Too Big To Fail Lion Air (1)

Spesialis Delay Itu Mulai Memakan Korban Jiwa

0
169
Pesawat Lion Air JT610 pada Senin (29/10) jatuh di perairan pantura Karawang dengan membawa 189 korban jiwa baik dari penumpang maupun kru dan pilot.

Nusantara.news, Jakarta – Lion Air adalah cerita burung besi milik Rusdi Kirana. Sejak kehadirannya memang penuh kontroversi, sampai langganan delay, tergelincir, mogok, hingga jatuh, seperti jadi penghias media massa. Kali ini Lion Air jatuh di perairan Karawang dengan potensi korban mencapai 189 orang.

Pada awalnya yang paling menonjol dari Lion Air adalah delay atau penundaan penerbangan, hingga akhirnya penumpang digiring ke pesawat dengan jadwal penerbangan berikutnya. Itu sebabnya Lion Air sering dapat julukan ‘raja delay’, ‘rutin delay’ hingga yang paling menjengkelkan mengatakan ‘lie on air’.

Rupanya hukuman sosial tersebut tak membuat jera Lion Air. Bahkan penerbangan low cost carrier ini sampai dapat julukan ‘manajemen metro mini’ pun tak membuat Lion Air bergeming. Geser-geser jadwal penumpang ke dalam satu pesawat hingga akhirnya pesawat penuh, baru berangkat.

Lion Air pun tak mempedulikan keluhan, kritikan, bahkan makian penumpang yang terkena risiko penundaan penerbangan beberapa jam. Yang penting pesawat bisa terbang dengan penumpang penuh.

Sampai-sampai penumpang menjuluki Lion Air sebagai maskapai paling tidak konsisten, tak menghargai penumpang dan lainnya. Pemilik Lion Air Rusdi Kirana saja sempat berseloroh bahwa Lion Air adalah maskapai terburuk di dunia.

Tentu saja pernyataan itu tidak meluncur begitu saja di ruang hampa, karena memang faktanya Lion Air berani banting harga tiket, mulai dari promo, program dan lainnya. Sehingga maskapai ini dibenci tapi juga dirindu oleh penumpang.

Pada 29 Oktober 2018 pagi, naas menimpa Lion Air JT610, 189 penumpang dan kru maskapai itu jatuh di Tanjung Karawang, perairan sekitar pantai utara Karawang, Jawa Barat. Diduga 189 penumpang dan kru tak ada yang selamat, karena bodi dan peralatan pesawat sudah menjadi serpihan, begitu pula tubuh manusia berserakan tidak lengkap.

Diduga ke-189 penumpang dan kru meninggal dunia. Kecuali Sony Setiawan, pegawai Kanwil Ditjen Perbendaharaan Babel, yang harusnya ikut dalam pesawat Lion Air JT610, tapi terjebak macet di tol Cikampek. Sesampai di Bandara Soekarno-Hatta ia bersyukur sekaligus menangis mendengar Lion Air hilang kontak dan memutuskan beralih ke pesawat Air Asia.

Memicu kecelakaan

Malam sebelum insiden, pesawat Lion Air PK-LQP sempat dilaporkan mengalami masalah dalam penerbangan dari Denpasar ke Jakarta. Permasalahan itu diungkap langsung oleh Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait, kendala muncul saat Lion Air PK-LQP tengah terbang dari Denpasar ke Jakarta pada Minggu (28/10) malam.

“Pesawat ini terakhir terbang dari Denpasar menuju Cengkareng, dalam posisi dirilis untuk terbang. Memang ada laporan mengenai masalah teknis dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat,” ujar Edward.

Edward mengatakan kondisi pesawat dari Denpasar ke Jakarta dalam kondisi baik. Apabila ada masalah, lanjutnya, tidak mungkin pesawat itu diizinkan terbang.

Kalau pesawat rusak, menurut Edward, tidak mungkin dirilis terbang dari Denpasar. Cuma memang benda bergerak sebagaimana kita ketahui akan bisa mengalami gangguan setelah dia mendarat, hanya ketika dia mendarat ada laporan dari awak pesawat itu langsung kita kerjakan itu yang kita lakukan. Malam itu langsung dilakukan pemeriksaan dan perbaikan sesuai petunjuk pabrik pesawat.

Keesokan harinya, Senin (29/10) pagi, sekitar pukul 06.20 WIB, pesawat itu sudah lepas landas dengan rute Jakarta-Pangkalpinang. Sekitar 13 menit di udara, pesawat hilang kontak, kemudian dinyatakan jatuh di perairan Karawang.

Tak lama setelah insiden jatuh ini, beredar dokumen log book Lion Air PK-LQP saat menempuh perjalanan dari Denpasar menuju Jakarta. Berdasarkan data yang ada di log book tersebut, kerusakan di pesawat dianggap cukup serius.

Permasalahan muncul pada panel navigasi yang ada di sisi kapten pilot. Adapun untuk panel navigasi di sisi co-pilot tak mengalami gangguan. Merujuk pada informasi di log book tersebut, pesawat terbang dengan mengandalkan panel navigasi milik kopilot.

Pengamat penerbangan Alvin Lie berpendapat, apa yang terjadi menurut yang beredar di log book itu, segera setelah take off dari Denpasar, panel di sebelah kiri punya kapten pilot mengalami kerusakan. Seharusnya yang dilakukan adalah segera kembali ke bandara asal karena yang mati itu masuk kategori ‘no go item’. Tapi pilot tetap memilih ke Soekarno Hatta.

Apapun persoalan di Lion Air PK-LQP di Minggu malam, pesawat tersebut bisa landing dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta. Persoalan yang muncul di pesawat itu, menurut manajemen Lion Air, sudah diperbaiki sesuai prosedur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here