Sumpah Pemuda

0
231

APAKAH yang dapat dipelajari dari sejarah? Tak ada. Kecuali kenyataan bahwa orang sebenarnya tak pernah belajar dari sejarah.

Sumpah Pemuda akan diperingati besok. Dan sampai kapan pun momen itu masih akan tetap diperingati sejauh harapan pada perubahan masih ada. Selama masyarakat menginginkan adanya perubahan, selama itu pula harapan digantungkan pada pemuda. Pemuda adalah pelaku dan bagian dari perubahan dalam masyarakat. Usia muda adalah fase untuk memberi makna pada eksistensi dirinya. Dalam fase itu idealisme memuncak, dan kompromi dengan kebatilan adalah perbuatan hina.

Pemuda adalah anak zamannya yang bergerak dengan semangat zamannya sendiri. Ketika Sumpah Pemuda 1928 dicetuskan, semangat zaman ketika itu adalah mulai mekarnya nasionalisme dan antipenjajahan. Dan semangat itu mereka lahirkan dalam tiga kalimat sakti yang sangat padat.

Dalam hal perumusan kalimat ini, generasi zaman apa pun harus menyatakan salut. Sebab, tiga masalah besar hanya dirumuskan dalam tiga kalimat sangat singkat. Dan hasilnya, sejak saat itu semangat nasionalisme bersemi di hati seluruh rakyat Hindia Belanda.

Ketika nasionalisme mulai semarak, zeitgeist-pun berganti: Kemerdekaan. Majulah sejumlah pemuda memperjuangkan semangat zaman baru itu. Dan buahnya, 17 Agustus 1945, negeri ini merdeka setelah ratusan tahun dijajah.

Dua dasawarsa berjalan, lahir kembali generasi baru, Angkatan 66,  dengan semangat baru: Tritura, tiga tuntutan rakyat. Puncaknya, Orde Lama jatuh, dan Orde Baru tumbuh.

Tiga puluh tahun kemudian, kembali terjadi gerakan kaum muda. Semangatnya demokratisasi. Maka pecahlah peristiwa Mei 1997. Orde Baru jatuh setelah berkuasa 32 tahun. Dan, Indonesia memasuki babak baru: Babak Reformasi.

Di sini terlihat sejarah yang selalu berulang. Siklus 20 tahunan itu mungkin fenomena biologis semata. Tetapi, siklus yang mendasar adalah kesalahan selalu terulang dalam bentuk yang sama atau berbeda. Pemuda ketika mereka bergerak memang bagian dari perubahan. Tetapi, ketika perubahan terjadi, dan secara biologis mereka tak muda lagi, mereka menjadi bagian dari kemapanan. Dan kemapanan senantiasa bermusuhan dengan perubahan.

Generasi 45, yang merebut kemerdekaan, adalah generasi penuh idealisme. Ketika Indonesia merdeka, dan mereka masuk ke dalam struktur negara baru itu, mereka melakukan hal yang dulu mereka ganyang. Begitu juga Angkatan 66. Tatkala mengganyang Orde Lama, mereka begitu herois. Tetapi saat mereka masuk ke dalam bagian Orde Baru, kesalahan lama mereka ulang. Mereka terlibat dalam praktek korupsi, penindasan hak asasi, dan sebagainya.

Demikian pula dengan orang-orang yang tempo hari menjatuhkan Soeharto. Kalau mereka terserap oleh struktur kemapanan baru, disengaja atau tidak, mereka tercebur dalam kubangan yang tadinya hendak mereka timbun dengan reformasi. Pemberantasan KKN adalah semboyan reformasi. Namun, sekarang mereka terlibat dalam KKN-KKN baru yang justru lebih massif dan telanjang.

Begitulah seterusnya. Apakah ini alamiah atau tidak, yang jelas demikianlah siklusnya.

Di situlah kita perlu menumbuhkan kritisme kaum muda. Sebab, merekalah satu-satunya tumpuan harapan bagi perbaikan –kendati pada akhirnya nanti siklus tadi akan kembali terulang. Para bekas orang muda yang pernah jadi bagian dari perubahan, dan kini menjadi bagian dari kelancungan kemapanan, perlu memberi ruang pada kritisisme itu.

Jasa terbesar kaum muda adalah mendobrak perilaku lancung kemapanan lama. Dan dosa terbesar mereka bukanlah ketika melakukan kelancungan yang sama ketika menjadi bagian kemapanan baru, tetapi ketika mereka tidak memberi ruang tumbuh bagi kritisisme generasi dari zaman baru.

Entah sampai kapan siklus ini akan terus berulang. Dan pada setiap zaman kaum muda selalu ditantang untuk menjawab pertanyaan: Apakah perubahan yang mereka lakukan akan selalu ditelan siklus ini.

Sebab, sebenarnya kita tak pernah belajar dari sejarah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here