Pangeran Sambernyawa (3)

Strategi Perang yang Menginspirasi

0
765

Dalam ilmu perang, RM Said mengilhami perang gerilya yang dia lakukan dengan tiga cara, yaitu dhedhemitan, weweludhan dan jejemblungan, yang intinya adalah tidak menampakkan diri saat musuh terlihat kuat, menyerang ketika musuh lengah dan secepatnya menyembunyikan diri. Taktik itu pula yang membuat RM Said selalu lolos dari kejaran Belanda. Benteng utamanya adalah kecintaan rakyat yang membuatnya bersedia mengorbankan jiwa raga untuk keselamatan pemimpinnya.

Tiji Tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh, adalah semboyan yang diucapkan RM Said yang mampu menggerakkan pengikutnya dan mampu menciptakan kebersamaan antara kawula dan gusti. Tidak pelak lagi, RM Said yang kemudian dijuluki Nicholas Hartingh sebagai Pangeran Sambernyawa mampu memenangkan hati rakyat yang menjadi kuci sukses dalam perang semesta.

Cara-cara berperang Sambernyawa ini yang kemungkinan besar menjadi inspirasi lahirnya Perang Gerilya Jenderal Sudirman di era Revolusi Fisik (1945-1949). Tentu saja ilmu yang diwariskan RM Said bukan ilmu-ilmu yang bersumber pada modernitas budaya barat, melainkan juga ilmu-ilmu kanuragan, tapa brata, dan lain sebagainya yang tidak dipelajari oleh ilmu-ilmu yang bersumber budaya barat, meskipun di Barat sendiri juga mengenal mistik dan mitos.

Dalam tiga babak pertempuran sebagaimana disebutkan di atas, paling berat yang dirasakan RM Said adalah ketika diharuskan berperang melawan ketiga kekuatan sekaligus, yaitu Kumpeni, Sultan HB I dan Sunan PB III. Selain pasukan yang menyertainya semakin mengecil kekuatan musuh terus membesar. Acap kali pula ketiga kekuatan itu menyerangnya secara bersamaan. Tidak aneh bila tiga perang besar yang dicatat RM Said terjadi dalam perang babak ketiga ini. Namun berkat pertolongan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Kuasa) RM Said berhasil memenangkan ketiga pertempuran besar itu.

Di kalangan pejabat Belanda, sebut saja Gubernur Direktur Jawa Baron von Hohendorff mengakui RM Said dikenal cerdik, ahli strategi dan sulit ditangkap. Berkali-kali pemerintahan Kumpeni gagal mengajak berunding RM Said. “Pangeran ini sudah sejak usia muda terbiasa berperang dan menghadapi kesulitan-kesulitan sehingga sulit diajak bergabung (dengan Belanda). Dan keterampilan itu diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman,” tuturnya sebagaimana dikutip sejarahwan Belanda Luw, 1889 : 7.

Di samping piawai meracik strategi perang, RM Said juga bisa tanpa diduga menyerang secara frontal basis-basis pertahanan pasukan Kumpeni. Karena, demikian pengakuan Kumpeni, RM Said memiliki semangat juang tinggi, kredibilitas, kewibawaan dan kebersamaan yang tinggi diantara pengkutnya. Taktik penyerangan yang acap kali digunakan adalah menghindar dari musuh yang berjumlah besar, menyerang musuh ketika lengah, dan dengan secepat-cepatnya membunuh musuh sebanyak-banyaknya, setelah itu pergi dan menghilang. Taktik perang itu sebagaimana telah ditulis di depan adalah dedemitan, weweludan dan jejemblungan. Karena taktik itu pula Pejabat Kumpeni menyebut RM Said dengan sebutan Pangeran Sambernyawa.

Tak pelak lagi, pasukan Kumpeni yang didukung Kasunanan dan Kasultanan kehilangan akal untuk menakhlukkan RM Said. Saat itu, diam-diam PB III menjalin kontak dengan RM Said dengan mengirim utusan. Rupanya PB III teringat masa kecilnya bersama RM Said dan kedua adiknya saat sama-sama ting di keraton Kartasura. Romantika itu yang dibangun untuk menjalin rekonsiliasi diantara kedua saudara sepupu itu. Selain itu, PB III merasakan Kumpeni lebih mendukung HB I ketimbang dirinya. Ini bisa dilihat dari puji-pujian Kumpeni yang ditujukan kepada pamannya itu. [1]

Kendati Belanda ingin konfliknya dengan RM Said diakhiri melalui jalan damai, karena jalan perang terbukti gagal, dalam lubuk hati PB III sendiri memang merindukan suasana kedamaian seperti saat RM Said dan dirinya tinggal di Kartasura. Bahkan dalam suratnya, PB III mengungkit-ungkit bahwa semasa kecil RM Said diasuh oleh ibundanya, “apakah kakanda tidak merasakan itu?[2] Surat itu tampaknya mempu menggerakkan hati RM Said. Namun sebagai bangsawan yang dicap pemberontak oleh Kumpeni, HB II dan HB III, RM Said tidak percaya begitu saja dengan ajakan itu. Maka, RM Said mengusulkan agar rekonsiliasi keduanya tidak melibatkan pasukan Kumpeni. Ternyata HB III setuju dengan syarat itu.

Kala itu RM Said berkedudukan di Ngadireja. Sebagai penjajakan dia mengutus adiknya Pangeran Mangkudiningrat (RM Rumbiya) dan Pringgalaya menemui PB III di Surakarta. Ternyata kedatangan Mangkudiningrat disambut luar biasa oleh pejabat keraton. Selain HB III, Mangkudiningrat juga disambut Patih Mangkupraja, Tumenggung Arungbinang, dan perwakilan Kumpeni di Istana. Sepulang dari pertemuan, Mangkudiningrat dibawakan bekal sekeranjang minuman, gula batu dan hadiah lainnya untuk RM Said. Mangkudiningrat sendiri diberi hadiah cincin kebesaran Sunan sebagai pertanda bahwa Sunan  dapat dipercaya.

Mendengar kesungguhan hati Sunan, RM Said pun bersedia menghadap ke Surakarta. Semula Nicholas Hartingh khawatir dengan keselamatan PB III dengan mengusulkan agar RM Said menggelar pertemuan pendahuluan dengan Patih  Kudanawarsa. Namun PB III mengatakan mampu menjamin keselamatannya sendiri.  Maka digelarlah rencana pertemuan. RM Said yang dibolehkan membawa pasukan akan dijemput utusan PB III di desa Gemblung.[3] RM Said disertai oleh 500 pasukan, 300 diantaranya bersenjata.

Kedatangan RM Said di desa Gemblung disambut perwira Kumpeni yang meliputi Uprup Abrem, Kapten Sumrat, selain juga petinggi Kasunanan seperti Patih Mangkupraja, Tumenggung Wiradigda, Tumenunggung Arungbinang dan 1000 pasukan yang menyertainya. Begitu melihat RM Said, Patih Mangkupraja langsung sungkem dan menangis tersedu-sedu.RM Said tertegun, terlebih karena dia tidak begitu mengenal sosok orang tua yang bersimpuh padanya. Begitu dia diberitahu orang tua itu Patih Mangkupraja, RM Said merengkuhnya dan keduanya jalan beriringan memasuki pesanggrahan.

Kejadian itu menggambarkan semangat rekonsiliasi yang menguat dari kedua belah pihak, Bukan rekonsiliasi yang dipaksakan oleh Kumpeni. Melainkan rekonsoliasi yang berangkat dari kesadaran semangat persaudaraan. Tidak mengherankan bila di tempat itu, disaksikan sejumlah petinggi Kraton Surakarta, RM Said mengucapkan janji akan setia hidup berdampingan dengan Sunan. Dalam pernyataannya, RM Said menyebutkan bila Sunan sakit dia akan ikut merasakan sakit, sebaliknya bila Sunan mukti dia akan ikut merasakan mukti. Janji itu bagi RM Said cukup diucapkan sekali dan pantang ditarik kembali,

Sejak pertemuan itu Sunan mengajak RM Said bertemu di pesanggrahan yang terletak di tepi Bengawan Solo. Setelah melalui berbagai pertemuan Deler Semarang Nicholas Hartingh menyurati PB III agar menggelar petemuan dengan RM Said di Salatiga. Surat itu ditembuskan Sunan ke RM Said. Namun RM Said tidak begitu menanggapinya sebab menganggap sebagai akal bulus Kumpeni untuk menjebaknya. Tampaknya PB III membaca pikiran RM Said, dan dia menjawab kalau Belanda berkhianat dia akan mengahdapi bersama pasukan Belanda. Mendengar jaminan itu RM Said luluh dan bersedia kembali meneruskan proses rekonsiliasi yang sedang berjalan.

Dalam pertemuan lanjutan di Salatiga, RM Said dan PB III membawa semua pasukannya. RM Said dikawal 400 pasukan berkuda. Sedangkan PB III dikawal Patih, wedana Jawi, wedana sewu, wedana bumi, wedana ageng, wedana paneker, para wadya jero, prajurit kawandasa, prajurit seregeni, prajurit hamengyuda dan prajurit dorapati. Sayangnya, pertemuan yang dirancang satu pasar penuh itu tdak membuahkan hasil. Lagi-lagi Deler Semarang Nicholas Hartingh sebagai biang keladi kegagalan. Ucapannya  yang menganggap RM Said terlalu banyak permintaan menyinggung perasaan sang Pangeran. Tapi PB III mengetahui gelagat itu dan mengajak RM Said keluar dari pertemuan.

Setelah dibujuk PB III antara lain dengan menunjukkan mandat dari Gubernur Jenderal Belanda di Batavia bahwa kewenangan mengambil keputusan ada padanya, RM Said kembali bersedia berunding. Akhirnya, tepat Senin Legi, 5 Jumadilawal, tahun Ali Windu Kuncara, 1683J/ 17 Maret 1757 M, disepakati perjanjian penetapan kekuasaan RM Said. Isi perjanjian, RM Said diangkat menjadi Adipati Miji yang statusnya tidak jauh berbeda dari Raja hanya saja tidak boleh duduk di singgasana dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Hamengkunegara. Tanah yang dikuasainya seluas 4000 karya mencakup Kaduang, Ngelaroh,  Matesih, Gunungkidul, Pajang sebelah Utara dan Selatan, Hariboyo, Honggobayan, Sembuyan dan Kedu.[4] Sejak itu RM Said menghentikan peperangannya dan mendirikan Pura Mangkunagaran di pinggiran Kali Pepe.

Selama 16 tahun berperang melawan VOC yang disokong oleh Pakubowono II, Pakubuwono III dan terakhir kali oleh Sri Sultan Hamengkubowono I, RM Said banyak meninggalkan folkfor (cerita-cerita rakyat) yang hidup hingga sekarang ini. Babad Lelampahan dan Babad Tutur adalah dua karya master-piecenya, sebagai catatan harian yang ditulis dalam bentuk tembang. Kedekatan RM Said dengan rakyat jelata menjadi kenangan tersendiri di daerah-daerah yang pernah disinggahinya. Hingga kini cerita kepahlawanan Raden Mas Said yang dijuluki Samber Nyowo oleh Gubernur VOC  Nicolaas Hartingh, tetap hidup dan terpelihara dengan baik. Sejumlah karya sastra geguritan berupa gending banyak yang diinspirasi oleh cerita-cerita kepahlawanannya.

Dengan membaca kisah Raden Mas Said diharapkan mampu membangun inspirasi perjuangan bangsa Indonesia untuk lebih berpijak pada tradisi dan budayanya sendiri. Paling tidak, dengan situasi kekinian, tatkala kepentingan asing begitu kuat mengangkangi sumber daya alam bahkan pikiran kita sebagai sebuah bangsa, maka kisah-kisah heroik RM Said sangat diperlukan untuk menjadi sebagai ikon perjuangan bangsa ini ke depan. []

[1] Babad Memengsahanipun Kanjeng Gusti Arya Manungnegara I kaliyan Sultan Ngayogyokarto (MBS), JosodiningartI, Dandanggula, 18:76

[2] BL, Sinom, 21:350

[3] BL, Dandanggula, 51:357

[4] Yayasan Mangadeg, 1989:32

Baca juga:

Solidaritas Tiji Tibeh

Pangeran Sambernyawa: Jiwa dan Rasa Kebangsaan Tanpa Batas (1)

Satunya Kata dan Perbuatan

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here