Steinmeier Presiden Baru Jerman, Jangkar Lawan Populisme

0
207
Angela Merkel mengucapkan selamat kepada Steinmeier. (Foto: EPA)

Nusantara.news, Berlin – Jerman kini punya Presiden baru, Frank-Walter Steinmeier. Dia berasal dari Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD), anti-Trump, dan dianggap sebagai jangkar untuk melawan gelombang populisme yang menguat di Jerman.

Steinmeier memenangi pemilihan presiden Jerman yang dilakukan oleh Majelis Federal Jerman pada Minggu (12/2) di Berlin. Dia terpilih setelah mengantongi 931 suara dari total 1.260 anggota majelis.

Sebanyak 630 anggota majelis berasal dari anggota parlemen, dan 630 orang sisanya merupakan perwakilan dari 16 negara bagian di Jerman.

Steinmeier berasal dari SDP yang kini berkoalisi dengan partai berkuasa Uni Demokratik Kristen (CDU) dan Uni Sosial Kristen dari Bavaria (CSU) dalam pemerintahan. Dia adalah mantan Menteri Luar Negeri Jerman. Steinmeier juga telah mendapatkan dukungan dari Kanselir Jerman Angela Merkel. Dengan jumlah kursi mayoritas di parlemen (923 kursi) yang dimiliki CDU, CSU dan SPD, kemenangan Steinmeier memang sudah diperkirakan sebelumnya.

Steinmeier menggantikan Presiden Joachim Gauck (77) yang tidak bersedia lagi diperpanjang jabatannya karena faktor usia. Berbeda dengan jabatan presiden di negara lain, presiden Jerman hanya memiliki sedikit kekuasaan eksekutif, tetapi posisinya dianggap sebagai otoritas moral yang cukup diperhitungkan.

Terpilihnya Steinmeier yang anti-Trump dan terang-teragan menentang keputusan Brexit Inggris sekaligus menandai optimisme bakal terpilihnya kembali Kanselir Jerman Angela Merkel, yang sejauh ini telah dikhawatirkan elektabilitasnya, termasuk oleh Direktur IMF Christine Lagarde beberapa hari yang lalu. Steinmeier dianggap sebagai jangkar yang bakal menyelamatkan Jerman dari gelombang populisme yang menguat di kawasan Eropa.

Dalam pidato sambutannya, Steinmeier mengatakan Jerman harus menjadi “jangkar harapan” sementara lembaga-lembaga demokrasi berada di bawah ancaman di seluruh dunia. “Sebagai fondasi dari gelombang di tempat lain, kita harus menopang lebih kuat,” katanya

Steinmeier mendapatkan 75% suara di babak pertama, ia mengalahkan empat kandidat lain yang diusung oleh partai-partai kecil, termasuk Christoph Butterwegge, seorang ilmuwan dan peneliti, Albrecht Glaser, seorang mantan anggota Kristen Demokrat dan kini aktif di partai sayap kanan populis Alternatif untuk Jerman (AfD), dan Engelbert Sonneborn, ayah dari pemimpin organisasi partai satir.

Di Jerman sendiri, tema populisme diwakili oleh kelompok ekstrem kanan dari Partai Alternatif untuk Jerman (AfD). Steinmeier termasuk yang mengkritik keras AfD karena dianggap menjalankan politik dengan menciptakan ketakutan.

Terpilihnya Steinmeier juga memompa semangat SDP. Untuk pertama kalinya SDP dalam jajak pendapat terakhir, meraih popularitas 32 persen, terpaut 1 poin dari partainya Merkel CDU. Jerman akan mengadakan pemilu pada September 2017 mendatang, kandidat resmi dari SPD adalah Martin Schulz, mantan presiden parlemen Eropa.

Steinmeier dikabarkan akan fokus mengunjungi masyarakat “tertinggal” di sekitar Jerman dalam beberapa minggu mendatang.

Sementara itu, Angela Merkel sudah menyatakan dirinya  mencalonkan kembali sebagai Kanselir Jerman pada pemilu tahun ini, yang merupakan pencalonannya keempat kali. Namun, Merkel saat ini menghadapi sejumlah persoalan, seperti kebijakan migran yang telah menampung hampir satu juta pengungsi di Jerman.

Kebijakan Merkel terkait pengungsi telah menyulut perpecahan di dalam tubuh CDU juga dengan partai Uni Sosial Kristen (CSU), “saudara sekandung” dari negara bagian Bavaria. Dalam sejumlah pemilihan kepala eksekutif di beberarapa negara bagian, CDU tak lagi mendominasi, digantikan oleh partai-partai bukan arus utama seperti AfD dan Partai Hijau.

Komposisi Kursi Parpol di Bundestag

Sebagaimana diketahui Kabinet Merkel merupakan koalisi tiga partai politik dengan jumlah 15 pos kementerian yang terdiri dari 6 kementerian (SPD), 6 kementerian (CDU) dan 3 kementerian (CSU). Koalisi ini juga mencerminkan komposisi kursi di parlemen Jerman (Bundestag). Dari 631 kursi di Bundestag gabungan antara CDU dan CSU meraih 311 kursi, SPD (193 kursi), aliansi parta-partai hijau (63 kursi) dan gabungan parpol berhaluan kiri (64 kursi). Dengan jumlah sebanyak 504 kursi yang terbentuk melalui aliansi CSU/CDU dan SPD, ketiga partai ini praktis mendominasi kursi di Bundestag. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here