Sudah Tepat Presiden Memilih Saldi Isra

1
589
Ketua Panitia Seleksi Hakim MK Harjono (tengah) bersama anggota Pansel Ningrum Natasya Sirait (kiri), Sukma Violetta (kedua kiri), Maruarar Siahaan (kedua kanan), dan Todung Mulya Lubis memberi keterangan pers seusai bertemu presiden, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (3/4). Dari hasil seleksi pada minggu lalu, Pansel menyerahkan kepada presiden tiga nama calon hakim MK dengan peringkat tertinggi, yaitu Saldi Isra, Bernard Tanya, dan Wicipto Setiadi. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/kye/17.

Nusantara.news, Jakarta – Setelah tiga nama diajukan oleh Panitia Seleksil Hakim Mahkamah Konstitusi (Pansel Hakim MK) ke Presiden, akhirnya Guru Besar Universitas Andalas, Sumatera Barat, Salidi Isra terpilih menggantikan posisi  Patrialis Akbar yang kini menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kabar terpilihnya Saldi Isra itu datang dari Ketua Pansel Hakim MK Harjono saat yang bersangkutan mendapatkan surat undangan pelantikan Hakim MK dari Istana Presiden, Minggu (8/4) kemarin. Harjono sendiri mendapatkan kepastian dari Istana yang akan dilantik di Istana Presiden pada Selasa (11/4) besok adalah Saldi Isra.

Harjono pun menyambut baik kabar terpilihnya Saldi Isra. Dia pun membeberkan tiga alasan utama, kenapa Presiden Joko Widodo memilih Saldi yang kelahiran, Paninggahan, Solok, Sumatera Barat, 20 Agustus 1968 itu.

Pertama, beber Harjono, karena pakar hukum Tata Negara itu paling aktif dalam dunia hukum dibandingkan dua pesaingnya. Belum lama ini Saldi memang menjadi Pansel untuk Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga sedang berproses.

Kedua, tambah Harjono, terpilihnya Saldi Isra karena memang adanya persoalan integritas di tubuh hakim MK. Sebab setelah Ketua MK Akil Mochtar tertangkap KPK ada keinginan kuat agar peristiwa serupa tidak berulang. Eh, ternyata Hakim MK Patrialis Akbar juga tertangkap KPK, sudah itu, terakhir kali ada berkas permohonan sengketa Pilkada yang hilang dicuri.

Dan ketiga, tandas Harjono, Saldi Isra sendiri memang menduduki ranking tertinggi dalam penilaian Pansel Hakim MK, mengalahkan dua nama lainnya yang dikirimkan ke Presiden. “Ada sejumlah aspek yang dinilai Pansel, meliputi aspek integritas, penguasaan Undang-Undang Dasar, termasuk aspek kesehatan. Setelah aspek penilaian itu dikombinasi, Pak Saldi memang yang terbaik,”ujar Harjono.

Mantan Ketua MK Mahfud MD juga menyambut positif pengangkatan Saldi Isra. “Meskipun usianya masih muda, tapi integritas dan kompetensinya sangat mumpuni,”puji Mahfud MD lewat akun twitter yang dikelolanya.

Satu hal lagi kelebihan Saldi Isra, lanjut Mahfud, ada kebiasaan mengikuti begitu saja pandangan hukum Ketua MK atau yang dianggap senior. Tapi Saldi Isra selama ini tidak canggung mengemukakan pendapat yang berbeda dan mengemukakan argument-argumentasinya secara jernih. “Sudah tepat kiranya Pak Presiden Joko Widodo memilih Saldi Isra,”ujarnya.

“Sekarang ada kecenderungan pengadilan dihegemoni oleh pimpinan. Kalau pimpinan senior memutuskan yang lain segan. Saldi tidak, karena hukum ya hukum, kebenaran ya kebenaran,”puji Mahfud.

Dengan terpilihnya Saldi, harap Mahfud, citra MK yang belakangan ini terpuruk oleh kasus-kasus kebocoran dokumen dan suap hakim dapat dipulihkan. Mahfud pun menilai, sejak awal Saldi memang kandidat yang diunggulkan. Dirinya pun, beber Mahfud, termasuk orang yang mendorong agar Saldi Isra bersedia mengikuti seleksi calon hakim MK.

Syarat utama hakim MK, tandas Mahfud, adalah integritas moral. “Kalau keilmuan bisa banyak yang sama, tapi soal kejujuran dan moral hukum, kapasitas keilmuan dan pengalaman itu sudah cukup, meskipun Saldi masih muda,” terang Mahfud.

Pakar Hukum Tata Negara lainnya, Irmanputra Sidin, menyambut baik terpilihnya Saldi Isra. Akademisi dari Universitas Hasanuddin Makassar ini menyebut Saldi Isra turut mewarnai proses konstitusi ketatanegaran sejak reformasi.

Irman mengingatkan, banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh MK. Namun dengan kepakaran dan integritas moral yang dimiliki Saldi Isra, Irman optimis MK akan segera berbenah ke arah yang lebih baik.

“Saya hanya berpesan kepada beliau, menunda keadilan sama saja menolak keadilan itu sendiri. Karena kepastian hukum yang sesungguhnya dicari para pencari keadilan,” pungkasnya.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here