Peta Kekuatan Pilgub Jabar 2018 (2)

Subkultur Politik dan Karakteristik Pemilih Jabar

0
112

Nusantara.news, Jabar – Situasi politik pada pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mulai tergambar dari pemetaan daerah basis masing-masing. Kekuatan pasangan calon pun sudah terpetakan dari geopolitik dan prilaku masyarakat di daerah itu sendiri .

Rilis survei dari lembaga Indonesia Development Monitoring (IDM), Jumat (27/4/2018) lalu, masing-masing paslon memiliki daerah kantung suaranya masing-masing. Seperti Paslon Sudrajat-Syaikhu (Asyik) yang elektabilitasnya meroket di Pamalayon (daerah penyangga seperti Depok, Bekasi, dan sebagian Bogor) dan sebagian Pantura, Paslon Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) yang elektabilitasnya kuat di kawasan Priangan (khususnya Bandung Raya), lalu Pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang unggul di Purwakarta Karawang dan sebagian Priangan, dan Pasangan TB Hasanudin – Anton Charliyan (Hasanah) yang unggul di Majalengka Kuningan (Cirebonan).

Secara umum, di Jabar setidaknya terdapat tiga subkultur politik (tatar), yakni tatar Pantura, mencakup: Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, dan Subang. Secara tradisional, wilayah-wilayah tersebut merupakan eks-Karesidenan Cirebon. Banyak kalangan menyebutnya dengan ‘Cirebonan’. Sementara dari sisi budaya, Cirebonan lebih terpengaruh kepada “Tanah Jawa”, utamanya Jawa Tengah.

Karakter khas Pantura (Cirebonan) sebagai masyarakat pesisir adalah progresif, terbuka, keras, dan merasa tidak terafiliasi dengan pedalaman (Priangan). Masyarakat Cirebon lebih didominasi Islam Abangan dan nasionalis. Pilihan mayoritas masyarakat di wilayah ini bukan pada parpol Islam, tetapi pada partai nasionalis, utamanya PDI-P dan Golkar. Unsur-unsur aristokrasi (priyayi), keselarasan, kegagahan, dan simbol-simbol keberagaman menjadi pertimbangan yang dominan dalam memilih calon.

Subkultur lain adalah Jabar Priangan, mencakup: Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor dan sebagian Karawang. Proporsi etnis Sunda di wilayah itu lebih dari 90 persen, sementara wilayahnya lebih dari separuh Jabar.

Ciri khas daerah ini ditandai dengan bahasa Sunda yang dipergunakan lebih halus, karakternya paling halus, dan kesenian berkembang lebih baik dibandingkan daerah lainnya. Masyarakatnya pada umumnya kental dengan nuansa Islam tradisional. Pun begitu, partai-partai berbasis massa Islam baik tradisional maupun modern tumbuh subur di wilayah ini, misalnya PKS, PPP, PAN, dan PKB. Sebagian lagi, partai non-basis Islam seperti Golkar dan Demokrat mendapat tempat di hati pemilih Priangan.

PDIP memang menguasai kursi di DPRD Jabar, tapi kemenangannya bukan dipicu oleh terinstitusionalisasinya partai tersebut. Akan tetapi, lebih karena ketokohan individu yang dicalonkan. Tokoh tersebut punya mesin politik mandiri dan berakar di tanah Pasundan.

Terakhir, subkultur Jabar Daerah Penyangga, atau menurut Kepala Pusat Kebudayaan Sunda dari Universitas Padjajaran Nina Herlina Lubis disebut tatar Pamalayon. Wilayahnya adalah kota atau kabupaten yang mendapatkan pengaruh metropolitan secara langsung. Yakni, wilayah penyangga Ibukota DKI Jakarta: Bekasi, Depok, dan sebagian kecil Bogor.

Tatar Pamalayon didominasi etnis Melayu Betawi. Ciri khas mayarakatnya berbahasa Melayu dialek Betawi dengan karakter masyarakatnya lebih terbuka. Wilayah ini menjadi percampuran multietnis karena imbas dari Jakarta. Wilayah ini umumnya menjadi basis kekuatan Islam modern seperti PKS dan partai nasionalis tengah (Golkar, Gerindra).

Dari ketiga tatar tersebut, umumnya pemilih Jabar menyandarkan pilihan berdasarkan sentimen keislaman dan popularitas calon. Mayoritas masyarakat Jabar yang masih tradisional, lebih mengedepankan isu-isu nonsubstansi, sehingga kepopuleran masih unggul dibandingkan kompetensi dan konsistensi program yang diusung oleh pasangan kandidat cagub dan cawagub.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here