Sontoloyo Jokowi dan Sontoloyo Soekarno

2
307

JOKO Widodo dan Soekarno sama-sama pernah mengucapkan kata “sontoloyo” untuk mengungkap kejengkelannya. Joko Widodo menyebutkan istilah “politikus sontoloyo”, sedangkan Bung Karno “Islam Sontoloyo”.

Sebutan “politikus sontoloyo” terlontar dari mulut Jokowi ketika berpidato dalam pembagian sertifikat tanah kepada warga, di lapangan bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018) kemarin.

“Banyak politikus yang baik dan banyak juga politikus yang sontoloyo, saya ngomong apa adanya aja. Kita saring mana yang benar, mana yang tidak benar. Masyarakat sudah pintar berpolitik,” kata Jokowi.

Politik sontoloyo disebut Jokowi sebagai cara berpolitik tidak sehat yang sering dilakukan menjelang pemilu. “Menjelang pemilu ini banyak cara yang tidak sehat digunakan oleh politisi. Segala jurus dipakai untuk mendapat simpati rakyat. Tapi yang nggak baik sering menyerang lawan-lawan politik dengan cara-cara tidak beradab, tidak beretika, tidak ada tata kramanya, itu yang nggak sehat,” jelas Jokowi kepada wartawan di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/10).

Ketika mengucapkan itu, Jokowi seperti tidak bisa mengendalikan emosinya. Hal itu diakuinya sendiri ketika berbicara dalam peresmian Pembukaan Pertemuan Pimpinan Gereja dan Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10/2018). Presiden mengakui jika dirinya memang sedang jengkel.

“Kemarin saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’. Jengkel saya. Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel, ya, keluar. Saya biasanya mengerem, tapi karena sudah jengkel, ya, bagaimana,” katanya.

Politikus sontoloyo, menurut Presiden, selalu mengaitkan kebijakan pemerintah dengan politik, termasuk usulan dana kelurahan. Presiden mengatakan, dana kelurahan yang akan dikucurkan pada awal tahun depan tersebut untuk kebutuhan perbaikan infrastruktur di perkotaan.

Presiden tentu saja tidak menjelaskan siapa yang disebutnya politikus sontoloyo itu. Tetapi, karena dikaitkan dengan kritik tajam terhadap rencana pengucuran dana kelurahan, masyarakat tentu mudah menyimpulkan bahwa yang dimaksud Kepala Negara adalah politisi oposisi yang gencar menyerang masalah tersebut. Bahkan tanpa ada isu dana kelurahan pun, tak sulit menerka siapa yang dituduh Presiden. Sebab dalam konteks Pemilu Presiden yang hanya diikuti dua pasang kandidat, sudah jelas arah tudingan itu ke arah mana.

Jadi, konteks ucapan Presiden itu adalah bereaksi secara emosional terhadap serangan kepada pemerintahannya.

Lalu bagaimana dengan istilah “sontoloyo”-nya Bung Karno? Istilah itu digunakan Soekarno untuk artikelnya yang berjudul “Islam Sontolojo” yang dimuat dalam majalah Panji Islam terbitan 8 April 1940.

Pemikiran Bung Karno dalam tulisan itu bukan merupakan reaksi terhadap serangan, tetapi semacam otokritiknya mengenai praktek keagamaan yang dirasakannya sehari-hari. Misalnya, Bung Karno mengkritik pandangan masyarakat yang terlalu berorientasi kepada hukum fikih. Padahal dalam fikih banyak sekali perbedaan pendapat atau khilafiah.

“Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak di dalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah. Kita lupa bahwa fiqh itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama Islam,” tulis Soekarno.

Jika Jokowi menyebut “sontoloyo” karena kelepasan bicara, tidak demikian dengan Bung Karno. Sebab penyebutan “sontoloyo” itu berasal dari pengamatannya yang panjang terhadap praktek keagamaan umat Islam.

Memang dari segi kedudukan, kedua tokoh ini berbeda ketika mengeluarkan istilah yang merendahkan tersebut. Jokowi adalah presiden, sementara Bung Karno ketika menulis artikelnya pada tahun 1940 belum menjadi presiden.

Tetapi setelah menjadi presiden pun, pilihan kata Bung Karno terlihat bijak jika menyikapi politik dalam negeri. Terhadap lawan politiknya Bung Karno menggunakan istilah yang tidak merendahkan, misalnya “kontra revolusi”, “nekolim” dan sejenisnya. Kata-kata kasar justru digunakan Soekarno ketika berhadapan dengan negara lain yang dianggapnya mengganggu Indonesia. Misalnya, Go to Hell With Your Aid” yang ditujukannya ke Amerika, atau “Ingggris Kita Linggis, Amerika kita Seterika”, “Ganyang Malaysia” dan sebagainya.

Kemurkaan Bung Karno terhadap sesama bangsa hanyalah ketika ada penghinaan kepada dirinya atau keluarganya secara pribadi. Misalnya, ketika sekelompok mahasiswa demonstran menjuluki Hartini, istri Bung Karno, dengan sebutan “Lonte Agung”.

Bung Karno naik pitam. Dipanggilnya perwakilan mahasiswa yang berdemo ke Istana, dan memarahi mereka. “Kamu tahu apa yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa di rumah Ibu Hartini? Kau tahu rumah Ibu Hartini dicoreti ‘Lonte Agung’, ‘Gerwani Agung’. Kau tahu apa artinya lonte? Dia istriku dan aku adalah bapakmu! Jadi dia ibumu juga!” kata Soekarno.

Sekarang, marah dengan memakai kata-kata kasar ketika mengkritik atau menerima kritik sudah melekat ke banyak tokoh politik masa kini. Ada yang mengaku kelepasan bicara seperti Jokowi, tapi ada juga yang dengan sengaja.

Disengaja atau tidak, terus terang ini sangat mengkhawatirkan. Sebab fragmentasi bangsa ini sudah sangat friksionistik, bahkan dengan ketajaman yang melukai satu sama lain. Karena perang kata melibatkan tokoh politik, yang tentu memiliki basis pendukung masing-masing, maka konfrontasi kemudian melebar menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan, baik dari kalangan masyarakat maupun partai politik. Sebab polarisasi masyarakat masih sangat ditentukan pada preferensi ketokohan.[]

2 KOMENTAR

  1. […] Disengaja atau tidak, terus terang ini sangat mengkhawatirkan. Sebab fragmentasi bangsa ini sudah sangat friksionistik, bahkan dengan ketajaman yang melukai satu sama lain. Karena perang kata melibatkan tokoh politik, yang tentu memiliki basis pendukung masing-masing, maka konfrontasi kemudian melebar menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan, baik dari kalangan masyarakat maupun partai politik. Sebab polarisasi masyarakat masih sangat ditentukan pada preferensi ketokohan.[] nusantaranews […]

  2. Presiden yang terlalu baik dicap sebagai sontoloyo.
    Presiden dengan tangan besi disebut otoriter.
    Presiden yang “biasa” aja dicap sebagai pencitraan.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here