Strategi Militer Baru Trump ke Afghanistan untuk Membatasi Cina

0
40
Presiden AS Donald Trump memberi hormat saat turun dari Marine One untuk menaiki Air Force One di Morristown, New Jersey, kembali ke Washington, Minggu (20/8). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menghabiskan masa liburan 17 harinya, dia telah kembali ke Washington. Selesai berlibur, Trump mengungkapkan strategi militer baru terhadap Afghanistan. Trump sebelumnya diharapkan menambah 4 ribuan lebih pasukan AS untuk misi kontra-terorisme di negara itu. Tahun lalu, Presiden Barrack Obama memutuskan untuk menarik 1.400 pasukan, tapi setelah itu situasi keamanan Afghanistan terus memburuk.

Berbicara dalam siaran nasional di Fort Myer Senin (21/8) malam waktu AS, Trump menyatakan penarikan tentara AS akan menciptakan kevakuman. “Sekarang AS tidak membangun bangsa lagi, kita membunuh teroris,” kata Trump.

Di hadapan khalayak yang sebagian besar militer itu, Trump mengatakan, “Sekarang kemenangan akan memiliki definisi yang jelas: menyerang musuh-musuh kita, melenyapkan ISIS, menghancurkan AlQaeda, mencegah Taliban mengambil alih negara, dan menghentikan serangan teror terhadap Amerika.”

Sebagaimana dilaporkan Time, meski sedang berlibur Trump dan tim keamanan nasionalnya bertemu telah pada Jumat (18/8) di Camp David Maryland untuk mematangkan keputusan tentang strategi militer terhadap Afghanistan.

Trump kemudian “berkicau” di akun twitternya bahwa selama akhir pekan dirinya telah membuat suatu keputusan. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis, yang tengah melakukan perjalanan ke Afghanistan pada Minggu (20/8) juga mengatakan, Presiden Trump telah sampai pada sebuah keputusan. Namun Mattis menolak membeberkan secara spesifik keputusan tersebut.

Kebijakan strategi militer Trump terhadap Afghanistan telah menyita perhatian masyarakat AS maupun dunia, sebelumnya Trump justru yang paling ngotot menghentikan pengiriman pasukan ke Afghanistan.

Namun, kajian yang dipimpin Penasihat Keamanan Nasional Letnan Jenderal HR McMaster melihat pentingnya penambahan pasukan ke Afghanistan tersebut. Kajian itu bulan lalu sudah pada tahap pembahasan mengenai, “beberapa ribu tentara lagi harus dikirim ke Afghanistan,” kata seorang pejabat pertahanan AS kepada NBC News.

Pasukan tersebut akan ditugaskan melakukan kontra-terorisme dan misi pelatihan NATO serta memperluas jejak militer AS di Afghanistan yang saat ini berjumlah sekitar 8.400 tentara. Pasukan militer AS telah berada di Afghanistan sejak tahun 2001, dan menjadikannya sebagai perang terpanjang bagi Amerika.

Pada tahun 2014, Presiden AS Barack Obama pernah memutuskan untuk mengakhiri misi tempur AS di negara tersebut, meski dua tahun kemudian ia kembali memberikan wewenang serangan udara. Saat itu Obama juga memerintahkan penargetan terhadap afiliasi ISIS yang berkembang di Afghanistan timur. Trump, yang masih warga negara biasa, pada saat itu menolak kebijakan Obama.

“Kita harus segera meninggalkan Afghanistan. Tidak ada lagi nyawa terbuang. Jika kita harus masuk kembali, kita harus masuk dengan cepat. Membangun kembali AS terlebih dahulu…,” demikian bunyi twit Trump tertanggal 1 Maret 2013.

Menurut pejabat militer senior, dalam sebuah pertemuan bulan lalu, Trump telah berulang kali meminta agar pejabat tinggi militer memecat jenderal bintang empat yang memimpin pasukan AS di Afghanistan. “Kami tidak menang,” kata dia, “Kami kalah.”

Partai Republik dan Demokrat sama-sama mengkritik penambahan pasukan di Afganistan. Pada awal tahun, mantan Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice mengatakan, “tidak masuk akal” untuk memperluas kehadiran militer di Afghanistan tanpa sebuah strategi baru.

Trump memang pada awalnya mendukung penarikan pasukan AS dari Afghanistan, ini terkait visi Trump tentang “America First” dimana AS tidak akan lagi terlibat dengan perang-perang di sejumlah kawasan yang menguras anggaran AS. Sementara, menurut Trump, AS sedang butuh uang untuk memulihkan kondisi dalam negeri. Trump saat itu berjanji secara bertahap bakal menarik pasukan AS di kawasan-kawasan konflik dari mulai Timur Tengah, Asia Pasifik hingga Asia Selatan.

Namun Trump kemudian justru memerintahkan penambahan pasukan AS di Afghanistan, apa yang ingin dicapai oleh AS?

Menghalau dominasi Cina

Afghanistan menjadi bagian tak terpisahkan dari proyek ambisius Cina mewujudkan One Belt One Road (OBOR) dalam rangka membangun “jalur sutera baru”, selain juga Pakistan, Sri Lanka, serta sejumlah negara lain di kawasan Asia Selatan ini. AS tentu saja mempunyai kepentingan untuk menghalau dominasi Cina di kawasan ini, termasuk di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi telah berkunjung ke Afghanistan dan Pakistan, dan mendesak kedua negara itu untuk membentuk mekanisme pencegahan krisis. Cina sangat berkepentingan atas kedamaian di kedua negara ini, demi kepentingan ambisi globalnya.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengadakan pembicaraan dengan pejabat Pakistan di Islamabad,  setelah pertemuannya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Kabul. Tujuannya,  meningkatkan kerja sama antara tetangga yang saling bermusuhan untuk mengembangkan mekanisme kontraterorisme yang efektif. Hubungan Afghanistan dan Pakistan memang terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

“China dengan tulus mengharapkan agar Afghanistan dan Pakistan memperbaiki hubungan, membangun kembali rasa saling percaya, memperkuat kerja sama, dan mencapai keselamatan bersama dan pembangunan,” kata Wang.

“Sebagai teman Afghanistan dan Pakistan, Cina mendorong mereka membentuk mekanisme pencegahan dan pengelolaan krisis sesegera mungkin, untuk menangani kejadian tiba-tiba dengan benar,” katanya.

Cina saat ini menjadi bagian dari Grup Koordinasi Quadrilateral yang terdiri dari Afghanistan, Cina, Pakistan dan Amerika Serikat. Grup ini didirikan dengan tujuan mengakhiri krisis Afghanistan yang berkepanjangan. Namun hingga saat ini grup tersebut belum membawa terobosan yang signifikan untuk perdamaian kedua negara. Salah satu masalahnya, saling ketidakpercayaan antara Beijing dan Washington.

Sejumlah ahli geostrategi mengatakan, Cina saat ini telah banyak berinvestasi di Pakistan karena menginginkan perdamaian di wilayah itu, setidaknya di wilayah di mana proyek “One Belt One Road” akan dilaksanakan.

Cina, misalnya, telah membangun sebuah pelabuhan di provinsi Baluchistan Pakistan barat daya sebagai bagian dari total proyek yang hampir mencapai USD 60 miliar untuk membangun rute perdagangan baik darat maupun laut untuk mencapai pasar Timur Tengah, Eropa dan Afrika.

“Diplomasi Cina sangat aktif di seluruh dunia, wajar jika Beijing memberi perhatian khusus pada negara-negara di perbatasannya, terutama ketika sebuah negara seperti Afghanistan sangat tidak stabil,” kata Paulo Casaca, direktur eksekutif Forum Demokrasi Asia Selatan (SADF) di Brussels, sebagaimana dilansir DW.

Casaca meyakini bahwa usaha Cina di Afghanistan ditujukan untuk membatasi pengaruh AS di wilayah ini, karena Cina menganggap Afghanistan masih cenderung, secara politik, ke Amerika Serikat.

“Mulai masuknya kembali Rusia ke Afghanistan, dengan membuat kemitraan strategis dengan Pakistan dan Cina serta terlibat dengan Taliban, tampaknya bertujuan satu: yaitu untuk menghadapi AS…,” kata Casaca.

Jadi, jika demikian sangat dimungkinkan, kembalinya AS ke Afghanistan didorong oleh keinginan untuk membatasi pengaruh rival ekonomi globalnya di kawasan ini, yaitu Cina, yang memang begitu dikhawatirkan Amerika. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here