Ekonomi Sedang Krisis

Sri Mulyani Kembali Tegaskan Pelemahan Rupiah Berdampak Positif

0
70
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan setiap pelemahan rupiah 100 poin, berdampak positif terhadap APBN.

Nusantara.news, Jakarta – Berulang kali Menkeu Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, APBN sehat, dan utang terkendali. Namun semua itu dibantah oleh ekonom senior Anwar Nasution sambil mengatakan semua hanya bualan.

Bagaimana ceritanya? Bagi mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu, pelemahan rupiah nyaris menembus level Rp15.000 per dolar AS benar-benar menggambarkan bahwa fundamental ekonomi kita lemah. Kalau dikatakan fundamental ekonomi bagus, APBN sehat, dan utang terkendali, itu hanyalah lips service semata.

Menkeu Sri Mulyani mengatakan dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata memberikan dampak positif terhadap APBN. Buktinya, setiap pelemahan atau depresiasi Rp100 per US$ maka ada kenaikan penerimaan dan belanja negara.

“Pelemahan Rp100 mempengaruhi kenaikan penerimaan Rp4,7 triliun dan belanja naik Rp3,1 triliun,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR pagi ini.

Menurutnya mengelola APBN itu bukan untung rugi, kalau APBN sehat maka ekonomi lebih baik lagi. Di tengah dinamika nilai tukar ini pemerintah berhasil mencatatkan penerimaan negara sebesar Rp1.152 triliun atau 60,8% dari target sebesar Rp1.894,7 triliun.

Dengan akselerasi lebih tinggi karena penerimaan tumbuh tinggi maka primary balanced (keseimbangan primer) per 31 Agustus sangat rendah positif Rp11 triliun. Meski demikian pemerintah masih tetap hati-hati dalam menjalankan APBN terlebih lagi ketidakpastian global masih menghantui.

“Tahun lalu, primary balanced defisit Rp84 triliun dan menjadi positif Rp11 triliun, perbaikannya jauh lebih nyata, defisit anggaran Rp150 triliun, tahun lalu Rp220 triliun, ini perbaikan postur kita, kita tetap jaga fiskal kita secara hati-hati,” demikian Sri.

Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terhitung dari Januari sampai 7 September 2018 sebesar Rp13.977. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN pada 2018 sebesar Rp13.500. itu sebabnya, pada RAPBN 2019 asumsi APBN juga dinaikkan dari Rp13.910 menjadi Rp14.400

“Tanggal 7 September 2018 tercatat Rp14.848 per US$. Kalau dihitung rata-rata dari Januari adalah Rp13.977 per US$, ini rata-rata 8 bulan plus 7 hari,” jelas Sri.

Jika diperhatikan, dari sejumlah mata uang utama dunia, rupiah termasuk yang mengalami depresiasi cukup signifikan 9,81% sejak Januari-September 2018. Rupiah terlemah keempat setelah lira Turki, peso Brazil dan rubel Rusia.

Depresiasi rupiah terhadap dolar AS termasuk yang terlemah keempat setelah lira Turki, peso Brazilia dan rubel Rusia. (Sumber: XE Currency)

Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan dipengaruhi oleh normalisasi kebijakan moneter di negeri Paman Sam, ditambah dengan perang dagang.

Dia menceritakan, arus modal yang keluar atau capital outflow mayoritas dialami oleh negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. Hal itu juga akan berdampak pada transaksi berjalan yang saat ini masih mengalami defisit.

“Dua tahun lalu capital inflow sebesar US$29 miliar sehingga bisa dibiayai defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD). Namun 2018 dinamika berubah, capital inflow tidak sekuat 2016 dan 2017, inilah yang diwaspadai, di AS versus mitra dagangnya, kebijakan moneter yang cenderung meningkat dan capital outflow. Itu yang menentukan sentimen ke rupiah kita,” jelas dia.

Pada 2019, menurut Sri, perkembangan ekonomi masih akan dihadapkan ketidakpastian global yang berasal dari kebijakan moneter AS. Kebijakan normalisasi negeri Paman Sam ini akan meningkatkan suku bunga yang mengundang terjadinya capital outflow atau keluarnya arus modal dari negara-negara berkembang dan kembali ke AS.

“Perkembangan ekonomi global narasinya pemulihan sejak 2017 nampaknya akan ditinjau kembali karena pemulihan ekonomi dunia menunjukkan risiko yang meningkat,” tambahnya.

Akibat normalisasi ekonomi AS, akan mempengaruhi tingkat bunga dan likuiditas global. Selain normalisasi moneter, perang dagang dengan Tiongkok pun masih menjadi momok yang memberikan dampak terhadap perekonomian nasional di tahun depan.

Inti dari normalisasi moneter di AS, kata Sri Muyani adalah keinginan Presiden AS Donald Trump agar sektor manufaktur negara adidaya itu semakin kuat dan tidak lagi bergantung dengan impor.

“Arah kebijakan AS meminta manufaktur kembali ke AS, ini tidak hanya dilakukan ke RRT tapi Kanada, Eropa, dan Jepang,” jelas Sri.

Dari narasi kedua ekonom Universitas Indonesia itu bisa ditarik kesimpulan, bahwa sebenarnya ada persoalan dengan fundamental ekonomi kita. Itu sebabnya rupiah mengalami tekanan dan tekanan itu masih berlangsung hingga 2019 menyusul rencana kenaikan bunga The Fed lanjutan dan perang dagang.

Pada akhir bulan ini, dapat dipastikan The Fed kembali menaikkan suku bunganya dan hal tersebut sudah pasti berdampak terhadap nilai tukar emerging market.

Sementara, eskalasi perang dagang kembali memasuki babak baru di mana Presiden AS Donald Trump sudah menyiapkan tarif baru senilai US$200 miliar dan mengancam menambahkan tarif US$267 miliar.

Bank Indonesia dan Pemerintah Jokowi memang tengah melakukan perbaikan di sana-sini, namun akselerasi perburukan itu ternyata lebih cepat.

Komitmen pemerintah dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan diapresiasi dengan baik oleh pasar. Hal itu terlihat dari kebijakan pemerintah menaikkan PPh 1.147 komoditas impor.  Tapi pada saat yang sama kebijakan itu rawan akan aksi balasan dari negara konterpart dagang kita.

Pada bagian lagi, upaya BI melakukan intervensi di pasar uang dan di pasar sekunder obligasi, telah menguras cadangan devisa. Kalau awal tahun cadangan devisa masih US$131,86 miliar, maka akhir Agustus 2018 tinggal US$115 miliar. Atau dengan kata lain cadangan devisa sudah terkuras US$16,86 miliar atau Rp249,53 triliun.

Sementara penguatan rupiah hanya berlangsung sementara, masih ada potensi perburukan lebih lanjut. Kalau demikian halnya, benar kata Anwar Nasution bahwa fundamental ekonomi kita dalam masalah besar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here