Soros Ramalkan Trump Bakal Jatuh

0
316

Nusantara.news, Davos – Taipan Amerika Serikat yang juga sokoguru kapitalisme global George Soros meramalkan bahwa pemerintahan Donald Trump sebagai presiden AS yang dilantik 20 Januari 2017 tidak akan berjalan lama. Soros mengatakan, Trump segera jatuh karena ulahnya sendiri dalam membuat kebijakan-kebijakan kontroversial dan memilih para pembantu yang tidak tepat di pemerintahannya.

“Saya pribadi yakin dia akan jatuh. Bukan karena saya menginginkan dia jatuh, tapi lantaran gagasan-gagasannya kontradiktif. Kontradiksi ini telah benar-benar terwujud dalam bentuk para penasihatnya dan kabinetnya,” kata Soros dalam makan malam bersama media pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, seperti dilansir Reuters (20/1/2017).

Ramalan Soros diungkapkan karena tokoh yang sejak awal berada di kubu Hillary Clinton ini begitu mengkhawatirkan situasi pasar global yang akan goyah karena ketidakmenentuan yang muncul dari kebijakan-kebijakan Donald Trump paska-dia terpilih sebagai presiden AS ke-45.

“Saat ini, ketidakmenentuan sudah berada pada puncaknya,” ucap Soros. “Saya tak menganggap pasar akan baik-baik saja.”

Pada kenyataannya, harga saham di AS melonjak setelah Trump memenangi pemilu 8 November lalu. Bahkan hingga hari pelantikannya, situasi pasar saham juga tidak membaik.

“Pasar melihat Trump tengah bongkar-pasang aturan-aturan serta memangkas pajak, dan itu semua memang impian. Impian itu telah terwujud,” ujar Soros.

Seruan Trump soal pajak perbatasan (impor) dan menarik diri dari kesepakatan perdagangan Kemitraan Trans Pasifik yang digagas para pendahulunya yang merupakan kebijakan politik lain dari Trump, menurut Soros, sebagai kebijakan yang tidak ada kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi Amerika.

“Mustahil memprediksi bagaimana sebenarnya Trump akan melangkah,” katanya.

Pendiri Soros Fund Management LLC yang kini memimpin perusahaan berbasis di New York merupakan penyumbang besar kelompok penggalangan dana Super PAC yang mendukung calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, selain menyumbang kelompok-kelompok lain pendukung Demokrat.

Soros terkenal dengan kelakuannya dalam menarik untung besar pada momen 1992 ketika berspekulasi bahwa Pound Sterling Inggris akan jatuh jauh di bawah level normalnya dan harus menarik diri dari mekanisme tingkat mata uang Eropa.

Soros sebagai pendukung kapitalisme global tidak menghendaki kelompok-kelompok populis yang cenderung nasionalis mengendalikan kekuasaan di negara-negara mereka. Oleh karena itu, selain terhadap Trump sikap Soros yang sama pula terhadap Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Soros memprediksi kepemimpinan PM Theresa May di Inggris Raya juga tidak akan bertahan lama. Dia tidak yakin May akan terus bertahan mengingat ada perpecahan luas di dalam pemerintahannya.

Selasa lalu, May menjabarkan rencana Inggris untuk menegosiasikan langkah keluar negara ini dari Uni Eropa (Brexit). Soros mengatakan proses itu akan panjang dan “perceraian yang pedih” akan merugikan baik pihak Inggris Raya maupun Uni Eropa.

Sementara, soal Cina yang saat ini mendukung kapitalisme global Soros memprediksi lain. Soros menganggap Cina memiliki kepentingan Eropa bersatu karena pentingnya blok ini sebagai pasar ekspornya.

Dia memuji Presiden Cina Xi Jinping yang jadi pemimpin Cina pertama menghadiri Forum Ekonomi dunia di Davos. Dia menganggap Jinping dapat mengantarkan negaranya ke arah masyarakat yang lebih terbuka maupun ke arah masyarakat yang lebih tertutup, demi mempertahankan model pertumbuhan ekonomi yang lebih berkesinambungan.

Soros sebetulnya ingin mendorong Trump mendukung Cina sebagai masyarakat global. “Trump harus berbuat lebih banyak untuk menjadikan Cina diterima sebagai anggota utama komunitas internasional ketimbang yang bisa dilakukan Cina untuk dirinya sendiri,” kata dia. [ ] 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here