SubKultur Politik Pasuruan: Dari Pesantren hingga Kursi Pemerintahan

0
95
Ilustrasi Pesantren (Sumber: Youtube)

Nusantara.news, Kabupaten Pasuruan – Pasuruan merupakan sebuah daerah Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur. Pada zaman kerajaan, kawasan Pasuruan merupakan kawasan pertanian dan perdagangan. Pelabuhan Pasuruan telah melayani perdagangan untuk kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, penguasaan kawasan Pasuruan dipegang oleh VOC, yang diserahkan dari wilayah Kesultanan Mataram sebagai imbalan bantuan VOC dalam perang suksesi Jawa kala itu. Pasuruan menjadi salah satu penghasil utama komoditas perdagangan hasil pertanian karena memiliki letak geografis yang mendukung yakni perbukitan dan juga dekat dengan laut.

Kini, semakin berkembangnya zaman dan teknologi Pasuruan dikenal sebagai daerah perindustrian, pertanian, dan tujuan wisata. Kabupaten Pasuruan memiliki keanekaragaman penduduk yang sebagian besar adalah suku Jawa dan Suku Madura, selain itu bisa juga ditemui suku-suku lain seperti masyarakat keturunan Tengger, Tionghoa-Indonesia, Arab dan India.

Dalam letak geografisnya, wilayah timur Kabupaten Pasuruan termasuk ke dalam wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Corak kebudayaan Pasuruan kental akan khas Jawa-Madura, karena memang cukup banyak perantau Madura yang menetap di Pasuruan sejak dulu kala.

Masuknya Islam di Pasuruan
Pada zaman kerajaaan, wilayah Pasuruan masuk dalam ruang lingkup kerajaan Singosari, wilayah ini paling lama diduduki oleh raja-raja dari Kediri, Tumapel dan Singosari itu sendiri. Selepas runtuhnya Kerajaan Singosari, wilayah ini mendapatkan pengaruh dari berbagai pihak baik dai Majapahi dan Mataram.

Pada akhirnya sebagian wilayah Pasuruan sebagian kecil Kerajaan Singosari dapat dipengaruhi oleh Islam. Berdasarkan beberapa literatur, wilayah Pasuruan mendapat pengaruh Islam pada tahun 1535, yang ditandai dengan ditaklukkanya daerah tersebut oleh Sultan Trenggana dari Kerajaan Demak. Namun, dengan kurangnya penulisan literatur, membuat raja-raja penerus kerajaan yang dipengaruhi Islam tersebut tidak tercatat.

Perkembangan pesat Islam di Pasuruan tercatat dari dimulai berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri, yang merupakan pondok pesantren tertua di Pasuruan. Mbah Sholeh Semendi yang merupakan salah seorang tokoh pendiri pondok pesantren tersebut.

Berawal dari berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri tonggak perkembangan Islam di Pasuruan bermula. Mbah Sholeh Semendi merupakan putra dari Sultan Maulana Hasanudin, pejuang gigih dari Banten. Namun, jasanya cukup besar dalam penyebaran Islam di Pasuruan.

Sholeh Semandi singgah di Pasuruan pada abad ke-16, Ia berkelana ke beberapa tempat dan wilayah untuk menyebarkan agama Islam, mulai dari Rejoso, Winongan, Kebuncandi, Gondangwetan, dan mencoba untuk menetap sejenak tepatnya di daerah Lekok yakni pesisir Pasuruan.

Mbah Sholeh Semendi yang dan juga Sayyid Sulaiman yang merupakan cucu garis keturunan Sunan Gunung Jati, menebarkan Islam kembali. Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.

Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus.
Di tempat tersebut Mbah Sholeh Semedi berupaya menyebarkan agama Islam dengan kesabaran dan kemurahan hati. Mbah Sholeh banyak dibantu oleh dua santrinya yakni Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman yang tak lain keponakannya, turut menyebarkan agama Islam pada masyarakat Pasuruan, yang kala itu berkepercayaan animisme dan dinamisme.

Pondok pesantren tersebut berkembang hingga semakin maju, santri-santrinya pun menjadi pembesar-pembesar dan tokoh nasional. Syaikhona Cholil Bangkalan, Sang Guru para Kyai Tanah Jawa merupakan salah satu dari sekian banyak ulama dari Sidogiri.

Hingga kini Pondok Pesantren Sidogiri tersebut masih kokoh berdiri dengan misi pendidikan Islam dengan harapan tercetaknya santri-santri yang memiliki keislaman dan wawasan kebangsaan yang luas.

Karena kepamoran pesantren tersebut yang menelurkan generasi-generasi ulama yang berpengaruh, Pondok Pesantren Sidogiri pun terkenal dikhalayak masyarakat. Sejak itu pula Islam menyebar di Pasuruan dan berdiri pesantren-pesantren lain di Pasuruan sehingga kultur Islam sangat kuat, apalagi kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Peran Politik Nadhlatul Ulama di Pasuruan
Kultur pesantren dengan corak Nahdlatul Ulama yang kuat membuat perkembangan Nahdlatul Ulama di Pasuruan berkembang pesat. Hal tersebut yang membuat pengaruh politik Nahdlatul ulama sangat besar dan kuat di masyarakat Pasuruan.

Nahdlatul Ulama yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia telah ada sejak 31 Januari 1926 / 16 Rajab 1344 H tersebut yang mengemban misi keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi umat. Selain misi tersebut beberapa pemikir NU memiliki andangan bahwa untuk mewujudkan misi-misi tersebut juga perlu untuk berpolitik.

Alhasil, tahun 1952 NU membentuk partai politik, yakni Partai NU (PNU) setelah melepaskan diri dari Masyumi. Keputusan keluarnya NU dari Masyumi dan menjadi Partai Politik dituangkan dalam Muktamar ke 19 di Palembang dengan hasil 61 suara setuju, 9 suara menolak, dan 7 abstain.

Peran partai NU dalam pemilihan umum pertama di Indonesia pada tahun 1955 dan 1971 tidak terlepas dari peran pondok pesantren. Para kiai, santri, dan elit politik berkolaborasi untuk meramaikan pemilah umum tersebut. Partai NU kerap kali meraih kemenangan dengan suara terbanyak di wilayah Pasuruan.

Pada pemilu 1955 dan 1971 Partai NU di Pasuruan selalu mendapatkan perolehan suara terbanyak. Ahmad Zaenuri, Sejarawan, Universitas Negeri Malang (UM) mengungkapkan cara Partai NU dalam berpolitik. “Para kiai tidak segan untuk turun langsung ke lapangan untuk menjadi juru kampanye, selain itu strategi kampanye NU Pasuruan juga didapatkan dari kampanye “tersembunyi” yaitu pada saat pengajian,” jelasnya.

Pada pemilu 1971 strategi kampanye NU tidak berbeda jauh dengan pemilu 1955, “bedanya pada kampanye tahun 1971 ini ada sedikit pembatasan dari pemerintah karena pada waktu itu ada intervensi,” imbu Zaenuri.

Namun pada masa Orde Baru perubahan situasi kondisi politik pemerintahan negara berubah, yang kemudian membuat perubahan juga di bidang pemilihan umum. Diterapkannya sistem multipartai sehingga terjadi penyederhanaan partai secara kekuatan sosial politik, yang memilik haluan religius dan keagamaan melebur ke Partai Persatuan Pembanguanan (PPP). Partai NU pun ikut melebur ke PPP.

Kultur pesantren dengan corak NU yang kental membuat nuansa politik di Pasuruan didominasi oleh kalangan NU. Hal ini yang kemudian menggambarkan peran dan pengaruh politik NU sangat kuat di wilayah Pasuruan.

Waktu bergulir, saluran politik NU pun berkembang, beberapa partai yang memiliki kedekatan dengan NU berkembang dengan munculnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tak jarang dalam pemilihan umum di antara mereka juga kerap bersaing dalam meraih simpati dan legitimasi untuk meyalurkan tujuan-tujuan politik.

Di wilayah Pasuruan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki pengaruh kuat di ranah sosial masyarakat. Keperkasaan PKB di Pasuruan yang dimotori oleh Irsad Yusuf (Bupati Pasuruan) yang juga sebagai Ketua DPC PKB Pasuruan dan Hasani (Walikota Pasuruan) belum tersaingi oleh partai politik lainnya dengan perolehan suara yang masih menduduki peringkat pertama di wilayahnya pada Pilkada 2013 lalu.

DR. Ir. Heksanto, Pengamat politik dari Surabaya mengatakan terkait kondisi kultur politik di Pasuruan. “Pasuruan baik kota maupun kabupaten adalah basis kaum Nadliyin yang sangat kuat. Ini dibuktikan dengan beberapa dekade sebelumnya, di mana kultur masyarakat Pasuruan begitu patuhnya terhadap fatwa para kyai yang kebanyakan berbasis pada partai politik Islam, khususnya PKB,” jelasnya.

Kultur tersebut akan berdampak langsung dengan perolehan suara dan kursi parlemen yang didapatkan oleh PKB di Pasuruan. Dalam 3 pemilu setelah era reformasi perolehan kursi PKB di DPRD Pasuruan kota maupun Kabupaten memang masih mendominasi.

Berdasarkan data dan informasi yang di dapatkan Nusantara.news, Hingga saat ini dominasi kursi parlemen di Kabupaten Pasuruan masih di dominasi leh PKB, dengan perolehan 12 kusi DPRD Kabupaten Pasuruan dan Bupati dipegang oleh Irsad Yusuf yang juga Ketua DPC PKB Pasuruan. Sedangkan di Kota Pasuruan PKB tetap mendominasi dengan meraut 10 kursi DPRD Kota Pasuruan.

Dari Pesantren menuju Kursi Pemerintahan
Kultur pesantren yang kuat di Pasuruan membuat tumbuhnya kelompok-kelompok masyarakat dan pesantren melekat sehingga kultur islam, santri, pesantren dan masyarakat menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Kondisi tersebut yang kemudian menjadi kekuatan massa, tak banyak elit partai politik kerap menggunakan kekuatan tersebut guna mencapai jabatan – jabatan politik di kursi pemerintahan. Melalui dalih keislaman, pendekatan dengan para kyai, memberikan santunan ke beberapa pesantren jelang Pemilihan Umum, branding Islam dan pesantren dipertontonkan untuk menarik simpati, dan perhatian masyarakat, guna mendulang suara dalam momen politik untuk meraih kursi pemerintahan.

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa kultur masyarakat yang kental akan menggambarkan corak perilaku dan budaya politik di suatu daerah.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here