Wabah Antraks Mengancam Jawa Timur

Sulitnya Lepas dari Ketergantungan Asing untuk Perkuat Ketahanan Pangan

0
108

Nusantara.news, Surabaya – Beberapa pekan terakhir Jawa Timur digemparkan kabar serangan antraks. Terakhir, dugaan serangan yang disebabkan bakteri bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas, dilaporkan terjadi di Trenggalek. Laporan ini diperkuat tanda-tanda sapi suspect maupun manusia yang terjangkit antraks.

Dinas Pertanian dan Pangan setempat bahkan sudah sterilisasi kawasan sekitar ditemukannya wabah, hingga radius 9 kilometer. “Indikasi awalnya sudah mengarah ke antraks, dan kami sudah berlakukan sterilisasi dengan menetapkan zona merah, kuning dan hijau hingga radius sembilan kilometer,” kata Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek Budi Satriawan, Senin (20/2/2017).

Dikatakan Budi, laporan awal diterima pihaknya 17 Februari 2017. Sapi milik Thoimin, warga Desa Ngepeh, Kecamatan Tugu, diduga terpapar antraks dan sudah menular ke manusia sejak dua pekan sebelumnya. Temuan kasus ini sudah sudah dilaporkan ke Dinas Peternakan Provinsi Jatim, Balai Besar Veteriner di Wates Yogyakarta serta Kementerian Pertanian.

Kejadian ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan Indonesia. Sebab, jika ingin memutus habis mata rantai penyakit antraks, semua ternak herbivora di radius 3 km dari temuan awal harus dimusnahkan. Tentu saja ini menjadi kerugian besar bagi rakyat. Di sisi lain, laporan dugaan wabah antraks sebenarnya tidak hanya terjadi di Trenggalek saja.

Melalui situs iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional yang terintegrasi), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia, laporan sebaran penyakit hewan menyebar dari ujung Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.

Masuk Kategori Daerah Berisiko Tinggi

Di Jawa Timur, hingga Februari 2017 sudah 2 daerah yang terindikasi antraks, yakni di Tulungagung dan terakhir Trenggalek. Rentang waktunya juga tak berselang lama setelah tersiar serangan serupa di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Namun Dinas Peternakan Tulungagung mengklarifikasi penyebab kematian sejumlah ternak sapi bukan akibat virus antraks melainkan perut kembung kendati gejala klinisnya sama.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur sendiri tetap menindaklanjuti kekhawatiran itu. Di antaranya dengan memperketat lalu lintas ternak antar-provinsi. Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Jatim Benny Sampir Wanto mengatakan ada 11 pos pemeriksaan hewan (check point) di wilayah perbatasan. “Lalu lintas ternak antar-provinsi harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan hewan,” katanya saat mendampingi Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Rohayati beberapa waktu lalu.

Namun langkah terpenting saat ini adalah memberi edukasi kepada peternak dan masyarakat. Sebab, untuk mengurangi kerugian terkadang masyarakat memotong sapi suspect untuk dikonsumsi atau diperjualbelikan. Langkah ini menjadi celah tertularnya manusia.

“Melakukan koordinasi dengan instansi terkait bila ada indikasi (suspect) penyakit antraks, baik hewan atau manusia, dan yang harus diperhatikan adalah pemotongan ternak wajib dilakukan di rumah potong hewan (RPH),” katanya.

Di samping itu, pencegahan dan pengendalian penyakit antraks membutuhkan obat-obatan, vaksin, desinfectant dan sarana pendukung lainnya. Hanya, lanjut dia, ketersediaan bahan-bahan masih belum mencukupi dengan jumlah hewan rentan yang ada sehingga Jawa Timur memiliki risiko tinggi.

Kendati demikian, menurut dia masih ada kendala untuk mencegah antraks masuk karena secara geografis berisiko tinggi terhadap penyakit antraks karena berbatasan dengan wilayah endemis antraks. “Jatim juga sebagai jalur transportasi ternak dari Nusa Tenggara Timur menuju Jakarta dan Jawa Barat. Itu yang menyebabkan peluang antraks masuk,” bebernya.

Pada 2016, Jawa timur menyiapkan anggaran sebesar Rp2,5 miliar untuk mengantisipasi dan mencegah munculnya penyakit antraks yang mengancam seluruh hewan ternak di wilayah setempat. Gubernur Jatim Soekarwo juga menurunkan tim untuk mendata serta memeriksa seluruh ternak, sekaligus langkah antisipasi karena saat itu sempat ada kejadian di Pacitan di mana seekor sapi diketahui mati dengan gejala klinis antraks. Dugaan itu merupakan laporan pertama yang diterima sejak 1980.

Kementan Gandeng Australia

Keterbatasan dana dan teknologi ini, disadari atau tidak, juga menjadi celah masuk bagi asing untuk turut terlibat dalam persoalan serangan antraks di Indonesia. Yakni dengan menggandeng Australia dalam konteks ‘One Health’ yang melibatkan kerjasama lintas sektoral dan lintas disiplin ilmu.

Kendati berlabel program kemitraan antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia dengan Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air (DAWR) Australia, namun langkah ini memperkuat asumsi jika Indonesai masih tergantung pada asing dalam mengatasi persoalan ketahanan pangan dalam negeri.

Peta Sebaran Penyakit Hewan (Sumber: ishiknas)

Direktur Jenderal (Dirjen) PKH, Ketut Diarmita mengatakan kerjasama ini guna untuk penguatan pelayanan veteriner di Indonesia, terutama untuk pencegahan, deteksi dan pengendalian penyakit-penyakit hewan menular prioritas dan yang baru muncul.

“Anggaran kerjasama didanai Pemerintah Australia sebesar AUD 6,9 juta dalam kurun waktu tiga tahun yakni 2015 hingga 2018,” terangnya kepada wartawan (17/2/2017).

Ia menjelaskan fokus program Australia–Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIP-EID) tahap 2 ini merupakan kelanjutan AIP-EID Tahap I yang telah dilaksanakan pada periode 2010-2014 untuk mendukung terbangunnya kapasitas dalam mendeteksi dan respons terhadap penyakit-penyakit menular.

Program AIPEID tahap 2 mengambil pendekatan pembangunan berkelanjutan untuk mendukung pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit-penyakit hewan menular prioritas dan yang baru muncul. “Sasaran ini selaras dengan prioritas pemerintah Republik Indonesia untuk mengendalikan penyakit zoonosis, serta meningkatkan produksi ternak domestik untuk memastikan keamanan pangan dan menstabilkan harga pasar untuk produk ternak,” ujar Ketut.

Ketut mengakui, berbagai laporan indikasi antraks yang masuk ke Kementan akhir-akhir ini, sangat berpotensi menghancurkan dunia peternakan. Oleh karena itu, pada program kemitraan Australia-Indonesia AIPEID 2 difokuskan pada 3 komponen yaitu, pertama, persiapan dan Kesiapsiagaan Darurat. Kedua, sistem Informasi Kesehatan Hewan.

Terakhir, penguatan Kapasitas Kepemimpinan dan Manajemen dapat mencegah munculnya penyakit-penyakit baru yang berpotensi menjadi ancaman ekonomi dan ancaman sosial di Indonesia. “Jika terjadi outbreak suatu penyakit di wilayah di Indonesia, tentunya ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah,” ungkap Ketut. []

Gejala Klinis Antraks

  1. Pada manusia tertular suspect antraks, ada luka seperti tergores dan sulit sembuh.
  2. Luka itu lantas membengkak seperti bisul.
  3. Penularan zoonosis (dari hewan ke manusia), terjadi akibat mengkonsumsi atau memegang organ vital hewan yang terjangkit antraks.
  4. Pada ternak sapi, mata memerah dan demam panas tinggi ayng diikuti kematian.
  5. Darah ternak menghitam.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here