Sosialisme dengan Karakteristik Cina (3)

0
345

Nusantara.news – Strategi One Country; Two Sistem atau yang secara resmi disebut sebagai “Sosialisme dengan Karakteristik Cina” yang dicanangkan sejak awal dasawarsa 80-an ternyata cukup ampuh sebagai wahana yang mengubah wajah Cina dengan akselerasi yang hampir tanpa preseden sejarah. Hanya dalam waktu dua dasawarsa kebijakan tersebut telah mengantarkan Cina menjadi super power ekonomi, tidak saja di kawasan Asia Pasifik tetatapi juga di seluruh dunia. Tentu tidak mengherankan jika kemajuan Cina telah menjadi sorotan masyarakat internasional. Tidak hanya sampai di situ, pembaruan kebijakan ekonomi terus di lakukan.

Suatu tahap baru menuju Cina yang lebih maju mulai dicanangkan di tahun 2003. Ini terjadi pada sidang pleno PKC yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2003. Para legislator Cina saat itu mengajukan usulan baru untuk mengamandemen konstitusi negara. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah jaminan perlindungan atas hak atas kepemilikan properti.

Rancangan pasal baru ini mengubah secara radikal konstitusi negara yang sebelumnya masih cenderung sosialistis. Usulan yang diajukan juga mencakup upaya untuk mengurangi pengangguran (yang saat itu berkisar 8-10% di daerah perkotaan), menyeimbangkan distribusi pendapatan antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi lingkungan dan meningkatkan keadilan sosial.

Pada sidang di bulan Maret tahun 2004 akhirnya Kongres Nasional Rakyat menyetujui amandemen konstitusi berdasarkan beberapa usulan tersebut. Dengan konstitusi yang telah diamandemen itu, sidang pleno Kongres Nasional Rakyat bulan Oktober 2005 menyetujui 11 Butir Rencana Prioritas dalam Lima Tahun Program Ekonomi (2006-2010). Langkah ini bertujuan untuk membangun “masyarakat yang harmonis sosialis,” melalui distribusi kekayaan yang lebih seimbang dan meningkatkan pendidikan, perawatan medis, dan jaminan sosial.

Efek implementasi kebijakan yang dicanangkan itu sangat luar biasa. Sampai dengan tahun 2015 Cina merupakan negara yang paling cepat berkembang ekonominya di dunia, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 10% selama lebih dari 30 tahun. Sekalipun pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari kebijakan liberalisasi ekonomi ala Deng Xiao Ping yang memberikan peran besar bagi sektor swasta, namun sektor publik di negeri ini masih menyumbang bagian yang lebih besar dari kue ekonomi nasional dibandingkan dengan sektor swasta. Ini membuktikan bahwa negara masih memimpin ekonomi di Cina.

Saat ini Cina merupakan pusat dunia untuk industri manufaktur, dan ekonomi manufaktur terbesar di dunia serta eksportir barang terbesar di dunia. Di sisi lain, Cina juga merupakan pasar atau konsumen dunia yang paling cepat berkembang. Negeri ini tergolong 3 importir barang terbesar di dunia.

Bersamaan dengan itu, dalam satu dasawarsa terakhir Cina memainkan peran paling penting dalam perdagangan internasional, dan telah semakin terlibat dan mengambil peran penting dalam berbagai organisasi perdagangan dunia dan perjanjian internasional. Selain masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia/WTO pada tahun 2001, Cina juga memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara, termasuk Australia, Korea Selatan, ASEAN, Selandia Baru, Swiss dan Pakistan.

Saat ini, berdasarkan perhitungan yang dilakukan IMF, pendapatan per kapita Cina berada pada peringkat 72 berdasarkan PDB (2015). Provinsi-provinsi di daerah pesisir Cina yang menjadi zona ekonomi khusus bagi ekonomi kapitalis cenderung lebih banyak memberikan kontribusi bagi PDB nasionaal. Oleh karenanya, wilayah ini lebih makmur dan maju dibandingkan wilayah pedalaman yang masih menganut sistem ekonomi sosialis.

Persoalan ini memang menjadi masalah kritis di RRC di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang spektakuler secara nasional. Perbedaan tingkat kemakmuran antara provinsi lebih berkembang dp pesisir dengan yang kurang berkembang di daerah pedalaman miskin masih menjadi tantangan bagi Cina saat ini. Menurut perkiraan PBB pada tahun 2007, terdapat sekitar 130 juta orang di Cina, terutama di daerah pedalaman, yang masih hidup dalam kondisi miskin dengan tingkat konsumsi kurang dari $ 1 per hari. Di sisi lain, sekitar 35% dari penduduk Cina hidup di bawah $ 2 per hari.

Untuk menghindari biaya sosial ekonomi jangka panjang akibat pencemaran lingkungan, Cina mulai sedikit menggeser arah industrinya menjadi pembangunan industri yang lebih maju dengan teknologi tinggi. Ini dimaksudkan sebagai upaya pengurangan emisi karbon. Upaya ini juga mencakup alokasi anggaran yang lebih memadai untuk pengembangan sumber daya nasional dalam rangka inovasi serta pengembangan R & D untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam rangka mengurangi dampak industri berat Cina.

Namun demikian, seiring dengan prestasi ekonomi yang berhasil diraih, negeri ini juga dikritik oleh berbagai kalangan. Cina dituding melakukan praktik perdagangan yang tidak adil, termasuk pencurian hak kekayaan intelektual, praktik proteksionisme, dan favoritisme kebijakan negara terhadap pengusaha lokal. Sebelumnya Cina juga dituding melakukan praktik penggunaan narapidana sebagai pekerja industri dengan upah yang sangat jauh di bawah tingkat kelayakan. Namun, praktik penggunaan narapidana ini telah dihapus berkat tekanan masyarakat internasional.

Grafik Kontribusi Cina terhadap PDB Dunia (1992-2012)


Sebagai kekuatan ekonomi yang terus tumbuh, Cina memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap perekonomian dunia. Pada tahun 1992 kontribusi Cina bagi GDP dunia baru mencapai 1,4%. Namun dalam waktu dua puluh tahun, kontribuis Cina bagi GDP dunia mengalami kenaikan lebih dari 10 kali lipat. Di tahun 2012 kontribusi GDP Cina pada GDP dunia mencapai 19,3%. Ini berarti bahwa 1/5 GDP dunia berasal dari Cina. Fakta ini menunjukkan bahwa RRC adalah raksasa ekonomi. Kekuatan ekonominya telah mengantarkan negeri ini menjadi salah satu super power dunia.

Kondisi Mutakhir

Penting untuk dicatat bahwa laju pertumbuhan ekonomi ekonomi Cina belakangan ini telah mulai melambat. Banyak kalangan mengkhawatirkan Cina akan mengalami penurunan ekonomi yang lebih drastis di Cina. Penurunan ekonomi Cina boleh jadi akan berimbas pada perekonominan dunia mengingat negeri ini memiliki posisi penting dalam struktur ekonomi global. Perlambatan ekonomi Cina antara lain terjadi di wilayah yang menjadi pusat industri dasar yang kelebihan kapasitas produksi, seperti batu bara, baja, dan semen, serta industri otomotif, sebagai akibat berkurangnya penjualan.

Di samping mengakibatkan lemahnya pertumbuhan ekonomi Cina, problem semacam itu juga berakibat pada pengurangan tenaga kerja di sejumlah sektor industri. Sejak tiga tahun terakhir ini ekonomi Cina memang tengah mengalami pertumbuhan yang cenderung melemah. Di tahun 2012 dan 2013 pertumbuhan ekonomi negara ini mencapai 7,7% (padahal, di tahun 2011 pertumbuhan Cina mencapai 9,3%). Di tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Cina terus melemah menjadi 7,4%. Bahkan, angka pertumbuhan ekonomi Cina di tahun 2015 diperkirakan tidak lebih dari 7%. Angka resmi sementara dari pemerintah Cina untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 yang angka pastinya tengah dihitung berkisar antara 6,8% – 6,9%.

Problem semacam ini pada gilirannya memaksa Cina untuk melakukan ekspansi pasar ke luar. Kejenuhan pasar di dalam negeri dalam bentuk ketidakseimbangan antara hasil produksi dan serapan konsumsi di satu sisi serta upaya untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di sisi lain, membuat Cina melihat peluang untuk melakukan penetrasi pasar di luar teritorialnya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here