Soekarwo Tawarkan Investasi Smelter ke Singapura

0
64
Soekarwo dan Dubes Singapura Anil Kumar Nayar (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jatim Soekarwo menawarkan investasi di bidang smelter kepada para pengusaha Singapura. Selain berprospek bagus karena bisa meningkatkan industrialisasi, keberadaan smelter juga akan mengurangi impor bahan baku dan penolong industri yang saat ini masih 79%.

“Pembangunan smelter ini sangat membantu untuk mengatasi ketergantungan Jatim terhadap impor bahan baku. Mudah-mudahan ini menjadi kerja sama yang baik dan pasarnya jelas,” ujar Soekarwo saat menerima Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (23/10/2017).

Menurut Pakde Karwo, sapaan Gubernur Jatim Soekarwo dengan terbangunnya smelter di Jatim, akan memberikan efek domino terhadap kinerja industri dalam negeri, khususnya di Jatim. Selain mampu mengurangi ketergantungan impor bahan baku, juga akan memicu tumbuhnya industri-industri hilir di sekitar lokasi berdirinya smelter.

Pembangunan smelter di Jatim, juga dapat memperluas pasar seperti kawasan Timur Indonesia. Selain membantu memperluas pasar, pengembangan kerja sama dengan Jatim dapat menambah nilai efisien dalam perdagangan. Sebab geo ekonomi Jatim berada di tengah Indonesia dan menjadi hub perdagangan kawasan Timur Indonesia mulai Kalimantan sampai Papua.

Dijelaskan, untuk menunjang investasi smelter, Pemerintah Provinsi Jatim akan memberikan kemudahan dalam berinvestasi melalui empat jaminan pemerintah (government guarantee) seperti kemudahan perijinan, penyelesaian masalah perburuhan, ketersediaan power plant, dan fasilitasi penyediaan tanah.

Selain smelter, Pakde Karwo juga menawarkan pengembangan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan di Probolinggo dan Tuban kepada para investor Singapura. Apalagi kini industri dan pelabuhan menjadi model yang bisa dikembangkan di Indonesia. Dia menyebut, keduanya memiliki keunggulan dalam segi lokasi yang strategis dan kondisi laut yang tenang.

“Kami menawarkan dua tempat yakni di Pelabuhan Tanjung Awar-awar Tuban dan Tanjung Tembaga Probolinggo. Yang ditawarkan kepada investor Singapura itu industri atau penggudangannya, sedangkan untuk pengelolaan pelabuhan tetap dilakukan oleh Pemprov Jatim,” jelasnya.

Dia kemudian juga menyebut, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Provinsi Jatim juga mengembangkan lima pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri. Di antaranya, dibangunnya Pelabuhan di Kawasan industri terpadu Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE) di Manyar, Kabupaten Gresik, bakal memiliki empat dermaga. Dengan area pelabuhan seluas 371 hektar dan area industri seluas 1.761 hektar. Kemudian, untuk pengembangan Pelabuhan Teluk Lamongan seluas 386 hektar.

Selain itu juga pembangun Probolinggo Industrial Sea-Port City menjadi kawasan industri seluas 500 hektar, Pelabuhan Paciran dan Pelabuhan Tanjung Awar-Awar terintegrasi dengan kawasan industri Tuban yang diusulkan 300 hektar sebagai kawasan industri.

Saat itu, di hadapan Dubes Singapura untuk Indonesia, Pakde Karwo juga memaparkan kondisi investasi Singapura di Provinsi Jatim. Di uraikan, pada semester satu tahun 2017, investasi mencapai US$7,34 miliar. Itu menyubang 50% dari PMA.

“Artinya sudah menyumbangkan sebanyak 50 persen dari PMA di Jatim,” katanya.

Sementara, Dubes Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar selain melontarkan pujian atas kepemimpinan Pakde Karwo. Anil Kumar juga memuji Provinsi Jatim yang memiliki perkembangan cukup baik dari tahun ke tahun. Ditambah, adanya jaminan dari Gubernur Jatim Soekarwo terciptanya iklim investasi dan kondisi Jatim yang aman dan kondusif, saat pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara serentak tahun 2018.

“Ini memberikan kepercayaan bagi investor Singapura yang ingin ke Jatim,” katanya.

Anil Kumar menyebut, kalau kunjungannya kali ini tidak hanya mengupdate perkembangan di Jatim, tetapi juga mendiskusikan masa depan investor Singapura di Jatim. Dari segi bisnis dan investasi, perusahaan Singapura merupakan salah satu investor besar di Jatim baik di bidang properti, retail, makanan dan minum, maupun pelabuhan.

“Ini menandakan sebuah hubungan yang baik antar kedua belah pihak,” jelas Anil Kumar.

Investasi Asing Terus Meningkat (Nusantara.news)

Pemerintah Provinsi Jatim menargetkan kantongi investasi Rp165 triliun, sepanjang tahun ini. Target itu di antaranya dari penanaman modal asing (PMA) senilai Rp60 triliun, penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp40 triliun, dan PMDN non fasilitas senilai Rp65 triliun. Paling tinggi adalah PMDN non fasilitas, walaupun skalanya lebih kecil, namun rata-rata realisasinya setiap tahun antara Rp70 triliun hingga Rp90 triliun.

PMDN non fasilitas adalah penanaman modal yang dilakukan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak mendapat dan mengurus bea masuk dan pajak untuk mesin dan bahan baku.

Sementara, realisasi PMDN non fasilitas di tahun senilai Rp82,14 triliun atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp95,77 triliun. Dan, sejak 2011 realisasi PMDN non fasilitas, di atas Rp70 triliun.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi Jatim tidak terlalu tinggi mematok target untuk PMDN non fasilitas karena melihat segmen UKM yang diproyeksi sedikit melambat terdampak situasi ekonomi global.

Secara keseluruhan, total realisasi investasi sepanjang 2016 senilai Rp155,04 triliun dengan rincian PMA yang sebanyak 552 proyek dengan nilai Rp26,57 triliun, PMDN yang terdiri dari 529 proyek dengan nilai Rp46,33 triliun, dan PMDN non fasilitas yang terdiri dari 130.520 usaha senilai Rp82,14 triliun.

Tahun lalu, Pemprov Jatim meraih realisasi investasi senilai Rp1,3 triliun dari izin prinsip senilai Rp12 triliun. Dan, tahun ini diharapkan juga untuk investor dari Iran dan Arab Saudi.

Sebelumnya, Pemprov Jatim juga menerima kunjungan delegasi dari China, terdiri dari 40 perusahaan dan berminat menanamkan investasi di Jatim. Tindak lanjut dari pertemuan itu, Pemprov Jatim mempertemukan perusahaan-perusahaan tersebut dengan perusahaan lokal yang tertarik untuk melakukan kerja sama.

Saat ini, jumlah perusahaan Negeri Tirai Bambu yang ada di Jatim tercatat sebanyak 391 perusahaan. Itu terhitung mulai tahun 1996 hingga 2016. Ada catatan, investor dari China lambat dalam melakukan realisasi setelah mendapatkan izin prinsip. Hal inilah, harus diwaspadai oleh Pemprov Jatim, karena selain akan menimbulkan persoalan perijinan yang terlanjur keluar. Juga tidak tertutup kemungkinan banyaknya tenaga kerja China masuk Jatim tanpa ada seleksi ketat izin kerja atau izin tinggal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here