Surat Suara Tercoblos di Malaysia, Siapa Bermain?

0
143
Panwaslu menemukan kecurangan surat suara tercoblos Paslon 01 dan caleg Nasdem di Malaysia

Nusantara.news, Jakarta – Menjelang pencoblosan Pemilu 2019, masyarakat Indonesia diramaikan dengan penemuan surat suara yang sudah tercoblos di Selangor, Malaysia pada Kamis (11/4/2019). Pencoblosan di Malaysia memang dilaksanakan Kamis (11/4/), namun sayangnya saat prosesi pencoblosan dilaksanakan di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) resmi, ditemukan surat suara tercoblos di luar bilik suara yang sah.

Dalam video yang beredar luas di sosial media itu menayangkan penemuan belasan karung berisi surat suara yang sudah tercoblos untuk pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, dan juga caleg dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) atas nama Davin Kirana dan Achmad.

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memastikan bahwa surat suara tercoblo tersebut adalah asli. "Dalam konfirmasi jajaran kami, PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) sudah dipastikan dan dijawab huruf tebal, dia pastikan (surat suara tercoblos itu) asli," ujar anggota Bawaslu Afifuddin, Kamis, 11 April 2019. Atas kecurangan tersebit, Bawaslu meminta KPU untuk menunda pemilu di Malaysia.

Sementara Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo mengatakan peristiwa surat suara tercoblos di Malaysia tersebut merupakan skandal besar di republik ini. Pernyataan itu diucapkan Hashim dalam acara deklarasi dukungan Aliansi Advokat Indonesia Bersatu untuk Prabowo-Sandi di Balai Kartini, Jakarta, Kamis, 11 April 2019.

"Kita menyaksikan peristiwa bersejarah hari ini, terbongkarnya skandal yang besar sekali, yang terjadi di Malaysia beberapa jam yang lalu," kata adik kandung Prabowo Subianto ini.

Buntut dari ‘kejahatan pemilu’ di Malaysia tesebut banyak suara masyarakat yang menuntut agar Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdy Kirana, dipecat dan diusut terkait kasus ini. Tuntutan itu disampaikan mengingat kecurangan pemilu di Malaysia diduga berkaitan lagsung dengan Rusdy. Sebab kertas suara yang tercoblos itu untuk caleg Nasdem atas nama Davin Kirana, yang tak lain anak dari Rusdi Kirana.

Selain itu, Dubes Rusdy dinilai melakukan keanehan terkait penyelenggaraan pemilu di Malaysia. Dia menugaskan DCM (deputy chief de mission) atau wakil duta besar sebagai anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Malaysia. Penugasan ini disebut rawan ‘conflict of interest’ (konflik kepentingan). Sebab, sulit dibantah narasi bahwa Wakil Dubes akan ‘memahami’ untuk apa dia ditugaskan di PPLN Malaysia. Angota Bawaslu, Rahmat Bagja, termasuk yang mempertanyakan penugasan DCM di PPLN Malaysia.

: Selidiki Surat Suara Tercoblos di Malaysia, KPU-Bawaslu Kirim Tim

Perlu diketahui, berdasarkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT), terdapat 2.058.191 pemilih luar negeri yang akan menggunakan suaranya di Pemilu 2019 ini. Dari 2.058.191 pemilih di luar negeri, terbanyak berada di Malaysia. Ada 985.216 WNI di Malaysia yang masuk DPT dalam Pemilu 2019 ini. Terbanyak kedua di China, 465.032 orang.

Malaysia memang daerah gemuk karena hampir separuh DPT luar negeri berada di negeri jiran ini. Bagi sebagian caleg, kompetisi menuju parlemen di Dapil Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri, dianggap ‘zona neraka’ (berat).

Sederet nama beken ikut bertarung di dapil ini dalam memperebutkan 7 kursi Senayan. Mulai dari politikus senior Hidayat Nur Wahid (PKS), politikus Masinton Pasaribu dan Eriko Satorduga (PDIP), Melani Suharli (Demokrat), istri pengusaha Hary Tanoesoedibjo, Liliana Tanaja (Perindo), putra tokoh Betawi Biem Benjamin (Gerindra), pengacara Eggi Sudjana (PAN), politikus pendatang baru Tsamara Amany (PSI), artis Puput Novel (Golkar), model Okky Asokawati (Nasdem), hingga anak dari Pemilik Lion Air yag juga Dubes Malaysia Rusdi Kirana, Davin Kirana (Nasdem).

Pada Pemilu 2014, suara terbanyak di Dapil Jakarta II diperoleh oleh Hidayat Nur Wahid (PKS) dengan jumlah suara 119.267. Sedangkan suara terkecil yang lolos ke DPR dari dapil ini diraih Okky Asokawati (saat itu maju dari PPP) sebanyak 35.727.

Berkaca pada pemilu 2014 tersebut, untuk bisa melengang ke Senayan, caleg harus mendapat angka psikologis yang kurang lebih sama (sekitar 35 – 40 ribu). Seorang caleg bisa jadi tak perlu repot-repot mengumpulkan suara dari Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat jika suara di luar negeri sudah mampu mencapai angka pskologis tersebut. Potensi untuk meraih suara itu lebih berpeluang didapatkan dari Malaysia karena DPTnya paling besar.

Memang, dibutuhkan relasi dan mesin politik yang kuat di dapil luar negeri untuk bisa melanggeng dengan mudah ke parlemen. Namun apa jadinya jika kontestasi tersebut ditempuh dengan jalan pintas lewat cara-cara curang?[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here