Sri Mulyani : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hanya Kalah dari India dan China

0
117
Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Profesor Fathur Rokhman (kiri) memberikan penghargaan Upakarti Artheswara Adhikarana kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/3). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Dalam satu dekade terakhir, ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, rata-rata Indonesia tumbuh 5,7 persen. Hanya China dan India yang mengalahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pernyataan itu mengemuka saat mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia itu diundang menjadi pembicara dalam Seminar Ekonomi Makro di kantor PT Astra Internasional Tbk, Senin (3/4) tadi pagi. Di tengah ketidak pastian global, imbuh Sri Mulyani, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun belakangan dapat dikatakan bertahan dengan baik.

Penggerak perekonomian, imbuh Sri Mulyani, masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang saat ini mencapai 4,9%. Jadi, dalam 10 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,7 persen atau lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

“Negara yang bisa mengalahkan pertumbuhan ekonomi kita adalah China dan India. Sisi permintaan adalah sisi yang kuat dan menjadi bantalan,” tandas Sri yang sudah dua kali menjabat Menteri Keuangan dengan dua presiden yang berbeda itu.

Maka tidak mengherankan, lanjut Sri Mulyani, permintaan investasi akan terus bertumbuh dan akan mendorong datangnya investasi baru. Dia menyebutkan, dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan investasi Indonesia mencapai 6,8%.

Khusus 2016, kinerja investasi Indonesia sesuai data BPS sebesar 4,5%. Pada 2017, Sri Mulyani memproyeksikan investasi bisa tumbuh hingga 6%.

Toh demikian Sri Mulyani prihatin, kinerja ekspor Indonesia hingga sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Penyebabnya tak lain belum sembuhnya krisis global. Namun di tahun 2017 ini Sri Mulyani berharap kinerja ekspor dapat tumbuh lebih baik dengan proyeksi pertumbuhan 0,2 persen.

Demikian pula dengan impor barang-barang mentah diharapkan kinerjanya akan membaik di tahun 2017 ini.
Sedangkan potensi investasi di tahun 2017 ini, terang Sri Mulyani, masih cukup baik. Indikatornya adalah proyeksi pertumbuhan kredit yang bisa lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 7,87 persen.

“Saya rasa kalau dari investasi dari lembaga keuangan dan capital market dan non bank seperti yang disampaikan OJK mereka lebih optimistis di 2017. Sehingga kita berharap mereka bisa berkontribusi lebih banyak,” harap Sri Mulyani.

Daya belim masyarakat Indonesia, lanjut Sri Mulyani, sudah semakin baik. Rata-rata pendapatan per kapita sudah hampir USD 4 ribu per tahun. Dengan demikian investasi di sektor industri yang memproduksi barang-barang konsumsi (consumer goods) masih menjanjikan.

“Kalau kita lihat di mana investasi, income per capita kita mendekati US$ 4.000/tahun, mulai shifting dari sektor sumber daya alam ke bidang-bidang yang consumer goods,” tandas Sri Mulyani yang optimis dengan perekonomian Indonesia di 2017 ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here