Soekarwo Puji Peran Kodam Brawijaya untuk Pembangunan di Jatim

0
102
Soekarwo “Kontribusi Kodam Brawijaya sangat besar bagi Jawa Timur"

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberikan pujian kepada jajaran Kodam V/Brawijaya, tepat di Hari Ulang Tahun ke-69 Kodam V/Brawijaya sekaligus juga peringatan Hari Juang Kartika (HJK) ke-72 yang digelar di GOR Hayam Wuruk, Senin, (18/12/2017).

Kata Soekarwo, selama ini Kodam V/Brawijaya turut serta memberikan kontribusi yang sangat besar di wilayah Jawa Timur. Itu terlihat dengan adanya beberapa tugas maupun kewajiban yang diemban oleh prajurit di lingkungan Kodam V/Brawijaya, termasuk di bidang pembangunan di wilayahnya.

“Kontribusi Kodam Brawijaya selama ini sangat besar bagi Jawa Timur. Saya menilai semuanya sudah tahu kinerja yang selama ini berhasil di selesaikan oleh prajurit di lingkungan Kodam V/Brawijaya,” ujar Soekarwo.

Baca Juga: Kiai Masjkur Diusulkan Sebagai Pahlawan Nasional

Lanjut Soekarwo, dengan digelarnya tasyakuran HUT Kodam Brawijaya yang ke 69 tahun, sinergitas yang selama ini telah terjalin dengan baik, akan semakin kokoh dan terus berkesinambungan. Terutama untuk mengembangkan setiap pembangunan di wilayah Jawa Timur.

“Sinergitas akan terus kita jalin, terutama dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), swasembada pangan dan berbagai program pembangunan lainnya,” tambahnya.

Memasuki usianya yang ke 69 tahun keberadaan Kodam V/Brawijaya dirasakan sebagai anugerah tersendiri, tak hanya bagi prajurit di jajaran Kodam Brawijaya, tetapi bisa dirasakan seluruh masyarakat Jawa Timur. Pihaknya juga mengajak semua lapisan ikut terus menjaga harmonisasi itu, serta berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Sebelumnya, Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman di acara tasyakuran HUT Kodam Brawijaya ke-69 dan peringatan Hari Juang Kartika ke-72 itu menegaskan, momen tersebut hendaknya dijadikan momentum untuk terus berbuat lebih baik.

“Peringatan HUT ini, harus dijadikan momentum untuk berbuat yang lebih baik lagi di masa mendatang, sehingga kita semua dapat melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab sebagai prajurit Kodam V/Brawijaya,” jelas Mayjen TNI Arif Rahman.

Mayjen TNI Arif Rahman “Peringatan HUT ini, harus dijadikan momentum untuk berbuat yang lebih baik lagi” (Foto: Tudji)

Mantan Gubernur Akademi Militer (Akmil) tahun 2016 itu menambahkan, selain sebagai sarana untuk memperkuat tali silahturahmi, acara tasyakuran tersebut, juga bertujuan untuk merefleksikan, sekaligus mengevaluasi diri maupun peran seluruh personelnya sebagai prajurit Bhirawa Anoraga.

“Kita patut bersyukur seraya terus berdo’a, kiranya TNI AD, khususnya Kodam V/Brawijaya mampu tampil lebih profesional serta senantiasa sukses dalam melaksanakan tugas pokoknya,” tegasnya.

Di acara itu, selain dihadiri Gubernur Jawa Timur Soekarwo, juga ikut hadir Kapolda Jatim Machfud Arifin, Kasgartap III/Surabaya, Kasdivif II/Kostrad, para pejabat teras Makodam V/Brawijaya, perwakilan veteran, ulama, serta elemen masyarakat di Jawa Timur.

Lintas Sejarah Kodam V/Brawijaya

Drama Kolosal, Strategi gerilya Jenderal Sudirman melakukan perlawanan dan menumpas tentara Belanda” (Foto; Tudji)

Setelah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Fakta sejarah membuktikan kalau bangsa Indonesia masih dihadapkan pada berbagai hambatan tantangan, ancaman, dan gangguan baik yang datang dari luar negeri maupun yang timbul dari dalam negeri. Pihak penjajah dan pihak-pihak lainnya yang tidak senang melihat Indonesia merdeka, dengan berbagai dalih dan cara terus berusaha untuk merongrong bahkan ingin menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang masih seumur jagung.

Baca Juga: Gus Solah Puji Khofifah – Emil Dardak

Dalam situasi dan kondisi seperti itu Kodam V/Brawijaya lahir, tumbuh dan terus berkembang menjadi salah satu bagian dari unit organisasi di TNI AD.
Para prajurit yang tergabung dalam tubuh TNI Divisi I Jatim yang terbentuk 17 Desember 1948 itu terus tersusun dari berbagai unsur kekuatan, merupakan anak kandung perjuangan bangsa Indonesia, khususnya rakyat Jawa timur.

Unsur-unsur itu lahir di tengah kancah perjuangan bangsa Indonesia sebagai jawaban sejarah untuk mempertahankan dan menegakkan dan menjaga keutuhan NKRI, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Namun, pasang surut perjuangan melawan kekuatan penjajah dan kekuasaan lain, akhirnya pada 17 Desember 1948 unsur-unsur tersebut tersusun ke dalam organisasi tentara yang kuat dan diberi nama TNI Divisi Jawa Timur.

Perjalanan Tentara Kodam Brawijaya

Dalam sejarahnya, tentara yang kuat itu diawali dengan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengeluarkan pengumuman tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang merupakan bagian dari Badan Penolong Korban Perang (BPKP). Setelah dikeluarkannya pengumuman itu para pemuda militan juga bekas tentara PETA, HEIHO, Gyugun, KNIL dan lainnya dari berbagai wilayah di tanah air termasuk di Jawa Timur menggabungkan diir dan menyusun BKR di wilayah setempat. Sementara, para pejuang dan pemuda yang tidak masuk ke BKR, bergabung di badan-badan kelaskaran.

Badan Keamanan Rakyat (BKR)

Jenderal Sudirman saat dipanggil Presiden RI Soekarno

Pada 5 Oktober 1945 mengacu Maklumat Pemerintah, dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bagian-bagian TKR berintikan BKR serta satuan BPR yang ada di seluruh wilayah Jawa timur. Kemudian disusun ke dalam 3 divisi yaitu, Divisi VI di Kediri, Divisi VII di Mojokerto, dan Divisi VIII di Malang.

Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat

Kemudian, pada 7 Januari 1946 sesuai dengan Penetapan Pemerintah Nomor 2 /SD tahun 1946, nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Perubahan nama itu tidak mengubah susunan ketentaraan yang ada di Jawa timur, kekuatannya tetap, yakni tiga Divisi.

Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia

TKR Tentara Keamanan Rakyat

Seiring perkembangan dan tuntutan kebutuhan, pada 25 Januari 1946 sesuai dengan Penetapan Pemerintah Nomor 4/SD tahun 1946, nama Tentara Keselamatan Rakyat kemudian diganti menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Perubahan itu juga tidak merubah susunan kekuatan TRI di Jawa timur yang terdiri dari tiga Divisi, namun berdasarkan hasil permusyawaratan antara panitia besar Reorganisasi Tentara dengan para Panglima yang dilaksanakan pada 25 Mei 1946, dilakukan perubahan nomor dan pemberian nama divisi-divisi, perubahannya divisi-divisi tentara di Jawa Timur menjadi,
1. Divisi VII berubah menjadi Divisi V Ronggolawe.
2. Divisi VI berubah menjadi Divisi VI Narotama.
3. Divisi VIII berubah menjadi Divisi VII Suropati.
Kemudian, pada 5 Oktober 1946 perubahan tersebut diresmikan dan dikukuhkan menjadi hari bersejarah lahirnya tentara.

Tentara Republik Indonesia menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden RI kemudian mengeluarkan penetapan melalui (BN 1947 No.24) tentang pengesahan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) perubahan nama tersebut tidak mengubah susunan TNI di Jawa Timur. Namun dengan pembentukan TNI, semua susunan yang tergabung di dalam badan-badan kelaskaran bersenjata secara selektif yang diwadahi ke dalam organisasi baru TNI.

Perkembangan TNI Divisi I Jawa Timur

Diawali dengan Pembentukan TNI Divisi I Jawa Timur. Dengan mengacu pada Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor A/532/48 tanggal 25 Oktober 1948, dibentuklah TNI Divisi I Jawa Timur. Dalam perkembangannya ke tiga Divisi yang ada di Jawa Timur dilebur dan bergabung menjadi 1 Divisi, akhirnya pada tanggal 17 Desember 1948 bertempat di lapangan Kowak Kediri digelar upacara peresmian berdirinya TNI Divisi I Jawa Timur.

Penetapan Sebutan Brawijaya

Tentara Benteng Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pada tanggal 17 Desember 1951 yang juga bertepatan dengan HUT Divisi I Jawa Timur yang ke-3 diresmikan juga sebutan Divisi Jawa Timur. Kemudian, nama Brawijaya yang diambil dari sebuah dinasti di masa Kerajaan Majapahit, yang terbukti telah berhasil mempersatukan wilayah Nusantara dan menjadikan Majapahit menjadi sebuah kerajaan dengan puncak kejayaannya yang gemilang. Kalimat awalan Bra atau Bre pada nama Brawijaya mengandung arti Agung, suatu gelar kehormatan yang diberikan pada seorang pemuda kesatria pendiri negara atau kerajaan Majapahit yang bernama Wijaya (Raden Wijaya).

Baca Juga: Masyarakat Jatim Dambakan Pemimpin Jujur dan Teruji

Penokohan Brawijaya bagi TNI Divisi I Jawa Timur itu bertujuan agar sifat-sifat kepemimpinan, keperwiraan, dan keprajuritan yang dicontohkan oleh Wijaya dapat memberikan inspirasi dan motivasi kepada seluruh prajurit yang tergabung di Divisi I Jawa Timur. Tentu juga untuk menunaikan tugas pengabdian terhadap bangsa dan negara untuk menuju kemajuan Indonesia atau Nusantara. Divisi I Brawijaya, kemudian dikenal dengan nama Tentara Teritorium V Brawijaya.

Kemudian, berpijak pada Instruksi KSAD (Kepala Staf TNI-AD) Nomor 2/KSAD/Instr/25 tanggal 5 Januari 1952. Divisi I/Brawijaya diresmikan menjadi Tentara Tentara Teritorium V/Brawijaya. Perubahan ini didasarkan kepada pembagian wilayah Indonesia yang terdiri dari tujuh teritorium atau teritorial.

Tentara Teritorium V Brawijaya menjadi Kodam VIII Brawijaya

Sesuai Keputusan KSAD Nomor: Kpts-592/10/1959 tanggal 9 Oktober 1959, sebutan Tentara Teritorium V/Brawijaya diganti menjadi Kodam VIII Brawijaya, Perubahan ini didasarkan pada perubahan pembagian wilayah atau daerah militer menjadi 17 Komando Daerah Militer (Kodam) di seluruh wilayah Indonesia.

Kodam VIII Brawijaya menjadi Kodam V/Brawijaya

Sesuai Keputusan KSAD Nomor, Kep/4/I/1985 tanggal 12 Januari 1985, untuk sebutan Kodam VIII Brawijaya diganti menjadi Kodam V/Brawijaya. Perubahan ini disebabkan oleh adanya reorganisasi yang dilakukan oleh TNI AD yang berpedoman kepada prinsip ”a smal effectiveunit”, sehingga jumlah Kodam di Indonesia yang sebelumnya sebanyak 17, menjadi 10 Kodam.

Peran dan Pengabdian Kodam V/Brawijaya kepada Bangsa dan Negara
Peranan Kodam V/Brawijaya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di antaranya,
a.Berbagai pertempuran awal saat melawan tentara sekutu (1945-1946).
b.Perang Kemerdekaan I (1947)
c.Perang Kemerdekaan II (1948)
d.Penumpasan Pemberontakan G-30 PKI Pimpinan Muso di Madiun (1948)

Peran Kodam V/Brawijaya Menegakkan NKRI

Penumpasan Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di sejumlah wilayah di Jawa Barat (1950). Penumpasan Pemberontakan Andie Azis di Sulawesi Selatan (1950).Penumpasan Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku (1950). Penumpasan Pemberontakan DI/TII di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah (1951-1958).

Peranan Kodam V/Brawijaya dalam perjuangan mempertahankan Negara Republik Indonesia. Penumpasan Pemberontakan PRRI/Permesta di daerah Sumatera dan Sulawesi (1958).Perjuangan Pembebasan Irian Barat/Trikora (1962). Perjuangan dalam rangka Dwikora (1963-1964). Penumpasan Gerakan 30.S.PKI di berbagai wilayah di Jawa Timur (1965). Operasi Trisula di daerah Blitar Selatan terhadap sisa-sisa pengikut Gerakan 30.S.PKI (1967-1969). Perjuangan integrasi Timor-Timur (1975) dan dilanjutkan Operasi Teritorial oleh sejumlah Batalyon Kodam V/Brawijaya (1990 hingga sekarang). Operasi Bhakti Bencana alam di kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama 6 bulan (4-12-1992 s.d 16-05-1993) yang dilakukan Satgas Bhirawa.

Peran Kodam V/Brawijaya dalam Tugas Internasional

a. RAPWA (1945).
b. Garuda I ke Mesir (1957)
c. Garuda III ke Kongo (1962/1963)
d. Garuda VI dan VIII ke Timur Tengah (1973/1977)
e. Garuda VII ke Vietnam (1973/1974)

Peran Kodam V/Brawijaya di Pembangunan Nasional

Prajurit Kodam V Brawijaya

Pelaksanaan Operasi Bhakti dan Karya Bhakti ABRI (AMD). Manunggal ABRI, Manunggal Sosial Sejahtera dan Penghijauan Sejuta Pohon. Pengaman Pemilu (1971/1977, 1982, 1987 dan 1992). Melaksanakan Fungsi Sosial dan Kekaryaan. Melaksanakan Intruksi ABRI, Transad dan Translak. Serta turut memajukan dunia pendidikan.

Sehari sebelumnya, masih di rangkaian HUT Kodam V/Brawijaya dan Hari Juang Kartika, di Lapangan Kodam V/Brawijaya digelar sejumlah atraksi dan drama kolosal garapan Sutradara Taufiq Monyong bersama personil Kodam Brawijaya. Mengangkat kisah kegigihan dan perjuangan gerilya Panglima Besar Sudirman melawan dan mengusir penjajah Belanda.

Ratusan pemain terlibat dalam pertunjukan spektakuler tersebut, yang melibatkan banyak pelaku seni di Jatim, personil TNI dan masyarakat umum.
Dikisahkan, Jenderal Besar Sudirman meski dengan ditandu karena menderita sakit tetap gigih memimpin pasukan dan melakukan perlawanan dengan strategi perang gerilya, keluar masuk hutan menghadapi tentara Belanda dalam agresi militernya.

Baca Juga: Yang Ditakuti Yahudi Cuma Pancasila

Hasilnya, pengorbanan yang tak ternilai itu digambarkan dengan kesetiaan pejuang dibawah komando Sudirman serta masyarakat yang setia, dengan gigih pantang menyerah menjaga dan terus mengawal pucuk pimpinannya, yakni Jenderal Sudirman. Dikisahkan, Jenderal Sudirman akhirnya bisa lolos dari penyergapan dan kembali melanjutkan perjalanan, bergerilya sambil menyusun strategi melakukan perlawanan dan menumpas tentara Belanda. Puncaknya, Presiden RI Soekarno kemudian menemui Sudirman, dan memberikan penghargaan serta pesan untuk terus mengobarkan semangat perjuangan, mempertahankan setiap jengkal tanah agar tidak jatuh ke tangan rakus penjajah.

Selain gelaran drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan Sudirman, juga ikut disuguhkan sejumlah atraksi, diantaranya Bela Diri Militer Jongmodo, oleh prajurit TNI AD. “Itu olah raga wajib di kita (TNI AD), untuk menjaga kebugaran,” pungkas Mayjen TNI Arif Rahman.

Ikut terangkai juga di acara itu, atraksi dari penerjun perempuan. Tiga Srikandi tentara itu unjuk kebolehan terjun dari pesawat terbang dan mendarat didepan undangan para pejabat yang menyaksikan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here