Sudahlah, Menyerah Saja Mengungkap Kasus Novel

0
194

KEDENGARANNYA getir memang: Menyerah sajalah mengungkap kasus Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu disiram air keras oleh orang tak dikenal seusai shalat Subuh 11 April 2017. Polri menyelidiki kasus ini, tapi tak pernah ada titik terang. Jagat negara ini heboh. Mulai dari rakyat biasa sampai presiden ikut bicara. "Saya akan terus kejar Kapolri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapapun pelakunya," kata Presiden Jokowi, di Istana Negara, 20 Februari 2018.

Tapi, ya, begitulah. Kasus ini terus diselimuti kabut gelap. Komnas HAM pun turun tangan memantau. Hasilnya antara lain merekomendasikan kepada Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian untuk segera membentuk tim gabungan.

Lalu Kapolri menerbitkan Surat Tugas Kapolri Nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019 guna membentuk Tim Pencari Fakta dimaksud. Ada 65 orang lintas profesi yang bergabung. Mereka bekerja mulai 8 Januari 2019 sampai 7 Juli 2019.

Tim ini, dari segi personil, tak main-main. Penanggungjawab tim adalah Kapolri Tito Karnavian sendiri, wakil penangggungjawab Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto. Ketua tim dipegang Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Pol Idham Azis, dan wakil ketua tim dijabat oleh Kepala Biro Pembinaan Operasi Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nico Afinta. Ada pula tim asistensi yang terdiri dari para pejabat tinggi Polri, seperti Irwasum Komjen Putut Eko Bayu Seno, Kabareskrim (waktu itu) Komjen Arief Sulistyanto, dan Kadiv Propam Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Selain itu, ada tujuh pakar yang dilibatkan. Misalnya Ahli Peneliti Utama LIPI Hermawan Sulistyo, mantan Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adji, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, Komisioner Komnas HAM Nur Kholis dan mantan Komisioner Komnas HAM Ifdhal Kasim.

Ini memang tim Los Galacticos, meminjam julukan klub bertabur bintang Real Madrid beberapa tahun lalu. Jadi, wajar kalau publik sangat berharap tim ini bisa membongkar kasus Novel.

Tapi, pekerjaan selama enam bulan itu juga tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan publik. TPF justru merekomendasikan kepada Kapolri agar membentuk tim spesifik untuk mengejar pelaku. "TPF merekomendasikan pendalaman fakta satu orang tidak dikenal yang datang ke rumah korban pada 5 April 2017, dan dua orang tidak dikenal yang berada dekat rumah korban dan Masjid Al Ihsan pada 10 April 2017, dengan membentuk tim spesifik," kata Nur Kholis, Juru Bicara TPF.

Jadi, apa lagi yang dapat dikatakan tentang perkara ini. Penyelidikan oleh Polri sudah dilakukan. Hasilnya masih nihil. Investigasi oleh TPF pun sudah. Hasilnya sama.

Kita percaya, sampai detik ini, polisi memang masih akan terus melakukan investigasi–sebab belum ada pernyataan menghentikan penyelidikan. Kita juga percaya, anggota-anggota Polri merasa tertampar harga dirinya karena tidak mampu membongkar kasus kriminalitas yang sebetulnya sederhana ini. Padahal, selama ini kasus-kasus besar yang jauh lebih rumit pun mampu mereka ungkap dengan sempurna dalam tempo singkat. Sebutlah kasus-kasus terorisme, narkoba atau kejahatan terorganisasi lainnya. Prestasi Polri selama ini telah menorehkan reputasi cemerlang. Untuk ukuran reputasi Polri seperti itu, kasus Novel ini kecil.

Tapi, bukankah justru batu kecil yang bisa orang tertarung? Sukses di kasus besar, toh belum tentu berhasil di kasus kecil. Manusiawi belaka sebetulnya.

Lain halnya kalau kasus ini memang tidak kecil. Bukan dalam arti tindak kejahatannya, tetapi tentang orang yang terlibat di dalamnya atau (kalau memang ada) auctor intellectualis di belakangnya. Novel misalnya berkali-kali menyebutkan ada jenderal yang terlibat. Entah benar entah tidak. Tapi kalau benar, jangan-jangan itulah yang membuat kasus ini menjadi tidak lagi kecil.

Kita teringat ketika Kapolri dipanggil Presiden Jokowi ke Istana untuk melaporkan perkembangan kasus Novel, 31 Juli 2017. Seusai menghadap Presiden, Tito berbicara kepada wartawan. “Selama ini tim Polri sudah bekerja. Oke, kalau mungkin dianggap kurang kredibel, saya kira tim dari KPK sangat dipercaya publik,” kata Tito, dengan raut muka tak sesegar biasanya. Dia meminta KPK ikut serta mendampingi Polri.

Bisa jadi itu bukan penyataan bahwa Polri tak mampu secara teknis mengungkap perkara ini.  Tapi pengakuan Kapolri bahwa ada tembok yang amat tebal dan tinggi yang sulit ditembus anak buahnya dalam kasus tersebut. Itu sebabnya dia mengajak KPK, agar menjadi saksi betapa perkasanya tembok itu.

Kalau benar ada, ini tak main-main untuk negara hukum. Ketika penegak hukum merasa tak berdaya karena faktor-faktor di luar dirinya, keberlangsungan negara hukum menghadapi ancaman serius.

Apa pun kemungkinannya, apa salahnya Polri melempar handuk. Polisi mana pun di dunia pernah dipermalukan oleh kasus-kasus dark number yang tak terungkap, atau baru terbongkar setelah sekian lama. Tapi itu lumrah dalam kerja kepolisian.

Di Amerika misalnya. Pada 21 Juli 1957, dua polisi muda dari El Segundo Police Departement, Milton G. Curtin dan Richard A. Phillips, ditembak mati oleh orang tak dikenal di sebuah persimpangan jalan. Hampir semua reserse terbaik dikerahkan mencari penembaknya. Tapi puluhan tahun kasus ini tak terungkap. Namun penyelidikan tidak pernah berhenti. Sampai akhirnya sang pembunuh, Gerald Fiten Mason, ditangkap tahun 2003, atau 46 tahun setelah kejadian.

Jadi, ketimbang publik berharap-harap, atau Polri terjebak pada banyak janji, angkat tangan saja dulu. Sejauh Polri tidak mempeti-eskan kasusnya atau hanya berpura-pura menyelidiki, ya, terbuka sajalah kepada publik untuk rehat sejenak. Siapa tahu mukjizat seperti di El Segundo itu terjadi di sini. Sebab melihat pengalaman sepanjang kasus ini, mungkin memang hanya mukjizat yang bisa memecahkan misteri Novel ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here