Perseteruan Trump dan Media

Steve Bannon: Ini Pertarungan Globalis dan Nasionalis

0
115

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus meningkatkan eskalasi perseteruan dengan sejumlah media mainstream. Dia telah berjanji tidak bakal menghadiri makan malam dengan wartawan di Gedung Putih. Penasihat Presiden Steve Bannon menyebut perseteruan Trump dan media sebagai “pertarungan” globalis dan nasionalis.

 I will not be attending the White House Correspondents Association Dinner this year. Please wish everyone well and have a great evening! kata Donald Trump di akun twitternya, Sabtu 26 Februari lalu.

Makan malam antara wartawan dan Presiden yang setiap tahun diadakan adalah kebiasaan rutin Gedung Putih. Rencananya, diadakan pada 29 April. Acara ini rutin dihadiri oleh Presiden dan Ibu Negara, jajaran kabinet, dan sebagian besar tokoh pers. Dalam acara tersebut biasanya dihadirkan komedian yang mengolok-olok Presiden dan wartawan.

Pada tahun 2011, Trump pernah diremehkan oleh Barack Obama dan komedian pada acara makan malam tersebut tentang kemungkinan dia menjadi seorang presiden.

Keputusan Trump untuk tidak menghadiri acara penting bagi para wartawan itu, menandai peningkatan eskalasi konflik Trump dan media mainstream di Amerika seperti CNN dan The New York Times, yang mengklaim telah dikeluarkan dari konferensi pers Gedung Putih, meskipun pihak Gedung Putih telah membantah membantahnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang terus memusuhi media, dia menggambarkan bahwa laporan media sebagai “berita palsu,” dan menyebut media sebagai “musuh rakyat Amerika.”

“Dalam banyak kasus (apa yang terjadi belakangan) itu terlihat seperti perang. Sepertinya The Washington Post dan The New York Times secara langsung bertentangan dengan Gedung Putih,” kata penulis Media Vox Carlos Maza, seperti dilansir ABC, (27/2).

“Tapi saya tidak berpikir hal itu karena mereka (media) ingin berperang dengan Gedung Putih. Saya pikir itu karena mereka sangat ingin mengatakan yang sebenarnya dan menggambarkan realitas seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, Jumat (24/2) sejumlah media terkemuka seperti BBC, CNN, New York Times, dilarang meliput di Gedung Putih. Media-media tersebut adalah yang paling getol menurunkan laporan mengenai kontak rahasia tim Donald Trump dengan Rusia terkait upaya pemenangan dalam Pemilu Presiden AS.

Sekretaris Pers Gedung Putih Sean Spicer tidak memberikan jawaban jelas mengapa ketiga media dilarang masuk.

Gedung Putih melarang sejumlah media untuk menghadiri jumpa pers informal yang memicu protes dari beberapa media yang kemudian ikut memboikot acara yang diadakan pihak Gedung Putih itu.

Apa yang sebetulnya terjadi dengan media-media di Amerika?

Berbeda dengan pendapat di atas, penasihat senior Presiden Trump Steve Bannon, dalam sebuah pidato di acara kelompok konservatif (CPAC) di Maryland, mencela “korporasi media globalis”, yang menurutnya “gigih menentang agenda ekonomi nasionalis” dan selalu menyalahkan pemerintahan Trump.

“Setiap hari ada akan terjadi perkelahian,” kata Bannon.

Banon yang juga pendiri media berhaluan konservatif dan pendukung utama Trump Breibart tampaknya meyakini perseteruan itu dikarenakan perbedaan kepentingan antara media-media mainstream yang dimiliki para kaum globalis dengan visi pemerintahan Donald Trump.

Bahkan Steve Bannon mengggambarkan media-media mainstream itu seperti layaknya “partai oposisi” bagi pemerintahan Trump.

Hubungan Presiden Trump dengan media dalam minggu-minggu ini diwarnai ketegangan. Trump dan para pembantunya mengklaim laporan yang diangkat media mengenai campur tangan Rusia dalam Pemilu AS, adanya kontak Trump dan timnya ke Rusia adalah palsu belaka dan terlalu dibesar besarkan.

Para pendukung Trump menganggap, pers telah merusak kredibilitasnya sendiri, bukan Trump yang merusak kredibilitas Trump.

“Satu-satunya yang dapat merusak kepercayaan dalam dunia pers adalah pers sendiri, dan mereka telah melakukan pekerjaan yang merusak kredibilitas mereka sendiri berulang-ulang,” kata Patricia Bast Nyman, seorang pengacara pendukung Trump kepada ABC.

“Saya pikir media telah bias dan kami tahu itu,” kata seorang mahasiswa Dylan Jones.

Penyiar radio dari kelompok konservatif, Tim Constantine mengatakan pers mainstream harus bertanggung jawab untuk hubungan Presiden dan media yang memanas.

“Saya pikir Presiden Trump sedang diperlakukan sebagai musuh oleh media dan itu mengkhawatiran,” kata Constantine.

Sementara, menurut jajak pendapat Wall Street Journal/NBC, mayoritas orang Amerika mendukung Trump terkait sikapnya terhadap pers.

Jajak pendapat ini menemukan, mayoritas orang Amerika (53-45 persen) setuju bahwa media dan elite lainnya (oposisi) melebih-lebihkan masalah dengan tim administrasi Trump karena mereka “tidak nyaman atau terancam” oleh perubahan yang dilakukannya.

Survei juga menemukan bahwa 51 persen orang percaya bahwa media terlalu kritis terhadap sang presiden, sementara 41 persen mengatakan pers telah bertindak adil dan obyektif. []

https://nusantara.news/buntut-bocoran-informasi-sejumlah-media-dilarang-meliput-di-gedung-putih/

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here