Soros Sebut Trump Calon Diktator

0
58

Nusantara.news, New York – Miliarder dan pelaku bisnis keuangan global George Soros menganggap kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat 2017-2021 sebagai ancaman demokrasi. Tidak hanya itu, Soros juga menyebut Trump sebagai calon diktator di Amerika.

“Demokrasi berada dalam situasi krisis. Bahkan di AS, sebagai negara demokratis di dunia telah memilih selebritas dan calon diktator sebagai presiden,” kata Soros.

Kemenangan Donald Trump sebagai hasil proses demokrasi yang dianggap tengah mengalami “krisis” pasti tidak menyenangkan termasuk bagi Soros. Bukan saja karena Trump sebagai lawan politik Soros yang sejak awal tidak berada di barisan pendukung, tapi juga karena kemenangan Trump dengan slogan-slogan populisnya mengancam kapitalisme global.

Soros mengkritik proses demokrasi yang mengguncang perekonomian secara global, yang dia maksud seperti referendum di Inggris yang memenangkan kubu Brexit dan pilpres AS. Menurut pengusaha asal Hongaria itu dunia telah gagal memilih para pemimpin mereka. Bagi Soros tahun 2016 telah menghasilkan sejarah yang cukup berarti bagi ekonomi dunia yaitu kemenangan Brexit dan kemenangan Donald Trump dalam pilpres AS.

“Demokrasi bakal membuktikan ketangguhannya di AS. Namun Trump memiliki kecenderungan yang lebih besar sebagai diktator. Dia tidak mengizinkan gangguan apapun sebagai presiden baru. Dia lebih memilih membuat penawaran untuk membela prinsipnya,” jelas Soros, sebagaimana dikutip marketwatch.com.

Setelah kemenangan Trump dikabarkan Soros mengumpulkan para miliader yang juga merupakan donatur Hillary Clinton untuk menggelontorkan dana yang ada dengan dua misi: menggagalkan kemenangan Trump dan menolak program 100 hari Trump setelah diangkat menjadi presiden.    

Soros sebagai tokoh kapitalis dunia terus mengulang kekhawatiran terhadap masa depan AS, seperti kekhawatirannya terhadap Uni Eropa yang secara ekonomi terpukul akibat kemenangan Brexit di Inggris. Terakhir, hasil referendum rakyat Italia yang hasilnya menolak reformasi konstitusi.

Soros juga mengkhawatirkan soal Presiden Rusia Vladimir Putin yang terus memperkuat pengaruhnya di Eropa. Dia mengingatkan, Putin berpotensi mengeksploitasi informasi hoax untuk memengaruhi pemilu di Eropa tahun depan. Seperti yang diyakini Soros telah dilakukan Putin pada pilpres AS yang lalu. Dengan demikian, Uni Eropa akan berada dalam keadaan sulit.

“Di Prancis ada dua pesaing kuat yang dekat dengan Putin dan sangat bersemangat untuk memenangkannya. Jika salah satu memang, maka dominasi Putin di Eropa akan menjadi fait accompli,” beber Soros.

Reaksi Trump

Sementara itu, sejumlah berita di AS menyebut, Donald Trump saat ini tengah menyiapkan rencana menyebut Soros sebagai ancaman keamanan nasional di AS setelah dia menduduki Gedung Putih akhir Januari 2017.

Menurut Kremlin, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov telah diminta oleh Tim Transisi Trump untuk memberikan seluruh dokumen terkait Soros. Soros dalam dokumen-dokumen yang dimiliki Rusia tersebut diduga terlibat melakukan intervensi ilegal yang menyebabkan upaya federalisasi di Ukraina menjadi konflik massal dan menimbulkan pertumpahan darah yang mengorbankan sekitar 9.600 pria, wanita dan anak-anak.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here