Suramadu, Jembatan Jokowi Merebut Madura?

0
112

Nusantara.news, Surabaya – Penggratisan tarif tol jembatan Suramadu tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Jokowi untuk Pilpres 2019. Beberapa pihak menyebut, alasan Jokowi menggratiskan jembatan Suramadu karena faktor ‘rasa keadilan’ tentu ditanggapi miring.

Suramadu gratis, tentu Jokowi ada maunya, yakni ingin merebut suara warga Madura. Apalagi sebelumnya muncul gerakan ‘Haram Memilih Jokowi’ di Madura sejak mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD di-PHP (pemberi harapan palsu) karena gagal menjadi Cawapres. Ini semakin menegaskan bahwa suara warga Madura belum terlalu signifikan kepada petahana.

Baca juga: Di Madura, Muncul Gerakan ‘Haram Pilih Jokowi’

Yang paling nyata, seorang Ma’ruf Amin harus mengklaim sebagai keturunan Madura saat bertemu ribuan tokoh masyarakat dan warga Bangkalan, Madura, Jumat (19/10/2018) lalu, di Pesantren Hidayatulloh Al-Muhajirin, Arosbaya, Bangkalan.

Klaim Ma’ruf ke Madura bisa dibilang bagian dari strategi untuk menggerus pendukung Prabowo-Sandi. Sebab banyak hasil-hasil survei yang menyatakan suara Jokowi-Ma’ruf di Madura masih kalah dari Prabowo-Sandi. Hal ini terbukti pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo menang telak di Madura atas Jokowi.

Keunggulan perolehan suara Prabowo sangat signifikan. Seperti di Kabupaten Bangkalan, Prabowo-Hatta meraup 644.608 suara dan Jokowi-JK dapat 149.258 suara. Untuk Kabupaten Sampang Prabowo-Hatta raih 474.752 suara, sementara Jokowi-JK dapat 162.785 suara.

Di Kabupaten Pamekasan, Prabowo-Hatta dapat 378.652 suara dan Jokowi-JK meraih 135.178 suara. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Sumenep. Prabowo-Hatta dapat 332.956 suara dan Jokowi-JK raih 245.410 suara.

Bila ditotal perolehan suara Prabowo-Hatta se-Madura sebanyak 830. 968, sementara Jokowi-JK berjumlah 692.631 suara. Berarti Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK.

Baca juga: Narasi Besar Prabowo-Sandi di Jawa Timur

Maka, sangat wajar jika Jokowi dan Ma’ruf harus was-was dengan hal ini. Maka, berbagai cara pun dipakai, termasuk membuat kebijakan menggratiskan jembatan Suramadu, yang tentu saja menguntungkan petahana.

Diungkapkan Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria, pembebasan tarif jembatan Suramadu merupakan upaya Jokowi merebut suara pendukung Prabowo Subianto di Madura. “Itu juga salah faktor. Tentu Tim (Jokowi) punya perhitungan. Dulu Pak Prabowo menang di Madura, sekarang supaya kalah bagaimana (caranya),” kata Juru Kampanye Prabowo tersebut.

Menurut Riza, jika kebijakan itu bukan untuk pencitraan dan meraih simpati masyarakat sedianya diterbitkan sejak lama, bukan justru muncul jelang pemilu. “(Kebijakan tol gratis) itu sesuatu yang baik, sekalipun saya anggap bagian pencitraan, mau pilpres. Kenapa enggak dari dulu mau digratiskan. Sekarang masuk tahun politik,” kata dia.

Senada, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur Hadi Dediansyah menyebut, kebijakan Jokowi menggratiskan Suramadu hanyalah strategi pencitraan agar mendapat simpati warga Madura. “Seharusnya kalau serius ya dari dulu digratiskan. Kenapa baru hari ini, menjelang lengser dan menjelang Pilpres,” Hadi mempertanyakan.

Menurut Hadi, meski Jokowi sudah meresmikan pembebasan tarif Suramadu, dipastikan tidak berpengaruh pada penolakan warga Madura terhadap kepemimpinan Jokowi. Pasalnya warga dan ulama Madura tetap pada pendiriannya untuk memilih Prabowo-Sandi di Pilpres mendatang.

“Jadi gratisnya tol Suramadu tidak berpengaruh pada pilihan warga Madura. Karena warga Madura sudah sangat cerdas. Ini hanya mencari sensasi dan pengampunan dosa selama 4 tahun berjalan,” sindir Ketua Tim Media Centre Badan Pemenangan Provinsi Prabowo-Sandi Jatim ini.

Apa boleh buat, jembatan Suramadu sudah resmi digratiskan. Apakah ini kebijakan ini murni dibuat atas nama kebaikan rakyat atau sekedar mencari simpati rakyat, khususnya Madura. Sekiranya semua orang sudah mahfum pengalaman Jokowi selama berkuasa, termasuk warga Madura dan masyarakat Jawa Timur. Saat ini yang dirasakan rakyat adalah listrik mahal, BBM mahal, pendidikan mahal, sembako mahal, lapangan kerja sulit, pajak mencekik dan korupsi meningkat. Sudahkah itu diselesaikan Jokowi?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here