Soekarwo: Empat Hal Tentukan Keberhasilan Daya Saing

0
74
Aktifitas Bongkar Muat di Terminal Petikemas Surabaya, Tanjung Perak, Jawa Timur.

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyebut, ada empat hal yang menentukan keberhasilan daya saing. Pertama, terciptanya stabilitas makro ekonomi. Kedua, pemerintah menggunakan kebijakan bottom up atau selalu melibatkan  masyarakat yang akan terkena dampak. Ketiga, menempatkan dengan benar tata letak kelembagaan, keuangan bisnis dan kondisi tenaga kerja. Keempat, kualitas pengembangan infrastuktur.

Itu dilontarkan Soekarwo saat memberikan kuliah umum program magister dan program doktor di Universtas Negeri Malang (UNM) di Malang, Kamis (16/3/2017).

Pakde Karwo kemudian mengatakan, menurut Prof. Wijoyo Nitisastro,  pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan demografi wilayah. Jawa Timur lima tahun berturut-turut pertumbuhan ekonominya selalu di atas rata-rata pertumbuhan nasional. Itu karena jumlah penduduk di Jawa Timur selalu terkendali dan masyarakatnya sangat baik serta mempunyai  inovasi dan kreativitas yang tinggi. “Hal itulah yang menjadi relevansi dan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur menjadi lebih baik,” ujar Soekarwo.

Diuraikannya, pertumbuhan penduduk yang besar, jika didukung dengan inovasi dan kreativitas yang tinggi, maka hal itu tidak menjadi masalah atau hambatan, malah menjadi berkah.

“Saat ini laju pertumbuhan penduduk Jatim sebesar 0,610 persen. Ini merupakan pertumbuhan yang paling rendah di Indonesia. Karena pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1,659 persen. Sedang  Jawa Barat lebih tinggi, yakni hampir 2 persen,” jelasnya.

Ditambahkannya, total pasangan usia subur (Total Fertility Rate,TFR) Jatim sebesar 1,944%. Tapi angka ini tidak diam, sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan perkembangan. Pasangan usia subur di Jatim sangat bagus program Keluarga Berencananya. Mereka melakukan program KB atas dasar keinginan sendiri bukan karena anjuran pemerintah. Alasannya, para pasangan usia subur termasuk ibu-ibunya tidak ada yang menganggur, rata-rata bekerja di sektor industri kecil, IKM atau UKM. Sehingga jarak kelahiran anak dan jumlah anak yang mereka inginkan dapat diprogram dengan baik.

Selain demografi, lanjutnya, masalah pendidikan atau kualitas sumber daya manusia juga sangat menentukan. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuat kebijakan, mengubah komposisi sekolah menegah atas yakni sebesar 70 persen SMK (sekolah vokasional) dan 30 persen SMA.  Serta menambah sekolah-sekolah kejuruan, seperti  Politeknik atau  kuliah kejuruan yang mengajarkan ketrampilan. Dengan pendidikan kejuruan diharapkan lulusannya bisa langsung diterima di dunia kerja.

Dengan demikian, lanjut Soekarwo, Jawa Timur diharapkan mampu bersaing dengan negara-negara Asia lainnya di era globalisasi ini.

“Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik, jika tidak didukung dengan kesehatan yang baik. Untuk itu, sebelum menangani masalah pendidikan, masalah kesehatan harus lebih dulu diperbaiki. Karena masalah ini menjadi penentu bagi keberhasilan pendidikan,” ujarnya.

Untuk itulah, kebijakan pemerintah harus kembali ke perbaikan ekonomi. Itu sangat penting, sebab provinsi Jawa Timur saat ini sudah menjadi provinsi industri, yang 28,92 % merupakan industri kecil menengah (IKM) dan usaha kecil menengah (UKM). Artinya, IKM dan UKM harus getol melakukan marketing bagaimana caranya agar produk hasil IKM dan UKM Jawa Timur mampu dan bisa diterima pasar. Caranya, pelaku IKM harus bisa menangkap keinginan pasar.

“Caranya terus berinovasi, mengolah hasil pertanian  di desa-desa menjadi barang jadi yang siap dijual. Itu bisa menambah penghasilan, dan mengurangi pengangguran,” jelasnya.

Dengan adanya pengolahan hasil pertanian menjadi makanan atau minuman, maka ekonomi di desa terangkat dan perputaran uang menjadi stabil. Jika putaran ekonomi membaik, pembangunan desa juga berjalan.

“Jika putaran ekonomi di desa membaik, otomatis pertumbuhan dan peningkatan industri kecil di setiap desa akan terus bertambah. Dan, ada satu hal yang harus terus dilakukan para pelaku IKM dan UKM, yaitu promosi dan marketing yang harus terus ditingkatkan. Caranya, tidak boleh  membohongi publik. Karena kejujuran itu sangat penting,” tegasnya.

Konsep meningkatkan ekonomi diawali dengan penataan pendidikan, kesehatan dan menumbuhkan kreatifitas masyarakat di desa ini sangat penting. Hasilnya, masyarakat akan punya daya saing di tengah semakin ketatnya kompetisi di berbagai bidang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here