Subkultur Politik dan Karakter Pemilih Jabar

0
528

Nusantara.news, Jawa Barat – “Tanah Parahyangan (Pasundan) diciptakan ketika Tuhan tersenyum,” demikian ungkapan dari M.A.W Brouwer, psikolog dan budayawan berkebangsaan Belanda yang lama tinggal di Bandung. Ungkapan itu, menggambarkan tanah Parahyangan, Priangan, Pasundan, atau apalah namanaya, adalah bagian dari Jawa Barat (Jabar) yang indah, subur, dan bergunung-gunung. Alamnya yang elok membentuk masyarakat yang umumnya berkarakter halus, murah senyum, memiliki adat istiadat dan seni budaya yang estetis serta tradisi luhur.

Jabar memang salah satu provinsi yang paling menarik perhatian publik. Selain karena sebentuk panorama alam yang memikat, karakteristik dan budaya masyarakatnya yang estetis, juga dalam urusan kontestasi demokrasi amatlah penting.

Berdasarkan demografinya, mayoritas penduduk Jabar beragama Islam. Besarnya 98 persen dari total 47,3 juta jiwa penduduknya. Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan memiliki jumlah pemilih sekitar 35 juta orang pada tahun 2018, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbesar. Angka itu setara dengan kurang lebih 20 persen pemilih nasional.

Kondisi ini menjadikan Jabar sebagai tolok ukur bagi partai politik. Memenangkan suara secara mayoritas di Jabar bisa berarti memiliki kans sangat besar memenangkan pemilu tingkat nasional. Sehingga tak berlebihan jika parpol pemenang Pilkada di wilayah yang memiliki 26 Kabupaten/Kota, 625 Kecamatan, dan 5.899 Desa/Kelurahan ini, ada kemungkinan juga menjadi pemenang di setiap Pilpres.

Tak heran, jelang Pilgub Jabar 2018, sejumlah parpol melakukan berbagai manuver, mengadu taktik terbaik, muslihat paling jitu: mulai dari penyaringan calon, otak-atik koalisi, hingga hitung-hitungan kursi. Bisa dikatakan, posisi Jabar sama pentingnya dengan DKI Jakarta: sebagai laboratorium politik untuk mengukur keberhasilan pada Pilpres 2019.

Subkultur Politik dan Karakteristik Pemilih

Secara umum, di Jabar terdapat tiga subkultur politik (tatar), yakni tatar Pantura, mencakup: Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, dan Subang. Secara tradisional, wilayah-wilayah tersebut merupakan eks-Karesidenan Cirebon. Banyak kalangan menyebutnya dengan ‘Cirebonan’. Dalam soal bahasa lokal, bahasa ibu orang Pantura didominasi Bahasa Cirebon, bukan Bahasa Sunda. Sementara dari sisi budaya, Cirebonan lebih terpengaruh kepada “Tanah Jawa”, utamanya Jawa Tengah.

Karakter khas Pantura (Cirebonan) sebagai masyarakat pesisir adalah progresif, terbuka, keras, dan merasa tidak terafiliasi dengan pedalaman (Priangan). Menurut Abdullah Ali, pakar sosiologi antropologi dan pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Cirebon, masyarakat Cirebon lebih didominasi Islam Abangan yang berpikiran pragmatis. Oleh karena itu, pilihan mayoritas masyarakat bukan pada parpol Islam, tetapi pada partai nasionalis kiri, yaitu PDI-P). Dua pemilu terakhir, partai banteng moncong putih ini menguasai daerah Cirebonan.

Peta Jawa Barat

Subkultur lain adalah Jabar Priangan, mencakup: Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor dan sebagian Karawang. Proporsi etnis Sunda di wilayah itu lebih dari 90 persen, sementara wilayahnya lebih dari separuh Jabar.

Ciri khas daerah ini ditandai dengan bahasa Sunda yang dipergunakan lebih halus, karakternya paling halus, dan kesenian berkembang lebih baik dibandingkan daerah lainnya. Masyarakatnya pada umumnya kental dengan nuansa Islam tradisional. Pun begitu, partai-partai berbasis massa Islam baik tradisonal maupun modern tumbuh subur di wilayah ini, misalnya PKS, PPP, PAN, dan PKB. Sebagian lagi, partai non-basis Islam seperti Golkar dan Demokrat mendapat tempat di hati pemilih Priangan.

PDIP memang menguasain kursi di DPRD Jabar, tapi kemenangannya bukan dipicu oleh terinstitusionalisasinya partai tersebut. Akan tetapi, lebih karena ketokohan individu yang dicalonkan. Tokoh tersebut punya mesin politik mandiri dan berakar di tanah Pasundan.

Terakhir, subkultur Jabar Daerah Penyangga, atau menurut Kepala Pusat Kebudayaan Sunda dari Universitas Padjajaran Nina Herlina Lubis disebut tatar Pamalayon. Wilayahnya adalah kota atau kabupaten yang mendapatkan pengaruh metropolitan secara langsung. Yakni, wilayah penyangga Ibukota DKI Jakarta: Bekasi, Depok, dan sebagian kecil Bogor.

Tatar Pamalayon didominasi etnis Melayu Betawi. Ciri khas mayarakatnya berbahasa Melayu dialek Betawi dengan karakter masyarakatnya lebih terbuka. Wilayah ini menjadi percampuran multietnis karena imbas dari Jakarta. Wilayah ini umumnya menjadi basis kekuatan Islam modern seperti PKS dan partai nasionalis tengah (Golkar, Gerindra).

Dari ketiga tatar tersebut, umumnya pemilih Jabar menyandarkan pilihan berdasarkan sentimen keislaman dan popularitas calon. Mayoritas masyarakat Jabar yang masih tradisional, lebih mengedepankan isu-isu nonsubstansi, sehingga kepopuleran masih unggul dibandingkan kompetensi dan konsistensi program yang diusung oleh pasangan kandidat cagub dan cawagub.

Hal ini senada dengan pengamatan Gun Gun Heryanto, Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute. “Mereka memilih karena alasan emosional, seperti etnis, agama, dan popularitas. Persoalannya lebih kompleks dari Jakarta, sehingga tak cukup kekuatan figur saja, tetapi juga jejaring partai dan publisitas politik,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Di samping itu, unsur estetika (terutama dari sisi visual) dinilai lebih menarik untuk orang Jabar. Tak heran, kandidat artis dan sosok “ngartis/populer” lebih disukai karena punya spektrum estetika: entah dari visual, tampang, ataupun legacy. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) pada Pilgub Jabar 2008 – 2013, atau Ahmad Heryawan-Deddu Mizwar dengan “kancing bereum”-nya pada Pilgub Jabar 2013 – 2018, unggul karena perpaduan faktor keartisan wakilnya, tagline yang ringan, serta ke-religius-an Ahmad Heryawan.

Contoh lain, melambungnya Walikota Ridwan Kamil dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi karena kedua tokoh tersebut kerap mengangkat pembangunan kota dengan nilai-nilai estetis, ringan, dan berakar pada budaya lokal. Sedangkan cagub lain yang muncul, misalnya Sudrajat, meski dianggap belum terlalu dikenal publik, tetapi latar belakangnya dari militer dan berasal dari Priangan, cukup berpeluang merebut hati masyarakat Jabar.

Di wilayah Priangan, preferensi pilihan masyarakat lebih banyak didominasi oleh jejak keagamaan (Islam) pada diri calon, atau seberapa besar dukungan politik para “kiyai”. Di wilayah ini, agama dan pemuka agama (kiai) menjadi tokoh yang sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam menentukan pilihan. Sistem pendidikan pesantren semakin membuat kiai ini sangat berperan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Priangan.

Berbeda dengan Priangan, di sebagian wilayah Cirebonan, pemilih justru lebih terdorong pada sosok berdarah “priyayi”. Unsur-unsur aristokrasi, keselarasan, kegagahan, dan penuh simbol kekuatan menjadi pertimbangan yang dominan dalam memilih calon. Di sebagian lainnya, sentimen terkadang terbangun dari kombinasi keduanya: “kiyai” dan “priyayi”.

Sementara di wilayah Pamalayon, umumnya lebih rasional. Latar belakang keagamaan, primordial, ataupun keturunan tak begitu menjadi soal. Mereka lebih memilih kandidat karena pertimbangan kompetensi, kualifikasi sosok, dan program substansial.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here