Surabaya Berpotensi Diguncang Gempa 6,5 SR

0
3030
Kota Surabaya berpotensi diguncang gempa berkekuatan 6,5 skala richter.

Nusantara.news, Surabaya – Kota Surabaya dihantui gempa. Potensi gempa di Surabaya ini bukan berdasarkan isu maupun pengalaman sejarah, melainkan dari hasil riset. Hal itu disampaikan Pakar Kebumian dan Bencana dari Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) Dr Amien Widodo, Rabu (8/11/2017).

Menurutnya, Surabaya saat ini dilewati dua sesar aktif atau patahan yang bisa menimbulkan potensi gempa darat. Jika terjadi gempa, skalanya mencapai 6,5 SR.

“Ada dua sesar, yang pertama sesar Surabaya yang patahannya mulai dari kawasan Keputih hingga Cerme. Sesar kedua disebut sesar Waru yang patahannya mulai dari Rungkut hingga Jombang. Kalau menurut buku yang diterbitkan, kekuatannya bisa mencapai 6,5 SR,” jelas Amien.

Dengan kekuatan 6,5 SR, maka jika Surabaya diguncang gempa, diprediksi kekuatan gempa darat bisa mengakibatkan kerusakan besar terutama pada gedung-gedung bertingkat.

Amien pun mengimbau Pemerintah Kota Surabaya dan Pemprov Jatim segera melakukan penelitian tentang keberadaan kedua sesar tersebut untuk meminimalisir kerusakan serta korban jika gempa terjadi.

“Mestinya kalau ada pemberitahuan harus dilakukan penelitian secara detil untuk mengetahui ada atau tidak,” ungkap Amien yang juga Ketua Kelompok Kajian Bencana ITS ini.

Dua sesar atau patahan ini sebelumnya pernah diterbitkan awal September 2017 oleh Pusat Gempa Nasional di bawah Kementerian PUPR. Pemberitahuan tersebut juga tidak main-main, karena gempa bawah laut dikabarkan terjadi di sebelah utara Bali atau timur laut Surabaya. Gempa itu diperkirakan akan terjadi di tengah meningkatnya aktivitas seismik Gunung Agung.

Dua patahan melewati Surabaya yang berpotensi gempa.

Dikutip dari laman Reuters, Kamis 21 September 2017, gempa berkekuatan 5,7 Skala Richter itu tercatat akan terjadi di 125 kilometer timur laut, Surabaya, pada Kamis, 21 September 2017 malam, atau Kamis pagi waktu AS. Gempa tersebut juga tercatat oleh US Geological Survey (USGS).

Gempa ini terjadi setelah selama sepekan, wilayah di sekitar Bali terguncang, karena adanya gerakan pergeseran lahan terkait aktivitas Gunung Agung.

Aktivitas seismik di sekitar Gunung Agung terus meningkat. Kemarin, pihak pemantau gunung berapi mencatat terjadi 400 tremor di wilayah sekitar Gunung Agung.

Sementara pada tahun lalu, Tim Gempa Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah melakukan penelitian terkait gempa yang mengguncang Kota Surabaya. Hasilnya, ITB menyimpulkan adanya sesar aktif yang membelah Kota Surabaya. Sesar aktif yang dikenal sebagai Sesar Kendeng ini diperkirakan bisa menimbulkan gempa darat dengan skala lebih dari 6 Skala Richter. Sama dengan kajian tim ITS.

Keaktifan Sesar Kendeng ini  berdasarkan hasil pengukuran deformasi permukaan tanah di beberapa tempat di Jawa Timur dan di Nusa Tenggara Timur melalui hasil pengukuran GPS geodetik, tercatat bergerak 5 mm per tahun. Data lain yang mendukung sesar ini, yakni kegempaan di Klangon Saradan yang hampir terjadi tiap bulan dengan skala 3 – 4 dan gempa bumi pada tahun 1836 mengguncang Ploso Jombang dengan skala intensitas VII-VIII MMI (Mercally Modified Intensity).

Selain itu, gempa yang terjadi di Pasuruan tahun 1889 (VI MMI), Rembang-Surabaya (VII MMI), dan gempa dangkal yang terjadi pada 10 September 2007. Meski skalanya relatif kecil, sekitar 4,9 SR, gempa tersebut merontokkan 234 rumah di tiga kecamatan, yakni Asembagus, Banyuputih, dan Jangkar Kabupaten Situbondo.

Kepala Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim LPPM ITS, saat itu mengatakan, sesar aktif di daratan umumnya sangat merusak. Hal ini dikarenakan besarnya guncangan merupakan fungsi kekuatan sumber gempa dan jarak sumber gempa. “Walau kekuatan sumber gempanya kecil, tapi kalau letaknya yang dekat maka guncangannya akan besar,” katanya.

Sebaliknya, walaupun kekuatan sumber gempanya besar, tapi kalau jaraknya jauh sekali maka guncangan yang dirasakan kecil. Sebab, proses penjalaran gempa sewaktu menempuh jarak tersebut secara umum akan membuat (amplitudo) gelombang gempa menjadi semakin kecil.

Menurutnya, keberadaan patahan aktif merupakan salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan infrastruktur. Hal ini menjadi kesempatan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengkaji respon terhadap gempa di sepanjang Sesar Kendeng secara sistematik dan terintegrasi.

Kajian tersebut paling tidak meliputi asesmen bangunan, asesmen tanah dan asesmen seismologi gempa serta keberadaan zona Sesar Kendeng menjadi sangat penting. Apalagi dari penelitian sebelumnya bahwa di selatan Jawa Timur ada seismik gap yang berpotensi gempa sebesar 8,5 SR. “Oleh sebab itu, ITS berinisiatif membentuk konsorsium kelompok riset gempa untuk menindaklanjuti penelitian ini,” ungkapnya.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, Kota Surabaya berdiri di daerah aluvium. Kondisi itu tidak hanya berbahaya ketika ada gempa-gempa di dekatnya. Melainkan gempa-gempa jauh akibat subtitusi lempeng di samudera Hindia juga dapat berpengaruh pada keretakan di Surabaya. “Karena Surabaya sedimennya tebal, tanah yang lunak, itu bisa terjadi amplifikasi, pergeseran getaran. Tapi selama ini belum pernah terjadi,” terang Daryono.

Road map pengaruh kondisi tanah bila terjadinya gempa.

Selama ini Kota Surabaya memang tidak pernah diguncang gempa. Namun dengan adanya pemberitahuan tersebut, tak pelak membuat isu-isu liar berkembang dengan cepat yang menyebutkan bahwa Surabaya akan diguncang gempa bumi. Isu ini juga membuat masyarakat Surabaya ketakutan dan was-was.

Namun demikian, Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas II Tretes-Pasuruan menanggapi gempa Surabaya tersebut dengan dingin.

Dari siaran pers yang ditandatangani Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kla II Tretes-Pasuruan, Suwardi, tertanggal 9 November 2017, yang diterima Nusantara.News, Kamis (9/11/2017), BMKG menyebutkan, bahwa wilayah Surabaya memang dilalui oleh sesar Kendeng dan dua sesar baru (berdasar hasil penelitian Pusat Study Gempa Nasional dan KemenPUPR), namun sampai saat ini BMKG selaku institusi yang bertugas memantau gempa bumi belum merekam adanya aktivitas seismik pada lokasi sesar tersebut

BMKG tidak membantah wilayah Surabaya sebagai wilayah yang aktif gempa bumi memiliki potensi terjadi gempa bumi baik akibat sesar maupun subduksi lempeng yang dapat terjadi kapan saja dalam berbagai kekuatan (magnitudo). Namun BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi gempa bumi.

“Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat (kapan, di mana, dan berapa kekuatannya). Karena itu masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu yang beredar tersebut. Apabila ingin mengetahui lebih jelas dapat menghubungi Stasiun Geofisika Tretes (0343 636685/08113646879),” tulis Suwardi. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here