Spektakuler, Itulah Kang Suyat!

0
435
Di hadapan ratusan ribu pendukungnya, Kang Suyat menandatangani kontrak politik. Isu yang diusung menggelontorkan dana Rp 500 juta rupiah setiap desa pertahun untuk program desa mandiri.

Nusantara.news, Magetan – Calon Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro atau yang akrab dipanggil Kang Suyat boleh dibilang sangat spektakuler. Betapa tidak, calon bupati periode 2018-2023 ini berhasil mengumpulkan 100 ribu orang dalam acara Mlaku Bareng Kang Suyat, yang digelar di kawasan Stadion Yosonegoro, Magetan, Minggu (10/12/2017) lalu. Bahkan ketua panitia acara mengklaim dihadiri 200 ribu orang

Start dimulai dari Jalan Yosonegoro depan Stadion Yosonegoro Magetan, Jalan Kompol Ismiadi, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Bali, Jalan Kresno hingga finish di depan Stadion Yosonegoro.

Berbaur bersama warga yang datang dari berbagai desa di 18 kecamatan di Magetan, acara Mlaku Bareng Kang Suyat ini menawarkan hadiah utama sepeda motor dan mobil.

“Ini sebagai salah satu upaya kami dalam memperkenalkan diri kepada warga masyarakat. Alhamdulillah antusiasme warga luar biasa, tidak saya bayangkan sebelumnya,” jelas Kang Suyat kepada awak media.

Pengusaha asal Parang, Magetan ini memutuskan maju pada pemilihan Bupati Magetan tahun depan, di hadapan ratusan ribu warga yang hadir dan disaksikan notaris Kang Suyat menandatangani kontrak politik di atas materai.

Salah satu isi kontrak politik adalah, Kang Suyat bakal menggelontorkan dana Rp 500 juta rupiah setiap desa per tahun untuk program desa mandiri. Kang Suyat juga berjanji, apabila janjinya tidak terealisasi, dia siap mundur. “Bila hingga tahun ketiga janji itu tidak terealisasi, maka saya siap mundur dari Bupati Magetan,” tegasnya di hadapan pendukungnya yang dinamai Bolo Dhewe.

Beberapa tokoh agama juga hadir, seperti Kyai Mansur, Kyai Hunain, Kyai Lukman Hidayat. Dari partai Politik, nampak ketua DPC Nasdem Magetan, Gaguk Arif Sujatmiko, Sekretaris DPD PKS Magetan, Sugeng, Sekretaris PPP, Ahmad Zahni, dan lainnya.

Musik Koplo Monata bersama Cak Shodiq dan artis Jawa Timur lainnya, menambah semangat warga yang tumpah ruah di Stadion Yosonegoro, Magetan. Sambil menunggu undian hadiah mereka asyik menikmati puluhan lagu persembahan Monata.

Sementara untuk hadiah utama berupa sepeda motor diraih oleh Karmi, asal Desa Pingkuk, Bendo, sedangkan hadiah mobil didapat oleh Endang Sri, petani asal Desa Tulung Kawedanan Magetan.

“Saya tidak menyangka bisa dapat hadiah mobil, matur suwun Kang Suyat, mugi-mugi barokah dan bisa jadi Bupati Magetan,” doa Endang Sri Rejeki pasca penyerahan hadiah secara simbolis oleh Kang Suyat yang didampingi istri, Arini Handayani.

Dongkrak Suara Prabowo Saat Pilpres

Sejak acara Mlaku Bareng Kang Suyat yang dihadiri ratusan ribu orang, nama Kang Suyat menjadi pergunjingan di Pilkada Magetan. Sejak Mbah Mantri—sapaan Bupati Magetan Sumantri tidak lagi menjabat karena sudah dua periode, gelanggang pemilihan Bupati (Pilbub) Magetan 2018 mulai diisi kemunculan orang-orang baru.

Di jagat politik Magetan, Kang Suyat merupakan pendatang baru. Pria berusia 48 tahun itu lahir dari kawasan terpencil, Desa Nglopang Kecamatan Parang. Lebih dari separuh umurnya, dihabiskan di Samarinda, Kaltim. Karena himpitan ekonomi keluarga, sejak 1988 ia meninggalkan desa kelahirannya yang dijepit gunung dan hutan di wilayah tenggara Magetan itu.

Di perantauan dia bisa melanjutkan kuliah hingga bekerja. Pernah hampir sepuluh tahun menjadi wartawan, ia kemudian menjadi tenaga ahli di DPRD Provinsi Kaltim karena latar belakang pendidikannya di disiplin hukum kenegaraan.

Pada 2003 Kang Suyat mencoba berwiraswasta dengan mendirikan usaha percetakan dan penerbitan di Samarinda dan Lamongan, Jatim. Baru tahun-tahun belakangan ini ia gencar berkebun sengon, dengan konsep bagi hasil bersama petani sekitar Magetan, Madiun, Kediri, Trenggalek, Karang Anyar dan Wonogiri. 1,86 juta pohon sengon telah ditanam.

Kendati baru terjun di kancah politik Magetan, jejak Kang Suyat sudah mulai diperhitungkan politisi setempat. Selain karena kedekatannya dengan kalangan kelompok tani di desa-desa, pada 2014 silam gerakannya sempat mengejutkan sebagian politisi.

Seorang sekretaris sebuah Parpol di Magetan menuturkan, menjelang pemilihan Presiden, Kang Suyat datang dengan misi pemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres. Kang Suyat tidak terlibat melalui mesin koalisi partai pengusung Prabowo, melainkan dengan membangun jaringan baru di luar Parpol.

Pada awalnya, sejumlah pimpinan partai dan para politisi kenamaan hanya memandang sebelah mata mendengar gerakan politik Kang Suyat menjelang coblosan Pilpres. Kabarnya ia ditugasi khusus untuk mengerek suara Prabowo di Magetan yang jeblok menurut survei sebelum coblosan.

Bacaan survei menyebutkan posisi Jokowi di sekitar Magetan, Ngawi, Sragen, Karanganyar hingga mencapai 67 persen pemilihan. Magetan sebagai kandang Banteng, diramalkan banyak orang bahwa Pilpres 2014 akan dimenangi Jokowi. Setelah pemungutan suara, Prabowo membalikkan keadaan. Bos Gerindra itu unggul lebih dari 50 persen.

Kang Suyat (kanan) menjadi aktor di balik layar yang berhasil mengerek suara Prabowo Subianto di Pilpres 2004 dan memenangkan Ipong Muchlissoni menjadi Bupati Ponorogo 2015.

Sosok Kang Suyat yang dibicarakan orang bak hilang di telan bumi sebelum pleno KPU. Sebagian pimpinan Parpol di Madiun, Ngawi dan Magetan mulai penasaran dengan Kang Suyat, tapi sosoknya tak juga datang setelah perhitungan Pilpres berakhir.

Setelah menghilang hampir setahun pasca Pilpres, Kang Suyat muncul lagi di sekitar Magetan menjelang Pilkada 2015.  Dia rupanya sedang mengomandani lagi sebuah tim yang dipersiapkan dalam perhelatan politik Pilkada Ponorogo 2015.

Tim Kang Suyat mengusung Ipong Muchlissoni sebagai menjadi kandidat Bupati Ponorogo. Pada awalnya, kemunculan Ipong juga agak diremehkan banyak orang, mengingat yang bersangkutan namanya belum dikenal di Ponorogo. Maklum, seperti halnya Kang Suyat, Ipong sejak lulus SMA juga merantau ke Samarinda.

Namun berkat kerja Kang Suyat bersama tim, masyarakat sekitar Ponorogo baru terkaget-kaget setelah coblosan Desember 2015. Ya, Ipong justru meraih suara terbanyak dengan menghempaskan langkah M Amin, Bupati Ponorogo petahana saat itu.

Dari gelaran Pilpres 2014 dan Pilkada Ponorogo 2015 itulah nama Kang Suyat mulai diperhitungkan. Meski dia berada di balik layar, namun peran politiknya tidak bisa diremehkan. Dia berhasil mengerek suara Prabowo Subianto dan memenangkan Ipong Muchlissoni menjadi Bupati Ponorogo, tentu bukan perkara mudah.

Karena itulah, masyarakat Magetan terutama politisi mulai menjadikan Kang Suyat sebagai bahan kalkulasi. Jika dia mahir mengutak-atik suara Pilpres dan Pilkada dengan pengetahuan dan kemampuannya, tentu kalau dia maju di Pilkada  Magetan 2018, maka hal itu akan sangat mudah.

Bukan Sekedar Politik di Balik Layar

Meski Pilkada Magetan 2018 menjadi debutnya, namun Kang Suyat dinilai memiliki pengalaman politik yang tidak bisa diremehkan, terutama oleh lawan-lawan politiknya.

“Hari gini kok sudah bicara peluang. Belanda kan masih jauh,” demikian gaya Kang Suyat menanggapi awak media. Gaya santainya itu membuat banyak politisi kebakaran jenggot. Sebab, ada alasan mengapa Kang Suyat berbicara seperti itu. Ya, ketika banyak politisi maupun partai bicara soal peluang memenangkan Pilkada Magetan 2018, Kang Suyat malah berbicara sebaliknya.

Bagi kang Suyat, Pilkada Magetan 2018 adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat setempat bahwa maju-mundurnya perekonomian daerah akan sangat dipengaruhi kualitas bupati yang ditentukan rakyat. Dengan kesadaran itu, maka anggapan lama bahwa wong cilik atau masyarakat desa atau orang awam akan sama saja nasibnya terhadap siapa pun bupati yang terpilih, harus dibuang jauh.

“Katakan Magetan ini punya beberapa potensi perekonomian yang layak dikembangkan, tetapi kalau bupatinya tidak tanggap karena tidak peduli atau tidak cakap, mana bisa ekonomi maju? Poin ini lebih penting diketahui masyarakat lebih dulu, sebelum membicarakan peluang masing-masing kandidat. Dengan kesadaran masyarakat yang begitu, maka Pilkada akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Bukan sekadar siapa yang dapat memberi uang recehan kepada masyarakat  sebelum coblosan,” kata Kang Suyat.

Karenanya, ia berpesan kelak bila masanya pengenalan kandidat bupati tiba, masyarakat membedah rekam-jejak dan mencerna program yang akan diterapkan dalam memimpin. Nah, dalam acara Mlaku Bareng Kang Suyat tersebut, dia boleh dibilang mulai menunjukkan apa arti seorang pemimpin.

Menurutnya, gagasan yang disampaikan para calon pemimpin masuk akal atau tidak. Sebab, semua itu harus jelas. Bukan sekedar janji. Tapi untuk memajukan perekonomian Magetan. Karena itu antar warga perlu diajak diskusi.

Intinya, Kang Suyat mendorong masyarakat menjadikan Pilkada sebagai sarana untuk memajukan daerahnya. Bukan sekadar kegiatan rutin lima tahunan. “Kalau masyarakat tidak menggunakan sebaik-baiknya daya nalar dan hati kecil dalam kaitan pentingnya memajukan daerah, maka Pilkada hanya akan menguntungkan sebagian kecil orang yang sudah mapan secara politik dan ekonomi saja,” ujarnya.

Di Magetan, Kang Suyat merupakan pendatang baru. Namun di kancah politik, namanya diperhitungkan banyak orang termasuk para politisi.

Kang Suyat mengakui, dirinya sudah siap lahir batin menjadi Bupati Magetan. Namun menurutnya, tetap saja yang menentukan kemenangan Pilkada Magetan adalah Tuhan dan rakyat. “Jabatan Bupati itu sesungguhnya tergantung keputusan Tuhan. Intinya soal pencalonan Bupati tidak menyandera menjadi beban hidup, mengikuti seperti air mengalir saja. Kalau bisa ya maju, kalau nggak ya sudah,” tuturnya dengan enteng.

Ketika disinggung tentang gagasannya untuk memajukan Magetan, Kang Suyat lebih dulu melihat masalah yang melilit kabupaten ini. Di mata dia, karena posisi geografisnya, awalnya Magetan menghadapi masalah keterisolasian kawasan. Itu salah satu faktor yang kurang mendukung pengembangan perekonomian. Seiring dengan terbukanya jalur Magetan-Karanganyar, harus makin jeli membaca peluang pembukaan jalur transportasi dari kawasan ke kawasan lain yang memungkinkan berkembangnya perekonomian masyarakat.

“Dengan adanya pintu tol di Ngawi yang menghubungkan akses Jakarta dan Surabaya, Magetan harus bisa mengambil manfaat dengan membaca itu dalam konsep perencanaan pembangunan perekonomian. Bagaimana potensi itu disebarkan ke dunia usaha, agar ada investasi masuk. Kalau nggak ada investasi, percayalah ekonomi Magetan ya tetap akan jalan di tempat. Investasi menjadi salah satu dewa penolong, karenanya manajemen penanganannya harus prima,” tandasnya.

Kang Suyat berpendapat, dalam strategi pemerintahan daerah ke depan, Magetan perlu segera mendorong agar lebih banyak orang luar daerah datang ke Magetan. Apakah karena urusan bisnis atau berwisata.

”Semakin banyak orang yang datang ke Magetan, maka jelas akan memicu pertumbuhan ekonomi. Pendatang bisa beli makan di warung, apalagi menginap, atau beli produk industri kerajinan. Semakin banyak orang yang datang berkunjung, semakin besar peluang kemajuan ekonomi daerah. Karena itu, sarana pemikatnya, seperti obyek wisata harus lebih banyak dibangun dan dikembangkan. Iklim investasinya bila perlu dibuat paling mudah se-Indonesia supaya orang mau invest di Magetan. Kalau tidak dibikin mudah, siapa yang mau invest di Magetan? Kalau disingkat, resep memajukan Magetan itu adalah datangkan sebanyak mungkin orang ke Magetan, maka rezeki juga akan semakin banyak datang. Sehingga pendatang bisa membeli kerajinan dari bambu, baju batik motif pring sedapur, gethuk pisang dan produk khas daerah lainnya. Tidak cukup gagasan itu disampaikan, tapi harus diperjuangkan secara gigih, manakala itu mengandung kebenaran. Ini sekaligus saran kepada siapa pun yang kelak menjadi Bupati Magetan,” beber Kang Suyat.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here