Soros, Ancaman Krisis Global, dan Nasib Indonesia

0
6283
Fund manager kawakan George Soros mengingatkan akan hadirnya krisis global yang masif, akankah krisis itu merambat ke Indonesia?

Nusantara.news, Jakarta – Suasana 1998 seperti kembali terulang, fund manager global George Soros mewanti-wanti bahwa akan ada krisis global yang besar dalam waktu dekat. Pemicunya memang di Eropa, namun dikhawatirkan merambat ke Asean, tanpa kecuali Indonesia.

Peringatan itu disampaikan Soros di situs money.cnn.com. Soros mengatakan krisis di negara-negara Uni Eropa dapat berdampak pada krisis ekonomi global yang lebih besar lagi.

“Kita mungkin sedang menuju krisis keuangan besar lain,” demikian peringatan Soros seperti dikutip situs money.cnn.com pada Rabu (30/5).

Menurut dia, beberapa faktor mendukung kemungkinan datangnya krisis global itu. Di antaranya meningkatnya sentimen anti-Uni Eropa, gangguan terhadap kesepakatan Iran, melonjaknya nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta para investor yang memilih mengambil uangnya dari pasar negara (surat utang negara).

Selain itu, masalah yang dinilai menjadi signifikan saat ini adalah krisis eksistensialisme yang sedang dialami Uni Eropa. “Uni Eropa kini berada dalam krisis eksistensial. Segala sesuatu yang bisa menjadi salah telah terjadi,” demikian pendapat George Soros.

Lelaki yang pernah memporak-porandakan keuangan Asia, menyesalkan bahwa program penghematan Uni Eropa yang telah berjalan sejak 2008 turut berkontribusi dalam pengarahan ke krisis euro. Beberapa kejadian seperti Brexit dan kekacauan politik yang baru-baru ini terjadi disebut sebagai dampak dari munculnya gerakan anti-Uni Eropa.

Selain itu, ia khawatir dengan kesenjangan yang tumbuh antara Eropa dan Amerika Serikat terkait dengan perjanjian Iran. Ia pun menyebutkan langkah Presiden Donald Trump yang memilih untuk mundur secara sepihak dari perjanjian senjata nuklir itu secara efektif menghancurkan aliansi transatlantik. “Seluruh dunia telah dikejutkan oleh tindakan Presiden Trump,” Soros menyesalkan.

Bahkan Soros menganggap penghentian kesepakatan tersebut akan memiliki dampak negatif terhadap perekonomian Eropa. Ia pun menyebutkan penguatan dolar Amerika Serikat telah berkontribusi dalam percepatan gejolak mata uang pasar berkembang.

Sebelumnya Soros juga pernah memperingatkan Inggris atas rencananya keluar dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit). Keputusan Inggris untuk keluar nantinya dinilai akan menyebabkan cabutnya banyak perusahaan asing dari negara itu.

“Saya menyerahkan sepenuhnya kepada komunitas bisnis Inggris, terutama perusahaan multinasional yang mendirikan pabrik di sini untuk masuk ke pasar umum. Apa yang bakal hilang dari Inggris? Itu adalah sektor pekerjaan,” demikian peringatan Soros seperti dilansir dari the Guardian, Kamis (13/3).

Orang kaya dunia yang penuh spekulasi ini mengungkapkan ternyataannya itu setelah pemimpin Partai Buruh, Ed Miliband mendapat dukungan dari kelompok bisnis lokal untuk mengajukan Inggris keluar dari Uni Eropa jika oposisi memenangkan pemilihan umum kesempatan berikutnya.

Meskipun banyak desakan Inggris akan hancur jika meninggalkan Uni Eropa, Soros tetap memaparkan kekhawatirannya bahwa Eropa mungkin tidak akan bertahan sepanjang periode stagnasi ini. Itu karena Jerman yang tak mau mengalah dan akhirnya menyebabkan krisis berkepanjangan.

Soros menyampaikan idenya bahwa zona euro harus dibagi menjadi dua. Euro utara dipimpin oleh negara-negara ekonomi kuat seperti Jerman, sedangkan euro selatan dipimpin oleh negara-negara yang lemah saat krisis ekonomi seperti Prancis.

Ini akan memastikan masa depan euro tanpa memecahkah satu masalah mendasar, yaitu ada negara yang harus keluar atau tetap bergabung dengan Uni Eropa.

“Jerman kurang reaktif untuk memastikan bahwa euro bisa bertahan. Mereka tidak mau mengorbankan sedikit kedaulatan mereka untuk kebaikan bersama. Ini telah menciptakan dua kelas di Eropa,” demikian Soros.

Menurut Soros, jika euro hancur, maka itu tidak akan memecahkan masalah melainkan menciptakan masalah yang lebih besar lagi. Masalah euro tidak memiliki solusi nasional. Jika ada negara yang meninggalkan euro, maka itu adalah bencana yang berarti default pada utang suatu negara. Rekayasa ekonomi dan stabilitas keuangan yang harus dilakukan mungkin bisa di luar kekuasaan pemerintah.

Euro alami tekanan jual

Langkah-langkah kebijakan Federal Reserve dan dinamika yang terjadi di Uni Eropa belakangan ini telah menimbulkan tekanan jual yang hebat atas euro terhadap dolar AS. Euro jatuh ke posisi terendah 10-bulan selama awal sesi Eropa beberapa hari terakhir.

Transaksi euro-dolar AS memperpanjang pembalikan tajam dari posisi tertinggi intraday 1,1728 dan tetap di bawah tekanan jual yang intensif di balik meningkatnya kekhawatiran di seputar ketidakpastian politik di Italia–ekonomi terbesar ketiga zona Euro.

Penurunan yang sedang berlangsung di pasar obligasi Italia, mengangkat perbedaan yield obligasi 10-tahun Italia/Jerman ke 264 bps, terbesar sejak 2013, telah berdampak negatif pada mata uang bersama.

Sementara itu, pasar sekarang khawatir bahwa pemilu mendatang mungkin memberikan mandat yang jelas kepada partai-partai euroceptic Italia, ditambah pula dengan memudarnya prospek pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (European Central Bank–ECB) terus memberi tekanan pada aksi jual besar-besaran di sekitar pasangan ini.

Saat ini akan menarik untuk melihat apakah pasangan ini mampu menemukan support pada level-level yang lebih rendah atau bears mempertahankan posisi dominan mereka, meskipun kondisi penjualan masif (oversold) jangka pendek dan kalender ekonomi yang kosong.

Dampak ke Indonesia

Pertanyaannya, apakah dampak krisis global yang dikhawatirkan Soros itu nantinya bisa merambat ke Indonesia? Terutama beberapa pelemahan kinerja makro ekonomi, fiskal dan moneter Indonesia, apakah akan menjadi titik serang Soros dan kawan-kawan?

Seperti diketahui, cara kerja para spekulan global seperti George Soros adalah memanfaatkan titik lemah kinerja ekonomi Indonesia pada 1998. Titik lemah itu kini tercipta kembali pada kinerja ekonomi kita. Paling tidak ada beberapa indikator titik lemah perekonomian Indonesia saat ini.

Pertama, nilai tukar yang terkoreksi sangat dalam yang sempat menembus level Rp14.200 dlihat sebagai titik lemah yang diintai spekulan global. Untung saja Bank Indonesia (BI) lewat kebijakan dua kali menaikkan suku bunga 7 Days Reverse Repo Rat ke posisi 4,75% sedikit membuat rupiah terangkat ke level Rp13.993.

Kedua, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami capital outflow mencapai Rp41 triliun, telah membuat IHSG turun dari 6700 ke level 5700. Belakangan sudah naik kembali di kisaran plus minus 6000.

Ketiga, utang utang luar negeri Indonesia yang telah mencapai Rp5.021 triliun (ekuivalen US$358,7 miliar), adalah celah yang juga bisa dijadikan titik serang spekulan. Tambahan pula rangkaian defisit transaksi perdagangan barang, jasa, migas, neraca pendapatan, neraca pembayaran, adalah titik lemah lain yang juga akan diintip spekulan global.

Aneka defisit transaksi barang, jasa, migas, pembayaran dan modal, menjadi bagian titik lemah ekonomi Indonesia.

Keempat, aneka kebijakan impor produk pangan seperti beras, cabai merah, bawang putih, terigu, minyak goreng, garam, jagung, kedele, dan belakangan kabarnya akan mengimpor singkong. Indonesia benar-benar dalam ancaman defisit yang terus membengkak.

Kelima, kondisi kredit macet industri perbankan nasionlan, terutama bank-bank pelat merah, yang telah mencapai Rp600 triliun, setiap saat bisa menjadi bom waktu yang memperlemah ekonomi Indonesia.

Keenam, jebakan pertumbuhan ekonomi yang stagnasi di level 5%, sementara pertumbuhan utang yang rerata 14% per tahun juga akan diintip spekulan sebagai bahan spekulasi

Ketujuh, pembangunan infrastruktur secara masif yang seharusnya memperkuat perekonomian, namun karena berlangsung pada situasi global yang kurang pas, ditambah dengan keterbatasan dana, lambat laun bisa menjadi bumerang dan titik serang para spekulan.

Semua kelemahan-kelemahan di atas tentu saja sudah ada dalam benak para spekulan untuk menyerang lewat pasar valas, pasar modal, maupun pasar utang.

Itu sebabnya, tugas para penanggung jawab otoritas fiskal dan moneter, dan otoritas keuangan adalah menciptakan bantalan yang cukup. Agar ketika guncangan krisis global itu datang, maka kita akan ikut terguncang namun tetap dalam level yang aman terkendali.

Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bantalan yang cukup dalam menghadapi guncangan tersebut?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here