Sport Jantung Ekonomi Indonesia

0
117

Nusantara.news,  Jakarta – Beberapa waktu lalu ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Faisal Basri menyatakan tidak ada penurunan daya beli di masyarakat, yang ada adalah penurunan pertumbuhan konsumsi masyarsakat.

Faisal menyatakan asumsi bahwa daya beli masyarakat menurun dengan ukuran menurunnya omzet penjualan ritel dan pusat-pusat perbelanjaan modern, tidak terlalu pas. Kemudian mengaitkan turunnya daya beli masyarakat dengan penurunan penjualan makanan, pakaian dan elektronik, semen, termasuk penurunan pemakaian listrik, tidak representatif.

Apakah dengan begitu memang telah terjadi penurunan daya beli masyarakat yang mencerminkan perekonomian melesu? Faisal tidak sependapat asumsi tersebut.

Data pertumbuhan ekonomi terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus ini menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2017 tumbuh 5,01%, persis sama dengan pertumbuhan triwulan I-2017.

Konsumsi rumahtangga pada triwulan II-2017 justru mengalami kenaikan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun sangat tipis, dari 4,94% menjadi 4,95%. Memang dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi masyarakat menunjukkan kecenderungan menurun.

Pada triwulan II-2017, pertumbuhan investasi bahkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, masing-masing 5,35% dan 4,78%. Lambat laun peranan investasi dalam PDB meningkat (berkebalikan dengan peranan konsumsi rumahtangga), dari hanya 8,1% rata-rata setahun pada periode 1960-1965 menjadi 31,5% pada semester I-2017.

Tidak hanya konsumsi rumah tangga yang menunjukkan peningkatan (pertumbuhan positif). Survei Bank Indonesia terbaru pun menunjukkan penjualan eceran Juni 2017 meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri sebagaimana tercermin dari  peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2017 sebesar 6,3% dibandingkan Juni tahun lalu.

Jadi, kesimpulan Faisal, yang terjadi bukan penurunan daya beli masyarakat, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan transformasi struktural yang terjadi. Peneliti Ari Kuncoro juga menjelaskan tidak ada anomali data mikro dan makro. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah-atas.

Ada juga yang berpandangan bahwa penurunan omzet pusat perbelanjaan modern bukan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat melainkan karena kehadiran belanja online atau ecommerce. Memang betul peningkatan penjualan ecommerce sangat pesat, bahkan berlipat ganda. Namun, porsi penjualan ecommerce di Indonesia pada tahun 2016 hanya 1,2% dari keseluruhan penjualan eceran. Singapura yang menduduki posisi teratas di ASEAN mencapai 4,1%. China memimpin dengan 13,8%.

Apakah pembuktian tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat menandakan gerak perekonomian Indonesia berlangsung mulus? Tentu saja tidak, tetap ada persoalan dalam perekonomian kita.

Gambaran umum tidak selalu sejalan kalau kita melakukan pemilahan. Ada bukti cukup kuat bahwa kelompok masyarakat 40% termiskin (Botom-40) mengalami penurunan daya beli. Kelompok ini didominasi oleh petani, buruh tani, buruh bangunan, pekerja informal lainnya, dan pekerja pabrik.

Dalam dua setengah tahun terakhir, nilai tukar petani merosot. Kemerosotan paling tajam dialami oleh petani tanaman pangan. Upah riil buruh tani turun 2,75% selama kurun waktu November 2014 hingga Juli 2017. Pada periode yang sama, upah riil buruh bangunan juga turun 2,52%.

Penurunan daya beli kelompok Bottom-40 tidak menyebabkan penurunan daya beli nasional karena porsi belanja kelompok ini hanya 17%, sedangkan belanja kelompok 40% menengah (Mid-40) dan Kelompok 20% terkaya (Top-20) meningkat.

Sepanjang penurunan daya beli tidak merembet ke kelompok Mid-40 dan Top-20, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat masih bisa bertahan di sekitar 5%.

Hanya saja Faisal mengakui, ada tanda-tanda di lapisan terbawah pada kelompok Mid-40 mengalami tekanan daya beli. Penyebab pertama, penghapusan subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA yang berjumlah 19 juta. Akibat penghapusan subsidi, pengeluaran kelompok pelanggan ini naik lebih dua kali lipat, dari rerata per bulan Rp80.000 menjadi Rp170.000.

Kedua, gaji PNS-TNI-Polri dan uang pensiun sudah dua tahun tidak naik. Untuk tahun 2018 pemerintah telah mengumumkan moratorium gaji. Ditambah penarikan premium pelan-pelan dan menggantinya dengan pertalite, ikut menekan daya beli masyarakat.

Hanya saja Faisal lupa, apa yang terjadi pada sektor ritel tak hanya berupa penurunan omzet seperti terjadi pada Indomart, Alfamart, Indofood, Unilever, Matahari, Hypermart, Giant dan Carrefour, tapi juga berupa penutupan ratusan gerai 7-Eleven. Ini menunjukkan keseriusan adanya penurunan daya beli.

Tak bisa dipungkiri, para peritel modern tersebut semua menjual consumer goods, barang kebutuhan dasar, kebutuhan primer, sehingga seharusnya kebal resesi dengan penduduk Indonesia yang 258 juta. Penurunan pembelian bahan kebutuhan pokok, bukan kebutuhan sekunder apalagi tersier, itu artinya masyarakat mengalami penurunan daya beli sehingga untuk belanja kebutuhan pokok merosot tajam.

Makanya data-data yang diumumkan pemerintah bertentangan dengan yang diumumkan Bank Dunia yang mengklaim adanya penurunan daya beli. Tapi Menkeu Sri Mulyani selalu berkelit sedang terjadi transformasi ekonomi dan perubahan pola konsumsi, sehingga ada beberapa segmen konsumsi masyarakat yang menurun (Mid-40).

Beberapa riset dan survei juga menunjukkan hal yang sama, bahwa rakyat mengalami kesulitan hari ini karena memang daya beli mereka menurun.

Jantung pertumbuhan

Tetapi yang patut diapresiasi dari pendapat Faisal soal pertumbuhan ekonomi Indonesia lemah, seperti orang terkena penyakit jantung. Setiap saat seperti mengalami sport jantung.

Penjelasannya, hampir semua indikator makroekonomi jangka pendek menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Suhu perekonomian yang diukur dengan laju inflasi stabil pada kisaran 4%, bahkan bulan lalu hanya 3,9%. Tekanan darah sebagaimana diukur oleh suku bunga juga cenderung turun. Suku bunga acuan Bank Indonesia (Repo Rate 7-hari) turun dan sudah 10 bulan bertengger di level 4,75%.

Nilai tukar rupiah stabil dengan tingkat volatilitas yang mengecil walaupun di aras yang masih jauh di bawah nilai tertingginya. Sementara itu cadangan devisa bertambah 1US$6,3 miliar selama 8 bulan terakhir. Ekspor mulai tumbuh positif setelah lima tahun berturut-turut sebelumnya terus menerus merosot.

Kestabilan yang terjaga, sayangnya, belum mampu membawa perekonomian tumbuh mengakselerasi. Pertumbuhan ekonomi masih terus mengalami trend melemah, baik dalam jangka panjang maupun jangka menengah. Setelah krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi tidak kunjung menembus 7%. Pada periode 2007-2012, pertumbuhan ekonomi hampir selalu di atas 6%.

Namun, sejak 2013 hingga sekarang cuma berkutat di kisaran 5%, bahkan pernah di bawah 5% pada 2015. Tekad pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo untuk meraih pertumbuhan rerata 7% selama masa baktinya hampir mustahil tercapai. Jangankan 7%, untuk mencapai 6% saja membutuhkan keajaiban. Realisasi pertumbuhan rerata setahun selama 2015-2019 diperkirakan hanya 5,2%.

Ada dua faktor fundamental yang menghadang akselerasi pertumbuhan, menurut Faisal. Pertama, ibarat tubuh manusia, volume “darah” dan fungsi “jantung” dalam perekonomin Indonesia belum optimal. Jika kita kekurangan darah atau menderita anemia, tubuh akan pucat pasi. Jika fungsi jantung terganggu, kemampuan menyedot darah menurun, demikian pula kemampuan memompakan kembali darah ke sekujur tubuh secara merata.

Darah dalam perekonomian adalah uang atau dana yang beredar dalam sistem keuangan. Perekonomian memiliki dua jantung. Jantung pertama dan utama adalah sektor keuangan, khususnya perbankan. Jantung kedua adalah pemerintah. Kedua jantung berfungsi menyedot dana dari masyarakat dalam bentuk dana pihak ketiga (giro, tabungan, dan deposito) untuk perbankan dan pajak untuk pemerintah. Dana yang disedot dipompakan kembali dalam bentuk kredit (untuk perbankan) serta belanja semasa (current spending) dan belanja modal (capital spending) untuk pemerintah.

Karena hanya 39,1% penduduk usia dewasa yang memiliki akses ke perbankan (financial literacy) dan nisbah pajak (tax ratio) relatif rendah dengan kecenderungan menurun, darah yang mampu disedot terbatas. Akibatnya, kemampuan memompakan kembali pun terbatas pula. Padahal, untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan, investasi usaha dan pembangunan infrastruktur harus terus dipacu, baik berupa perluasan kapasitas produksi maupun untuk penggantian dan pembaruan sejalan dengan kemajuan teknologi.

Sedemikian rendah penetrasi kredit terlihat dari kredit yang disalurkan kepada sektor swasta, hanya 39,1% dari PDB. Bandingkan dengan China, Thailand, Afrika Selatan, Singapura, Malaysia, dan Vietnam yang kredit ke sektor swastanya mengucur kencang hingga di atas 100%. Sekedar dengan kamboja, Filipina, dan Bangladesh pun kita tertinggal. Data kredit yang disalurkan oleh sektor keuangan pun menunjukkan kondisi serupa.

Mirip dengan fungsi jantung utama (sektor keuangan), fungsi jantung kedua pun bermasalah. Kenaikan pemerimaan pajak lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi, sehingga menurunkan nisbah pajak. Niscaya ada penyempitan pembuluh darah ke jantung kedua (pemerintah) yang harus ditangani, karena penurunan nisbah pajak sudah berlangsung cukup lama.

Akibatnya, kemampuan pemerintah untuk turut menggenjot pertumbuhan ekonomi sangat terbatas. Kualitas pelayanan pemerintah sulit ditingkatkan, peningkatan kesejahteraan aparatur negara terkendala. Kalau pemerintah memaksakan diri menggenjot pembangunan infrastruktur, pemerintah terpakasa harus lebih banyak berutang. Karena utang pemerintah lebih banyak dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN), terjadi efek mendesak (crodwing-out effect).

Artinya, ekonomi kita secara struktural bermasalah. Hal ini yang menjelaskan rupiah dan IHSG kita gampang terpengaruh ekses eksternal, karena jantung lemah.

Kedua, perekonomian Indonesia cenderung semakin tertutup. Dalam sepakbola bisa diibaratkan dengan klub yang menerapkan strategi bertahan. Padahal, strategi menyerang lebih menjanjikan ketimbang bertahan.

Dari ilustrasi di atas, nampaknya ekonomi kita tengah mengalami sport jantung. Harus segera diterapi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here