Sosialisme dengan Karakteristik Cina (1)

0
210

Nusantara.news – One country, two systems adalah sebuah formula kebijakan politik RRC yang dicanangkan Deng Xiaoping. Awalnya, ide dasar di balik formula one country, two systems adalah respon RRC dalam rangka menerima kembali Hongkong dan Macau (1997)—dua wilayah yang sebelumnya secara administratif masing-masing berada di bawah kekuasaan Inggris dan Portugal.

Dengan demikian, one country, two systems merupakan upaya RRC untuk tetap mempertahankan karakteristik Hongkong dan Macau yang selama ini menganut sistem perdagangan bebas.  one country, two systems, oleh karenanya, dipandang sebagai sikap RRC yang menganut dua cara hidup yang berbeda: sebagian besar daratan Cina yang menganut sistem ekonomi sosialistis serta Hongkong dan Macau yang menganut sistem kapitalistis.

Konsep one country, two systems sendirinya sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “Sosialisme dengan karakteristik Cina”—sebuah gagasan yang dicetuskan Deng di lingkungan terbatas elit PKC di tahun 1978, dua tahun setelah kematian Ketua Mao. Proses memperkenalkan ide memang tidak mudah di dalam tubuh partai, mengingat faksi garis keras masih memiliki kekuatan yang cukup signifikan.

Akhirnya, dalam Kongres PKC ke 13 tahun 1982 partai memutuskan untuk menerima gagasan ini melalui dokumen resmi yang disebut sebagai “Advance Along the Road of Socialism with Chinese characteristics”—Melangkah Maju Melalui Jalan Sosialisme dengan Karakteristik Cina.

Sosialisme dengan karakteristik Cina, yang berarti sosialisme disesuaikan dengan kondisi Cina, adalah ideologi resmi dari Partai Komunis Cina (CPC), mengaku didasarkan pada sosialisme ilmiah. Dokumen politik ini antara lain dukungan terhadap terciptanya ekonomi pasar sosialis yang dipimpin oleh sektor publik/negara. Menurut PKC, arah ini  tidak meninggalkan Marxisme, melainkan sebagai langkah untuk mengakomodasi sistem ekonomi baru.

PKC berpendirian bahwa sosialisme kompatibel dengan kebijakan ekonomi tersebut. Cara semacam ini oleh PKC merupakan tahap utama menuju masyarakat sosialis dengan sistem industrialisasi. PKC meyakini bahwa segala sumber daya nasional yang mereka miliki mampu dijadikan sebagai modal dasar menuju Cina moderen.

Potensi ekonomi Cina sebenarnya dapat dilacak pada sejarah negeri ini pada beberapa abad yang lampau. Cina memiliki salah satu ekonomi terbesar dan paling maju di dunia sebelum abad ke sembilan belas. Pada abad ke-18, Adam Smith mengklaim Cina telah lama menjadi salah satu negeri yang terkaya. Negeri ini dianggap paling subur yang ditunjang dengan etos kerja rakyatnya yang produktif.

Selama era 1930-an, Cina telah mulai mengembangkan sektor industri modern yang merangsang pertumbuhan ekonomi sederhana tapi signifikan. Sebelum runtuhnya perdagangan internasional yang diikuti terjadinya Depresi Besar yang akhirnya meletusnya Perang Dunia II (1939 – 1945).

Ekonomi negeri ini sangat terganggu oleh perang melawan pendudukan tentara Jepang dan Perang Saudara antara kaum komunis melawan kaum nasionalis (Koumintang) 1937-1948. Setelah tahun 1949 kaum komunis menguasai Cina. Sejak saat itu seluruh aspek kehidupan diubah secara revolusioner, dimulai dengan perombakan struktur kepemilikan tanah di wilayah perdesaan.

Sejak saat itu tata kelola lahan pertanian dilakukan dengan prinsip kolektivitas (kepemilikan bersama). Di sisi lain, negara mengambil peran sentral sebagai perencana pembangunan. Sistem ini berhasil mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin di satu sisi serta mengurangi ketimpangan antara desa dan kota.

Namun demikian, sistem ini cenderung agak stagnan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kemakmuran. Padahal, banyak potensi nasional Cina yang dapat dikembangkan untuk menuju kemakmuran rakyat. Hal ini jelas menuntut cara-cara baru yang dapat didayagunakan untuk meraih kemajuan sosial dan ekonomi. Inilah salah satu faktor yang mendorong Deng Xiaping mencanangkan Sosialisme dengan Karakteristik Cina

Reformasi ekonomi memperkenalkan prinsip-prinsip pasar secara sangat terbatas sebenarnya telah dimulai di tahun 1978 dan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, pada akhir tahun 1970 dan awal 1980-an dengan melakukan dekolektifisasi pertanian, membuka diri untuk investasi asing, dan reformasi perizinan bagi pengusaha lokal untuk tumbuh.

Meski demikian, pada tahap paling awal reformasi ekonomi ini sebagian besar industri masih tetap dimiliki negara. Tahap kedua reformasi, di akhir 1980-an dan 1990-an, mulai muncul beberapa kebijakan privatisasi di berbagai industri milik negara dan pencabutan kontrol harga, meskipun monopoli negara di sektor perbankan dan minyak bumi masih tetap tak tergoyahkan.

Keberhasilan kebijakan ekonomi Cina dan cara pelaksanaannya hingga saat ini telah mengakibatkan perubahan besar dalam masyarakat Cina. Program perencanaan pemerintah skala besar bersama karakteristik pasar telah meminimalkan kemiskinan secara umum, sekalipun berakibat pada ketimpangan pendapatan yang juga meningkat. Di kalangan akademik banyak  para ahli yang mendiskusikan tentang keberhasilan RRC yang menempuh “dual-track” ekonomi dan membandingkannya dengan upaya reformasi sosialisme di Blok Timur dan Uni Soviet, serta pertumbuhan negara berkembang lainnya.

1978-1984: Reformasi Agraria Di Perdesaan

Reformasi pertama Deng mulai di bidang pertanian. Pada 1970-an, persediaan makanan dan produksi sektor berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Deng memperkenalkan kebijakan dekolektifisasi pertanian dengan menekankan pada rumah tangga tani. Sistem ini mencoba mengkombinasikan kepemilikian tanah komune untuk rakyat dengan tanah yang diplot untuk kepemilikan pribadi. Dari sisi ini petani terangsang untuk mengejar produksi di lahannya sendiri sambil tetap menggarap lahan kolektif. Sementara itu, lahan kolektif sedemikian rupa ditata dengan cara kepemilikan saham untuk masing-masing rumah tangga tani. Dengan cara ini petani termotivasi untuk meningkatkan produktivitas.

Langkah ini berhasil meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan standar hidup ratusan juta petani dan mendorong bangkitnya industri di pedesaan. Berbeda dengan pendekatan top-down dari perestroika di bekas Uni Soviet, pendekatan bottom-up dari reformasi yang dipromosikan oleh Deng oleh banyak kalangan dianggap sebagai faktor penting yang berkontribusi pada keberhasilan transisi ekonomi Cina. Reformasi pertanian di perdesaan telah menjadi soko guru lompatan ekonomi RRC pada beberapa dasawarsa sesudahnya.

Bersamaan dengan itu, reformasi juga diterapkan dalam industri perkotaan untuk meningkatkan produktivitas. Sebuah sistem mulai dual-harga diperkenalkan di mana badan usaha negara, khususnya di bidang industri, diizinkan untuk menjual produksi di atas kuota yang telah direncanakan. Hal ini memungkinkan warga untuk terhindar dari kekurangan bahan kebutuhan pokok sebagaimana yang terjadi di era Mao TseTung. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here