Pangeran Sambernyawa (2)

Solidaritas Tiji Tibeh

0
576

Nusantara.news, – Kesanggupan bertempur selama 16 tahun, melawan pasukan Kumpeni Belanda yang didukung oleh kedua pamannya, Pakubuwono II dan Mangkubumi serta terakhir kali melawan adik sepupunya Pakubuwono III bukan perkara mudah. Selama 16 tahun itu RM Said, sebagaimana ditulisnya dalam Babad Lelampahan, bertempur sebanyak 250 kali. Artinya, rata-rata per tahun RM Said dan pasukannya terlibat dalam 15 pertempuran. Satu pertempuran kadang hanya sehari, tapi kadang pula berhari-hari. Namun RM Said selalu bisa lolos dari penyergapan, bahkan memenangkan pertempuran

Untuk menyemangati pasukannya yang terdiri dari rakyat jelata, Mas Said membuat semboyan tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, sejahtera satu sejahtera semua). Tampaknya semboyan ini yang membuatnya bertahan dari gempuran dan kepungan. Jumlah pasukannya yang awalnya 24 orang terus bertambah. Selain pasukan inti yang belakangan diperkuat oleh prajurit estri (perempuan), RM Said juga piawai menggalang simpati warga lokal di manapun dia bertempur. Operasi teritorial (meskipun istilah itu ketika itu belum ada) sudah pasti dijalankannya lewat berbagai pertunjukan budaya, seperti wayang kulit.

Dalam memoarnya yang ditulis dalam Babad Lelampahan, selama 16 tahun berperang ada tiga peristiwa perang besar yang dicatatnya. Pertama, perang melawan Kumpeni yang dibantu oleh Pangeran Mangkubumi, paman sekaligus mertuanya sendiri pada Jumat Kliwon 16 Syawal 1678 (1752 M) di desa Ksatriyan, barat daya Kota Ponorogo. Desa itu merupakan benteng pertahanan RM Said setelah menguasai Madiun, Magetan dan Ponorogo. Dalam perang yang dimenanginya itu, kalau saja mau, dia berkesempatan membunuh Pangeran Mangkubumi. Tapi itu tidak dia lakukan. Baginya, musuh utama adalah Kumpeni yang mengadu domba.

Dalam perang itu tercatat 600 prajurit Mangkubumi tewas, sedangkan dari pihak RM Said hanya tercatat 3 prajurit meninggal dunia dan 29 prajurit luka-luka. Padahal, bila mengacu jumlah pasukan sungguh tidak sebanding. Pasukan Mangkubumi diibaratkan lir segara tanpa tepi (bak laut tak bertepi).[1] Namun berkat ketangguhan pasukannya yang militan dan didasari oleh sumpah setia, pasukan RM Said mampu memporakporandakan barisan musuh.[2]

Perang kedua terbesar terjadi di hutan Sitakepyak, selatan Rembang, 17 Sura 1681 (1756 M). RM Said dengan jumlah pasukan yang sedikit mampu memukul mundur pasukan koalisi VOC, Kasunanan dan Kasultanan yang keseluruhannya berjumlah 1400 prajurit. Dalam perang itu RM Said mengklaim hanya kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 luka, sedangkan di pihak Koalisi VOC Sunan dan Sultan kehilangan 600 prajurit tewas. Bahkan RM Said berhasil memenggal kepala Kapten Van de Pol dengan tangan kirinya. Kepala Van de Pol bahkan diserahkan ke istri selirnya sebagai hadiah perkawinan.

Perang besar ketiga yang dicatat dalam memoar RM Said adalah ketika menyerbu benteng Vredenburg pada 3 Sapar 1682 (1757 M) yang letaknya hanya beberapa ratus meter di utara Keraton Yogyakarta. Peristiwa itu dipicu oleh kemarahan RM Said terhadap VOC yang menjarah harta warga desa. Dalam peristiwa itu RM Said berhasil memenggal kepala Patih Mataram Yogya Joyosudirgo dan menewaskan 5 tentara VOC. Akibatnya Hamengkubuwono I marah besar dan menawarkan hadiah 500 rial serta jabatan bupati bagi siapa saja yang berhasil memenggal kepala keponakan dan sekaligus menantunya itu. Tapi meskipun hadiahnya sudah dinaikkan 1000 rial tak seorang pun yang berhasil membunuh RM Said.

Berdasarkan relasi siapa sekutu dan siapa musuh, perang Raden Mas Said terbagi dalam tiga periode. Pertama, tahun 1741-1742, Raden Mas Said bersekutu dengan Sunan Kuning melawan pamannya Pakubuwono (PB) II yang bersekutu dengan Kumpeni. Kedua, 1743-1752, RM Said bersekutu dengan pamannya, Pangeran Mangkubumi memerangi Pakubuwono dan VOC. Dan ketiga, 1752-1757, RM Said dan abdi dalem setianya berperang sendiri melawan Mangkubumi, Pakubuwono III dan VOC.

Sikap Mangkubumi terhadap VOC acap kali berubah-ubah. Saat pasukan Garendi mengepung istana, para Pangeran yang juga saudara dan anak-anak serta keponakan PB II mengungsi. Pangeran Puger, adik PB II, mengungsi ke Sukawati (Sragen), RM Said mengungsi ke Nglaroh, Wonogiri. Ada pun PB II beserta para istri dan putra-putrinya mengungsi ke Ponorogo. Di tengah kekalutan itu P Mangkubumi justru berangkat ke Semarang menemui Belanda agar dirajakan. Namun permintaannya itu ditolak Belanda.[3] Merasa dilecehkan oleh Belanda, diam-diam P Mangkubumi bergabung P Puger di Sukawati yang kala itu melawan Belanda.

Berkat bantuan Kumpeni dan pasukan Sampang, Madura, RM Garendi dapat diusir Belanda dari Kartasura. PB II dirajakan kembali oleh Belanda. Tentu saja bantuan yang diberikan Nicolas Haarting, pejabat VOC yang berkedudukan di Semarang tidak cuma-cuma. Sejak itu seluruh pantai utara Jawa, sebelah timur Pasuruan, Surabaya, Madura dan Rembang menjadi milik Belanda. Seluruh tangsi Belanda harus dibiayai oleh Raja, dan untuk daerah-daerah yang dikuasai Raja, Belanda akan membayar ganti rugi seperlunya. PB II tak kuasa menolak tuntutan Belanda, sebab posisi Raja hanya sebatas leenman atau peminjam kekuasaan.

Saat PB II yang kepanjangan tangan Belanda kembali bertahta, Mangkubumi berbalik mendukungnya. Perubahan sikap itu mengejutkan P Puger. Dengan bergabungnya kembali Mangkubumi ke PB II berarti dia akan aktif bekerja sama memerangi para Pangeran yang melawan Belanda. Maka Puger mengutus Tuan Sayid menyampaikan pesannya, mengapa mesti bergabung Belanda memerangi bangsa sendiri? Mendengar pesan itu Mangkubumi marah besar. Kepala sang utusan itu dipenggalnya.[4]

Tindakan Mangkubumi tidak selesai di situ. Dengan mengutus ibunya, R Ay Tejowati, kepala Tuan Sayid dikirimkan ke PB II sebagai permintaan maaf sekaligus tanda bakti kepada Raja. Mayor Hundur yang kala itu bersama PB II merasa terkesan dan menyetujui Mangkubumi kembali ke Kartasura. Tindakan Mangkubumi itu disesalkan oleh P Puger dan RM Said yang sudah berusia 19 tahun. P Puger tetap melawan di Sukowati, RM Said memindahkan markasnya dari Nglaroh ke Majarata, Wanasemang. RM Said kemudian menyematkan gelar Adipati Amangkunegara di tahun 1744 M. Dua tahun kemudian RM Said bertapa ke Gunung Adeg (Mangadeg).

Pergolakan di Kartasura tetap berlanjut. PB II mengutus Mangkubumi untuk memadamkan pemberontakan di Sukawati dengan janji akan diberikan kekuasaan. Setelah pemberontakan di Sukawati dapat diatasi, atas hasutan Patih Pringgalaya, PB II mengingkari janji. Merasa dikhianati, Mangkubumi bergabung dengan RM Said berbalik menyerang Kartasura.[5] Sebelumnya pula Mangkubumi pernah berjanji akan bergabung dalam perjuangan RM Said. Janji itu diungkap dalam tembang Sinom yang intinya, tidak akan selamat hidupku kalau mencederai janji dan mengkhianati keponakanku.[6]

Karena janji itu pula RM Said menerima kehadiran Mangkubumi. Tidak itu saja, Mangkubumi juga menikahkan RM Said dengan RA Inten, putrinya. Sejak itu gelar RM Said berganti Pangeran Adipati Amengkunegara Senopatining Panata Baris Lalana Adekareng Nata. Keduanya pun berduet melawan Belanda yang berkubu di Yogyakarta, tlatah Mataram. Saat itulah keduanya mendengar kabar Pakubuwono II wafat. Maka RM Said menemui Mangkubumi agar mertuanya itu bersedia dirajakan. Mangkubumi dan semua sentana dalem setuju dengan gagasan RM Said.[7]

Dengan dirajakannya P Mangkubumi oleh RM Said itu membuktikan bahwa perjuangan RM Said tidak didasarkan oleh perebutan kekuasaan. Selama P Mangkubumi masih satu prinsip dalam perjuangan RM Said tidak pernah ragu mengorbankan jiwa raganya untuk membelanya.[8] Saat dirajakan, P  Mangkubumi bergelar Kanjeng Susuhunen Pakubuwana Senopati Ngalaga Abdurrahman Seyidin Panatagama. R.M. Said sendiri diangkat menjadi Patih sekaligus Panglima Perang atau Senopeti Kawasa Misesa Wadya. RA. Inten diganti nama dengan gelar Kangjeng Ratu Bandara.

Ternyata Belanda memang licik. Setelah dia merajakan PB III, putra PB II, Belanda mendekati Mangkubumi untuk bersedia berunding dengan PB III yang juga masih keponakannya. Gayung bersambut. Terjadilah Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 yang membelah Mataram menjadi dua bagian, Kasunanan di Sala dan Kasultanan di Yogyakarta. Seiring diangkatnya Mangkubumi menjadi raja, gelar Sultan Hamengkubuwana Senopsti Ngalogo Abdurrahman Seyidin Panatagama melekat pada diri dan penerus kerajaannya. Tentu saja sikap Mangkubumi yang sering berubah-bah itu membuat RM Said kecewa. Sejak itu dia berjuang sendirian melawan Belanda yang dibantu PB II dan HB I.

Hal yang dianggap memalukan oleh RM Said adalah ketika Nicholas Haarting yang disebut Ndoro Deler minta kepada Sultan agrmemberkan garwa padmi (istri yang resmi) kepadanya. Saat ditawari garwa ampilan (gundik) Hartingh menolak. Permintaan itu pun dikabulkan oleh HB I.[9] Kendati sedih saat istrinya dibawa Hartingh namun P Mangkubumi tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun kala itu RM Said tidak hadir dalam Perjanjian Giyanti, tapi kejadian yang dia dengar dari utusannya itu membuatnya terpukul dan terhina. RM Said yang memang tidak setuju dengan perjanjian itu meneruskan perlawanan.

RM Said tidak gentar dengan kondisi itu. Beserta sejumlah pengikutnya dia kembali mengobarkan perlawanan dari tempat yang berpindah-pindah. Atas ulahnya yang tidak mau tunduk kepada Kumpeni, satu diantara butir “traktat Giyanti” adalah, baik Sunan maupun Sultan diwajibkan menyerahkan kepala RM Said dengan imbalan 1000 real, dan 500 real untuk setiap pengikutnya. Kendati disayembarakan namun tidak satu pun, baik dari pihak Sunan maupun Sultan, atau para pemburu hadiah yang sakti mandraguna lainnya mampu menjamah RM Said yang piawai dalam strategi perang. []

[1] BL, Durma, 28: 258

[2] BL, Durma, 48: 260

[3] BL, Asmaradana, 15: 21)

[4] BL, Asmaradana, 25:24

[5] BL, Asmaradana 16: 24

[6] BL, Asmaradana, 17: 24

[7] BL, Sinom, 1: 141

[8] BL, Sinom, 2: 141

[9] BL, Dandanggula, 89: 301

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here