Permen Dot Asal Cina

Sudah Menyebar di Jawa Timur

0
205

Nusantara.news, Surabaya – Kemasan dan bentuk menarik yang penuh corak warna mencolok, menjadi salah satu daya tarik aneka jajanan anak yang beredar luas di masyarakat. Seperti permen dengan kemasan mirip botol susu bayi yang akhir-akhir ini membuat geger Surabaya. Selain murah, rasa manis sedikit asam, sukses menjadikan permen ini favorit anak-anak.

Namun di balik daya tarik itu, ada dugaan jenis jajanan berwarna mencolok ini berdampak buruk bagi anak-anak. Apalagi ada laporan anak yang merasakan pusing setelah mengkonsumsi permen dot ini dan ramai di media sosial. Walikota Tri Rismaharini sampai menginstruksikan Satpol PP Kota Surabaya untuk merazia jajanan yang masuk kategori makanan dan minuman (mamin) impor itu di lingkungan sekolah awal pekan ini.

Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur Said Sutomo mengatakan, geger permen impor yang meresahkan warga ini tidak perlu terjadi jika fungsi pengawasan sudah optimal sejak hulu. Jika hanya mengandalkan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) atau aparatur pemerintah daerah seperti Satpol PP, terkendala jumlah SDM yang terbatas.

“Dari mana masuknya  mamin impor itu  ke Indonesia,  kalau tidak dari pelabuhan? Nah, pelabuhan di Indonesia itu seperti kawasan khusus yang hanya dikuasai Pelindo dan sulit bagi institusi lain untuk masuk. Ini terkait dengan aturan. Padahal jika pengawasan sudah dilakukan sejak dari pelabuhan, keresahan warga kan bisa diminimalisir. Paling tidak, kalau diketahui mengandung zat berbahaya,  tidak sampai beredar di masyarakat,” terangnya, Rabu (8/3/2017).

Apalagi  harga permen dot atau jenis jajanan impor yang sangat murah. Hanya berkisar Rp 1.000-Rp 2.000. Namun melihat kemasannya yang mentereng, mustahil tidak diproduksi secara massal untuk mengejar benefit dengan mencari konsumen yang tidak rewel, yakni  siswa sekolah dasar atau taman kanak-kanak. Karena itu, YLPK tambah Said, tidak bisa serta merta menyalahkan BPOM atau Pemkot Surabaya karena hanya bisa mengawasi sampel yang terlanjur sudah beredar.

Saat ini, permen dot yang berlabel “Permen Keras” tengah diuji BPOM dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Surabaya. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPOM Surabaya Retno Kurpaningsih mengatakan, hasil uji lab kemungkinan keluar Jumat lusa setelah menerima sampel dari Dinas Kesehatan yang mengajukan. “Hasilnya nanti Dinkes Surabaya yang berwenang untuk menyampaikan ke publik,” sebutnya.

Jawaban senada juga diberikan Kepala BNN Surabaya AKBP Suparti. Sampel permen dot yang diduga mengandung narkoba sudah dikirim ke Jakarta untuk diuji. Langkah ini menjadi dasar kenapa BNN Surabaya tidak turun ke lapangan kendati isu mengandung narkoba sudah meresahkan warga. “Jika hasil uji laboratorium sudah keluar dan positif mengandung narkoba, kami tentu akan melakukan razia intensif di semua wilayah, baik sekolah, pasar atau kampung-kampung,” bebernya.

Dalam contoh kemasan yang dirazia Satpol PP Surabaya, permen dot diketahui memiliki izin edar dengan nomor ML.224409003077 yang berlaku hingga 18 Agustus 2018. Permen ini diproduksi Xiamen Yang Wan Foodstuff, Cina. Di Indonesia, mamin ini diimpor PT Petrona Inti Chermindo yang dalam kemasannya tercantum berlokasi di Jakarta Barat. Di negeri asalnya, permen ini dikenal dengan merek Penguin Brand. Karena lokasi importir di Jakarta, Pelabuhan Tanjung Priok jadi pintu masuk ke Indonesia dalam bentuk curah sebelum dikemas ulang.

Selain di Surabaya, razia oleh tim gabungan terkait peredaran permen dot juga dilakukan di berbagai daerah di Jawa Timur. Di Kediri, tim menyasar toko jajanan anak. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri Dian Ariyani mengatakan, petugas menemukan permen dot, namun produksi rumahan.

“Ini terlihat dari  izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan tidak ada izin dari BPOM,” katanya. Pihaknya akan menindaklanjuti temuan permen yang diduga mengadung zat berbahaya tersebut, termasuk berkoordinasi dengan BPOM.

Sementara itu, Kepala BNN Kota Kediri, AKBP Lilik Dewi Indarwati menambahkan, pihaknya juga akan berupaya untuk menekan peredaran segala zat berbahaya, terutama narkoba. “Ini baru dugaan ada kandungan narkoba. Kami juga sudah mengimbau agar pedagang tidak lagi menjual,” katanya.

Lilik  mengatakan hingga kini BNN Kota Kediri juga masih menunggu hasil uji laboratorium terkait dengan dugaan permen dot yang ada kandungan narkoba tersebut. Di toko tersebut, petugas mendapati ada sekitar lima bungkus permen berbentuk dot. Permen itu semua dibeli oleh petugas, sebagai upaya mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here