan, lawan dengan tulisan tanpa harus takut siapa yang dilawan.

Namun, benarkah kalimat singkat itu bisa dan sudah dijalankan? Masyarakat dan siapa saja bisa melihat, siapa dan media mana yang mau dan mampu melawan tidak benaran yang masih saja terjadi?. Ini, tidak hanya untuk direnungkan, hanya sekedar dibaca, kemudian lupa atau sengaja dilupakan. Benarkan, media atau pekerjanya alias wartawan masih punya nyali untuk melawan, kita lihat saja.

HPN Sekedar Peringatan

HPN hanya sekadar peringatan, benarkah? Jika benar, ruh dan kode etik jurnalis atau nafas dan haluan medianya tidak lagi ampuh untuk diharapkan menjadi bagian dari perubahan menuju lebih baik. Mungkin juga tidak sulit menemukan media massa atau penulisnya yang berfungsi sekedar sebagai “wartawan penerus”. Ya, penerus, penerus dari kalimat-kalimat yang diucapkan oleh siapa saja yang ditulisnya. Sejatinya, yang dilakukan itu adalah corong penyampai tanpa ada manfaat untuk perubahan dan untuk masyarakat yang menambah perubahan. Perubahan dari keterpurukan, penindasan, kesemena-menaan, kedhaliman yang di era ini masih saja terjadi baik secara sembunyi atau terang-terangan.

Gus Ipul: Pers Pilar Demokrasi

“Gus Ipul berharap agar pers juga bertanggungjawab dalam menyebarkan informasi yang benar, cepat dan akurat”

Mungkin tidak salah jika segelintir orang menyebut PHN juga menjadi tumpangan sosok yang ingin mendulang untung, popularitas dengan pasang gaya seakan serius. Tapi sejatinya hanya ingin mengambil dan memanfaatkan kesempatan.

Bukan untuk mengadili, menyalahkan atau menunggangi alias nyinyir dengan yang dilakukan sejumlah pihak. Itu hak mereka dan siapa pun boleh dan sah melakukannya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, di Peringatan HPN 2018 di Gresik, mengatakan Pers Merupakan Pilar Demokrasi.

Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa selain berfungsi sebagai penyebar informasi, pers memiliki peran penting dalam membangun sebuah bangsa, yakni sebagai pilar demokrasi. Melihat pentingnya peran tersebut, Gus Ipul berharap agar pers juga bertanggungjawab dalam menyebarkan informasi yang benar, cepat dan akurat.

“Oleh karena itu apabila pers mengemban tanggung jawabnya dengan baik, maka pasti sangat bermanfaat bagi umat, karena mereka memperoleh informasi dengan cepat, benar dan akurat. Sehingga masyarakat tidak kebingungan apabila menerima sebuah informasi yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Gus Ipul di resepsi HPN 2018 yang digelar Komunitas Wartawan Gresik (KWG) di Sekretariat KWG Gresik, Jumat (9/2/2018).

Baca juga: Gus Ipul Tawarkan Program Satria Madura Satu Triliun

Lantaran peran penting pers, Gus Ipul berkeinginan agar mereka juga ikut ambil bagian dalam menyaring informasi dengan ketentuan kode etik jurnalistik yang dimiliki. Pers memainkan peran penting dalam banyak sisi kehidupan. Dia meminta wartawan diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam mendidik masyarakat.

“Saat ini sering sekali beredar informasi yang begitu cepat diterima masyarakat, tetapi ternyata berita tersebut adalah Hoax atau berita palsu,” ungkapnya.

Gus Ipul kemudian menyelipkan informasi kalau progres report pembangunan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Salah satu bukti, banyaknya penghargaan di tingkat nasional yang diraih Pemprov Jatim. Meski begitu, dia mengakui masih ada beberapa permasalahan yang harus dibenahi. Seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, pertanian, pembuangan limbah B3, kesehatan serta persoalan pendidikan.

“Tetapi permasalahan tersebut akan dapat cepat terselesaikan apabila ada kerja sama dan kerja keras semua stakeholder termasuk peran para insan pers,” ucapnya.

Kemudian, Wakil Bupati Gresik Moh. Qosim menyampaikan, bahwa prestasi yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Gresik tidak lepas dari peran insan pers. Lewat kontribusinya pejabat nomor dua di Gresik itu berharap agar peran pers terus ditingkatkan.

“KWG telah berkontribusi dan mempunyai komitmen tinggi ikut membangun Indonesia melalui Kabupaten Gresik,” jelasnya.

Khofifah: Gak Update Gak Gaul

Khofifah “Proses edukasi membangun penyadaran dan merekatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terbantu dengan peran media massa yang saat ini sudah sangat variatif”

Masih terkait HPN 2018, saat di Jember bakal Calon Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut media massa memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, jika masyarakat tidak update berita berarti tidak gaul.

“Selamat dan sukses kepada para insan pers, semoga makin produktif. Saya lihat media adalah kebutuhan masyarakat, bahkan nyawa kedua. Kayaknya kalau nggak up-date, nggak gaul,” ungkap mantan Menteri Sosial itu usai menghadiri acara di Ponpes Nurul Qarnain, Jember, Jumat (9/2/2018).

Khofifah berharap, proses edukasi membangun penyadaran dan merekatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terbantu dengan peran media massa yang saat ini sudah sangat variatif.

“Baik itu yang berbasis komunitas, cetak, audio, video maupun elektronik,” ungkapnya.

Lanjutnya, karena memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa dan negara, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah itu juga berharap, agar insan pers selalu dan terus menjaga obyektivitas pemberitaan.

“Jaga terus obyektivitas jangan sampai terdistorsi, dan menyebarkan hoax,” pesan Khofifah.

Benar yang dikatakan para panutan masyarakat ini, agar pers berjalan di relnya yang benar menjaga obyektivitas, tidak terpengaruh apalagi berpihak. Namun, fakta yang terjadi juga harus di lihat, masyarakat juga tidak boleh abai untuk ikut mengawasi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here